23. Dinner

505 66 13
                                        

Maksud hati hanya untuk berolahraga dengan naik sepeda bersama kekasihnya, pulang-pulang masuk ke dalam rumah Chika sudah pamer bahwa dirinya baru saja dilamar Raga.

"Mi, Pi, liat!" Ucap Chika saat masuk ke dalam rumah, dan menemukan kedua orang tuanya tengah duduk menonton televisi. Tak lupa tangannya ia angkat lebih tinggi agar mereka bisa melihatnya.

Chika sedikit berlari kecil mendekati keduanya sambil terus memandangi tangannya yang kini dihiasi kilauan berbeda. Ada senyum yang tak bisa disembunyikan, ia menunjukkan cincin itu secara lebih dekat pada kedua orang tuanya. Mata bundar mereka langsung tertuju pada berlian yang terpancang manis di jari manisnya, cincin yang jadi simbol awal baru kisah cinta Chika dan Raga.

Cincin itu bukan sembarang cincin. Terbuat dari emas 18 karat yang berkilau anggun, cincin ini berasal dari koleksi Frank Fire – Alegria Collection milik Frank & co. Batu berlian alami yang dipasang dengan empat prong menciptakan kesan mewah namun tetap elegan. Potongan bulat berlian tersebut menangkap cahaya pagi dengan sempurna, membuatnya tampak bersinar seperti senyum Chika pagi ini. SNI? Tentu. Sertifikasi berlian alami? Jelas ada. Ini bukan cuma perhiasan, tapi wujud kesungguhan dari Raga.

Aya yang semula ingin memarahi Chika karena teriakannya urung begitu saja, dia menutup mulut sekaligus menatap Hari penuh rasa tidak percaya. "Astaga! Itu cincin apa, Kak?! Jangan-jangan???" teriaknya dengan mata membelalak dan napas tercekat.

Tanpa aba-aba, ia langsung menarik tangan Chika, meneliti cincin itu seolah sedang melihat benda langka.

Dengan suara parau dan mata yang mulai berkaca-kaca, Aya bergumam, "Ya ampun, cantik banget... ini emas? Berlian beneran? Ini cincin beneran, kan? Raga lamar kamu? Kapan? Barusan? Di mana? Gimana?" Serbuan pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, sementara tangannya masih menggenggam tangan Chika erat-erat.

Chika terkekeh pelan melihat ekspresi maminya yang campur aduk. "Tadi pagi, Mi... random banget, di sela sela sepedaan pas nyari sarapan. Abang tiba-tiba rekam kita lagi breakfast di salah satu kafe gitu, terus sebelum makan dia tanya gitu intinya kalo nikah sama aku kepikiran gak? Jadi istri aku ya, katanya." Belum selesai Chika bercerita, Aya langsung menjerit kecil sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.

"Ya Allah, gimana ini Pi? Otw punya mantu kita!" Tapi di balik semua kehebohan itu, senyuman hangat Aya tak pernah lepas. Putrinya kini satu langkah lebih dekat menuju hari bahagianya. Berbeda dengan Hari yang hanya tersenyum saja, dan sedikit merasa lega karena Raga membuktikan ucapannya.

"Ada apa sih? Kok heboh?" Tanya Risty yang baru selesai mandi sepertinya.

"Dek, liat!" Pamer Chika menunjukkan jari manisnya.

"Omo!" Dia langsung mengerti, mulutnya sengaja ditutup untuk menunjukkan rasa terkejut. "You got proposed to, sis?" Chika mengangguk tersenyum.

"Really?"

"Eh dibilangin gak percayaan. Iya kan Mi?"

"Kok bisa?"

"Ya bisa kan punya pacar."

"Maksudku, selamat kakak. Mana abangnya?" Tanya Risty.

"Iya, Raga kemana Nay?" Hari menimpali.

"Oh tadi dia mau mampir tapi gak jadi, buru-buru ada callingan dari Pak Hermawan. Terus siang ini juga ada meeting, jadi langsung pulang." Jawab Chika detail, "tapi tadi titip salam. Sama ngajakin makan malem di luar nanti malem."

"Duhh mami pake baju apa, ini ada calon besan juga gak Kak?"

Chika mengedikkan bahu, "gak tau ya kalo itu. Bisa jadi iya, bisa jadi nggak."

SETARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang