Sumilir 32

38.2K 3.4K 447
                                        

"Nguawor kamu Mas!"

-Anindya Nasywa Ayudisha-

🌺

Ini bab terakhir yg ada di bulan puasa ya. Nanti kita sambung di lebaran 😉

Salah ketik tandain ya

Selamat membaca....

🌺

"Nanti beres subuh jangan tidur lho ya!" Ingat Ibu tepat ketika Nindya baru saja akan mengambil ayam goreng. Terhitung tinggal dua hari mereka berpuasa.

"Iyaaa..." Nindya menjawab dengan malas karena memang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.

"Kamar diberesin, terus halaman ditata, habis itu nyapu sama ngepel." Ibu mengabsen pekerjaan untuk Nindya.

"Ayah jangan lupa atap sama talang depan rumah di sapu. Udah numpuk daun keringnya."

"Emang tamu mau di suruh berjemur, Bu?" sahut Dimas yang baru tiba di rumah lepas tarawih tadi malam.

"Banyak tanya kamu! Kamu nanti pangkasi dahan yang udah deket sama kabel listrik depan rumah itu lho!" Sewot Ibu.

"Diam aja, Dim. Besok tamu kita orang PLN, lengah dikit kita sekeluarga disetrum," timpal Nindya sambil berlalu ke karpen depan televisi. Untungnya ia segera pergi sebelum ibu memukul lengannya.

Ayah dan Dimas yang menyimak keramaian itu lantas tertawa. Setidaknya mata mereka sudah mulai segar karena percakapan itu.

Setelah matahari sudah mulai menunjukkan rupanya, gesekan sapu lidi juga suara dahan-dahan patah dan berjatuhan mulai terdengar. Daftar putar musik yang biasa terdengar di toko serba ada sengaja Nindya putar menggunakan pengeras suara. Tidak ada waktu untuk mereka bersantai karena baginda ratu yang mengambil alih komando hari ini.

Lengan kaos Nindya telah naik ke bahu, rambut panjangnya ia cepol asal tinggi-tinggi. Ini sudah kedua kalinya Nindya menggerakkan alat pel mengelilingi rumah.

"Heh!" Nindya berteriak kesal saat Dimas tiba-tiba berdiri di depan pintu depan. "Lewat belakang!"

"Galak banget," keluh Dimas. "Ada Mas Areksa tuh, mau ketemu Ayah." lanjutnya.

"Ha?" Nindya menegakkan badannya, ia melihat ke arah belakang tubuh Dimas dan di sana benar-benar ada Areksa yang sedang berdiri di luar area teras.

Areska yang menyadari sedang ditatap oleh kekasihnya lantas tersenyum dan menyapa, "Hai."

Telah terhitung sembilan hari mereka berdua resmi menjadi sepasang kekasih dan masing-masing keluarga mereka belum ada yang mengetahui perubahan status itu. Mereka sengaja menunda memberitahu orang tua mereka dan akan membicarakan hal itu saat momen lebaran nanti.

"A... Ayah lagi bantu Ibu di belakang," ujar Nindya.

"Panggilin, Mbak," pinta Dimas.

"Dih, aku?! Kamu sana!" Sentak Nindya.

"Santai kenapa sih? Orang lagi puasa," dumal Dimas sambil melewati Nindya. Dengan kurang ajarnya, ia sempatkan diri untuk lari di tempat sehingga lantai yang ia pijak menjadi kotor.

"Dimas!" Nindya dengan gesik menyodok paha bagian belakang Dimas menggunakan gagang pel yang ia pegang.

Dimas mengaduh kesakitan, ia mengusap pahanha sambil memberikan tatapan sinis pada kakaknya. "Cewek kasar nggak laku lho!" ejeknya.

Sumilir [Selesai | Lengkap]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang