Sumilir 29

41K 3.2K 278
                                        

"Masih calon."

-Areksa Mahendra-

🌾

Apa? Iya tau, lama:)

🌾

"Heh, ayo mandi. Masa jam segini masih santai aja." Ibu berkacak pinggang menatap kedua anaknya yang sedang duduk santai di depan rumah.

Sejak lepas subuhan tadi, Areksa terus berada di depan rumah bersama Aneska. Mereka berdua berbagi tugas. Areska memotong tangkai tanaman hias yang sudah layu lalu Aneska menyapunya bersama dengan daun-daun kering yang berserakan.

Baru saja kakak beradik itu duduk setelah berkerja, Ibu pun muncul dari dalam dan melihat keduanya hanya duduk di anak tangga teras. Dengan cepat, Ibu menyimpulkan bila dua orang itu sejak tadi hanya bersantai padahal bukti pekerjaan mereka ada banyak. Halaman rumah seluas itu bersih dari daun dan sampah lain, tanaman hias jauh lebih rapi, dan di sudut halaman masih ada api yang menyala untuk membakar sampah yang mereka kumpulkan tadi.

"Masih jam segini, Bu." Balas Aneska sambil memeluk Kipli yang sudah kelelahan berlari ke sana ke mari sejak tadi. "Lagian kita kerja lho! Masak nggak kedengeran suara sapu dari tadi?"

"Bukan kamu, Masmu itu!"

Areksa yang sedang mengoperasikan ponselnya pun mendongak. "Kenapa, Bu?"

"Buruan gek mandi, Le. Sek bagus nek arep jemput Nindya tuh!" [... Yang ganteng kalau mau jemput Nindya tuh!]

"Wong cuma mau ngambil ayam terus pulang ta, Bu?" Areksa beralasan. Ia jarang mandi sepagi ini kecuali ada acara khusus.

"Apa ya Nindya itu ayam? Nek nganti Bu Dewi lihat kamu lusuh, nanti nggak dikasih pergi si Nindya," omel Ibu membalas ucapan anaknya.

Aneska menahan tawanya. Akhirnya setelah sekian lama Areksa vakum diomeli, ia mulai memiliki kembali teman senasib yang akan mendapat ceramah panjang ibu lagi.

"Wis ayo berdiri, Mas." Ibu menuntun anak sulungnya berdiri. "Sana mandi. Ganti baju, jangan pakai kaos belel ini lagi." [...kaos lusuh...]

Ibu mencubit kaos yang dikenakan Areksa dengan raut wajah yang begitu jijik. Sekali Ibu mengomel, semua benda yang tadinya baik-baik saja pun bisa menjadi bersalah.

"Enggih, Bu." Areksa pun masuk.

Aneska tertawa melihat dua orang itu berjalan masuk. Ia kembali melanjutkan acara bersantainya bersama Kipli sebelum akhirnya senyumnya luruh tak bersisa setelah mendengar ujaran ibunya.

"Nes, kamu juga jangan cuma nguyel-uyel kucing. Buruan buka toko buat sana. Habis itu pulang bantu Ibu."

"Kunci di bawa Mas Chandra, Bu," balas Aneska.

"Malah bagus itu. Ayo gek ulekin bumbu. Ibu masih harus goreng kentang, belum juga sayur tempe terus orak-arik."

Ibu berkata sambil berlalu. Menu-menu lain pun tidak Aneska dengar karena ibunya semakin menjauh.

"Astaghfirullah..., bukannya nggak mau sedekah ya Allah. Tapi kok selalu seribet ini setiap tahun?" keluh Aneska sambil meratap.

"Meow..." Kipli yang ada dipangkuan Aneska pun bersuara setelah tadi terus mendengkur nyaman karena usapan Aneska.

"Iya, Pli. Makasih pengertiannya," sahut Aneska sambil mengelus kepala makhluk itu. Padahal Kipli sendiri tidak mengerti apa yang Aneska rasakan. Kucing tidak tahu situasi itu bersuara karena kehilangan sentuhan Aneska yang membuatnya nyaman.

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang