Sungguh Chika dibuat malu dengan kelakuannya sendiri. Ternyata kekasihnya, Raga, mengetahui kegiatan dirinya yang sedang asyik menonton review pewarna bibir. Bahkan saat ini rasanya ia enggan menatap Raga.
"Iiihhhh abang, gak gitu tau." Rengeknya malu-malu. Dia menyembunyikan wajahnya di perut Raga yang berdiri di depannya dan menyandar di meja.
"Terus apa dong sweety? Tadi perasaan kedengernya meski cuma kecupan itu stay banget." Raga memeragakan gaya bicara Chika dengan ekspresi tertariknya.
"Kamu ngintipin aku ya? Perasaan ruangan ini kedap suara deh."
"Enggak, tadi emang aku sengaja gak ngetuk. Pas tau kamu lagi asyik nonton, aku tunggu di depan buka pintu sedikit. Ternyata seniat itu ya pacar aku, jadi makin gak sabar mau dicipok." Tawa renyah Raga mendapat hadiah pukulan dari Chika. "Eh maksudnya makin cinta. Haha duh udah sayang. Ampun."
"Ampun-ampun sweety." Chika mencubit perut Raga cukup lama dengan sedikit putaran.
"Ushhh, atit. Udah, maafin ya?" Bujuknya.
"Kamu sih."
"Iya udah enggak. Maaf ya sayang." Raga meraih tangan Chika untuk ia kecup bergantian. Ia menatap Chika yang masih cemberut kesal. "Cantik banget sih manyun-manyun gitu. Jadi pengen cium."
"Udah ah sama kamu mah mesum terus. Aku mau ngecek dulu anak sales." Chika menarik tangannya.
"Aaa gak mau ditinggal," rengek Raga.
"Sebentar aja Abang, abis itu kita pulang." Chika merapikan beberapa laporan yang telah selesai ia tanda tangan.
"Kemaren ada tawaran booth di Pameran, ukuran standar sih tiga kali tiga. Tapi gatau acaranya rame apa enggak, menurut kamu ambil jangan? Proposalnya ini." Chika memberikan satu map proposal dari salah satu event yang akan berlangsung di Jakarta akhir bulan depan.
"Aku minta pendapat Abang, kata Papi sih ikut aja. Mmm–sambil abang baca aku ke ruangan sebelah dulu deh." Raga mengambil map dari tangan Chika dan perlahan membukanya. "Boleh?"
"Boleh sayang," jawab Raga. Ia membiarkan Chika berlalu dan dirinya serius menatap halaman demi halaman proposal yang ada di hadapannya ini.
Raga sudah berpindah duduk di kursi kebesaran milik Chika. Badannya tak bisa berhenti bergerak. Kursi milik Chika ia buat berputar-putar seperti kipas angin, hanya saja ini dengan bantuan dorongan kakinya di lantai.
Melihat nama event yang tertulis paling depan saja, Raga sedikit ragu. Apalagi dari harga booth yang tidak masuk akal. Rasanya ini bukan satu peluang untuk mencari peruntungan, malah akan membawa kebuntungan. Tapi bukan haknya untuk melarang. Semua keputusan ada pada tangan Chika dan Hari.
Dan permintaan Chika hanya sekedar meminta pendapat bukan perihal keputusan.
Lagi-lagi ia diingatkan dengan percakapannya dengan Ayah Chika, Hari. Bahwa untuk memutuskan sesuatu itu harus dengan perencanaan yang matang dan setiap keputusan yang dipilih akan memberikan pengaruh terhadap pasangan.
Meski ia sadar bahwa ini adalah keputusan di luar hubungan, yang mana hanya berlaku untuk pekerjaan secara profesional tapi ia sudah bisa menebak keputusan yang Chika pilih akan turut mempengaruhi bagaimana hubungan mereka di depan. Seperti cek cok karena keputusan yang Chika pilih salah misalnya, Raga bukan takut Chika menyalahkannya. Lebih dari itu ia takut rasa percaya Chika memudar.
Ah Raga jadi sedikit khawatir.
"Gimana? Ambil jangan?" Tanya Chika yang tiba-tiba datang membawa satu botol air mineral dan diberikan pada Raga.
"Makasih sweety." Raga membuka botol itu dan meminumnya.
"Sebelum aku kasih pendapat, kita jalan dulu gimana? Atau kamu masih belum selesai?" Raga tidak serta merta ingin membawa Chika pulang sebelum waktunya, tadi ia melihat jam sudah lebih dari pukul lima.
KAMU SEDANG MEMBACA
SETARA
Chick-Lit⚠️ Adult ⚠️ "Sstttt..." Aya mencoba menenangkan Chika dengan mengusap-ngusap bahu dan punggungnya. "Insecure itu cuma berlaku untuk yang jadi selingkuhan. Kalo kamu yang diselingkuhinya, apapun itu kamu tetep pemenangnya Nay." SETARA, 2024
