20. Childish

467 57 3
                                        

"Hey kenapa?" Raga meraih tangan Chika, "kok diem, hmm?" lalu berpindah mengusap kepalanya.

"Kamu bukannya meeting ya?" Kini giliran Raga yang bingung.

"Kamu check-in kan sama cewek itu?" Chika menatap Raga. "Kamu selingkuh?"

"Mana ada sweety, kamu kan tau aku cintanya cuma sama kamu. Mimpi apasih?" Tanya Raga gemas, "mimpi aku selingkuhin kamu?"

"Bentar, beneran mimpi gasih ini?" Chika benar-benar pusing, jika yang terjadi tadi betulan lantas mengapa dadanya terasa nyeri? Dan itu seperti kenyataan.

"Coba kamu inget lagi, tadi yang abis nungguin aku meeting bilang ngantuk terus siapa ya?" Ucap Raga, "pas aku bilang kita order kopi tapi kata kamu mau pulang aja."

Chika memperhatikan Raga seksama. Benar ternyata tadi hanya mimpi. Ia masih ingat bahwa kejadian sebenarnya adalah ketika menunggu Raga selesai rapat dengan klien dari luar negeri, Chika sempat ketiduran sebentar lalu dibangunkan Raga dan mereka bergegas pulang.

"Hehe, iya ya?" Kali ini jujur Chika sedikit malu. "Tapi beneran kamu gak selingkuh kan Bang?" Chika masih perlu memastikan.

"Mana ada sayang, aku udah punya kamu aja nggak abis."

"Yee emang aku makanan apa?"

"Btw kenapa kita berenti disini, bannya bocor ya?" Tanya Chika saat sudah sadar mobil Raga berada di bengkel yang ada di tepi jalan.

"Iya, ini kayaknya sengaja dah. Kamu liat ke belakang deh pasiennya banyak." Benar ucapan Raga, yang berhenti di bengkel ini ada dua mobil termasuk mobil mereka dan lima motor.

"Bocor semua?" Raga hanya mengangguk. "Aku lupa gak bawa ban serep. Biasanya ada di bagasi tapi kemaren abis nyalon lupa dimasukin lagi."

"Yaudah gapapa tunggu aja. Itung-itung ngasih rezeki buat dia, mungkin lagi butuh uang."

"Aku juga butuh uang," jawab Raga. "Semua orang juga butuh gasih."

Mereka tertawa bersama.

"Laper nggak? Sambil nunggu dikerjain itu tadi di depan ada tukang mie ayam. Mau nyoba?" Tawar Raga. Melihat Chika yang diam ia sedikit meyakinkan, "bersih kok, barusan aku cek kesana soalnya. Bapaknya pake sarung tangan juga."

"Haha nggak gitu, aku lagi mikir terakhir makan mie kapan ya? Soalnya lagi ngurangin tepung."

"Mmm, atau kita delivery aja gimana?" Tawar Raga, lagi.

"Abang mau mie ayam?" Tanya Chika tak enak, "udah yuk itu aja, sesekali gapapa jugakan? Nanti diet tepungnya mulai besok." Kekeh Chika.

"Serius sayang? Ini aku gapapa kalo kamu mau order juga."

"Nggak. Yuk mie ayam aja." Chika merapikan penampilannya dan membuka pintu mobil. "Makan disana ya aja ya?" Mohon Chika.

"Boleh." Sebelum keluar, Raga membawa dua botol air mineral. Chika tidak suka jika setelah makan harus minum air teh.

Gerobaknya tak jauh dari bengkel itu, mungkin sekitar 50 meter. Mereka harus berjalan sedikit. "Kenapa gerobak mie ayam yang rasanya enak selalu berwarna biru?" Tanya Chika.

"Emang kamu udah tau ini bakal enak?"

"Feeling ajasih. Gerobak biru biasanya selalu enak, kalo nggak enak berarti yang masaknya gak jago."

"Dih, emang kamu bisa bikin mie ayam?" Tanya Raga.

"Engga. Makanya ini mau beli, haha."

"Receh banget sih kamu." Mereka berjalan beriringan menuju gerobak mie ayam yang berdiam di depan gor futsal.

SETARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang