35. Hal yang tak terduga

132 23 2
                                        

"Apa maksudnya ini, Javas? Kenapa lo bawa gue ke mereka?!" teriak Asteria, matanya merah basah, penuh amarah dan luka yang belum sembuh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Apa maksudnya ini, Javas? Kenapa lo bawa gue ke mereka?!" teriak Asteria, matanya merah basah, penuh amarah dan luka yang belum sembuh.

Air mata yang sempat jatuh di pipinya ia usap kasar. Rindu pada sang papa memang tak pernah hilang, tapi kenangan pahit saat pria itu memilih menikah lagi justru menyeruak kembali, membuat dadanya sesak.

Asteria menatap Javas dengan penuh kekecewaan. "Lo tahu gue benci sama mereka, Jav. Tapi lo... lo malah nyeret gue buat ketemu mereka lagi," suaranya bergetar.

Javas hanya diam. Sorot matanya sulit ditebak, tapi sikapnya yang tak bergeming justru membuat amarah Asteria semakin memuncak.

"Lo jahat, Jav!" Asteria bangkit, hendak melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah, tangan Javas sudah menggenggam erat pergelangannya.

"Lo enggak boleh pergi, Bel," suara Javas rendah tapi tegas. "Lo sendiri yang bilang butuh uang buat biaya operasi Justin. Lo bisa pinjem ke bokap lo sendiri."

Asteria langsung menghempaskan genggaman itu. "Iya, gue butuh uang! Tapi gue enggak sudi pake uang dari orang yang udah bikin gue hancur!" serunya, napasnya memburu.

Javas menghela napas panjang, menahan kesal. "Abel, gue tahu lo benci sama bokap lo. Tapi lo harus lihat kenyataannya. Ini udah mentok. Justin sekarat. Kalau lo nolak, bisa aja dia enggak selamat. Atau... lo lebih pilih pinjem ke nyokapnya Justin, terus cerai sama Justin?"

Ucapan itu menusuk. Seketika Asteria terdiam. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ia cegah. Javas benar—jalan lain hampir tidak ada. Tapi hatinya masih menolak.

Dia tidak mungkin meminta bantuan pada Diana. Cintanya pada Justin terlalu besar; ia tidak sanggup kehilangan Justin hanya karena masalah uang. Namun di sisi lain, jika ia meminjam pada sang papa, ia merasa harga dirinya runtuh seketika.

Dengan suara pelan tapi getir, Asteria membalas, "Lo gampang banget ngomong. Tapi lo enggak tanya dulu sama dia... apa dia mau pinjamin duitnya ke gue?"

"Saya mau."

Suara bariton itu terdengar jelas, membuat Asteria dan Javas sontak menoleh bersamaan.

Alexander, ayah Asteria, berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya tenang, namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. Ia melangkah mendekat, menatap langsung ke arah putrinya.

"Saya mau meminjamkan uang saya," katanya dengan mantap. Lalu ia berhenti sejenak, menimbang kata-kata berikutnya. "Tapi ada syaratnya."

"Apa?" tanya Javas cepat, sementara Asteria masih terbelalak, tak percaya.

Alexander menatap putrinya tajam. "Asteria harus pulang ke rumah ini bersama suaminya. Dan satu lagi—Asteria harus mau melanjutkan bisnis keluarga."

Kalimat itu jatuh seperti petir di telinga Asteria.

Asteria terdiam cukup lama setelah mendengar syarat sang papa. Hatinya berkecamuk, antara harga diri yang hancur dan rasa cinta yang terlalu besar pada Justin. Ia ingin berteriak, ingin menolak, ingin mengatakan kalau ia tidak akan pernah kembali pada orang yang sudah menghancurkan keluarganya.

Hi, Husband!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang