21. Sepuasnya

604 51 4
                                        

Sore ini cuaca di Cirebon sedikit mendung, tapi tetap saja panas, gerah maksudnya. Mungkin karena letak geografis yang dekat dengan pantai, tingkat evaporasi menjadi terasa lebih tinggi. Tidak beda jauh dengan Jakarta, gerahnya.

Sebelum dijemput oleh Ella dan Wira untuk berkeliling Cirebon, dan sesuai perkataan Raga tadi siang, mereka menyempatkan panggilan video dan bertukar kabar juga melepas rindu. Tentu pria itu merengek-rengek ingin menyusul Chika dan menemaninya berwisata kuliner di sana.

Jelas sangat mampu dan bisa bagi Raga untuk melakukan hal tersebut, namun dikarenakan dia memiliki pekerjaan yang sangat genting, Raga harus merelakan Chika bepergian dengan orang lain.

Bahkan pesanannya menjadi bertambah, selain satu jam satu pap, Chika juga harus mengirimkan video kegiatannya agar Raga bisa tenang dan tidak terus merengek. Bagian ini mungkin bisa disebut kesepakatan bersama, karena Chika juga meminta agar setiap rapat Deo harus selalu menemaninya tanpa terkecuali.

Chika sudah menunggu di lobby hotel ketika Ella mengabari baru saja akan masuk ke area hotel. Ia tidak ingin membuat orang menunggu. Selain karena ia sangat menanti bagian ini, Chika juga memiliki niat yang baik, apalagi jika bukan untuk segera berbelanja oleh-oleh sepuasnya.

"Bu Hana kan baru pertama kali kesini nih, saya rekomendasiin kuliner paling hits sepanjang masa di Cirebon." Ucap Ella, saat perjalanan mereka sudah berjalan keluar dari area hotel.

"Boleh, apatuh?" Tanya Chika.

"Nasi jamblang. Udah pernah nyobain belum Bu?" Wira yang kali ini membantu menjelaskan, dia menjadi supir yang siap mengantar jemput Chika bersama Ella.

Chika menggeleng bingung, "kayak gimana tuh nasi jamblang?" Saat ini yang ada dalam pikiran Chika adalah nasi dengan lauk buah jamblang yang rasanya kecut dan sepet.

"Jadi ini tuh salah satu kuliner khas Cirebon, nasi biasa gitu tapi dibungkus sama daun jati Bu. Lauknya ada banyak, bebas pilih sesuai selera, yang paling rekomendasi cumi, perkedel jagung sama dendengnya Bu." Chika mengangguk mendengar penjelasan Ella. "Ibu ada alergi seafood?"

"Aman, saya nggak ada alergi seafood."

"Nah pas kalo gitu, soalnya ada juga lauk yang gak boleh di skip, ya gak Wir?" Ella minta persetujuan Wira.

"Apatuh?"

"Sate udang Bu," jawab Wira.

Inova reborn yang membawa Chika membelah jalan Cangkring di daerah Kejaksaan ini sudah sampai di depan salah satu rumah makan bertuliskan Nasi Jamblang Bu Nur. Jika dilihat sekilas mirip sekali dengan konsep alam sunda, pikir Chika.

"Rame banget ya, parkirannya sampe penuh gitu." Chika melihat mobil-mobil berjejer di depan rumah makan. Saking penuhnya, ia khawatir apakah di dalam akan menggunakan sistem waiting list?

"Penuh ya Wir?" Tanya Ella.

"Aman kok, itu ada yang keluar. Tunggu dulu biar kita masuk." Jelasnya, "atau Bu Hana sama Ella kalo mau duluan juga boleh. Nanti saya nyusul."

"Iya Bu, kita duluan aja yuk. Nanti Wira nyusul." Ujar Ella. Karena Chika hanya tamu jadi dia mengikuti saja bagaimana baiknya menurut mereka. Toh sama saja, turun sekarang atau nanti tujuannya tetap untuk menikmati nasi jamblang.

"Saya duluan ya Mas Wira," ucap Chika saat akan turun menyusul Ella. "Siap Bu, abis parkir saya nyusul."

Chika dengan sengaja menyalakan kamera untuk mengambil sedikit video suasana dari depan. Lalu berjalan perlahan mengikuti Ella yang sudah masuk dalam antrian.

Sangat ramai dan antri. Itu kalimat yang hanya Chika utarakan dalam hati. Beruntungnya Ella banyak memberikan pertanyaan agar antri ini tidak terlalu terasa, "gapapa kan Bu antri dikit lagi?" Tanyanya.

SETARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang