19. Lagi?

319 38 4
                                        


"Lama banget sih meeting-nya." Keluh Chika pada Deo.

Pria setengah jadi itu sedang memainkan ipadnya duduk menemani Chika di sofa panjang yang tidak jauh dari meja kerjanya.

"Sabar. Bentar lagi juga kelar, udah kangen banget ye Bu?"

"Nggak sih b aja."

"Kalo nggak ngaku biasanya emang beneran kangen banget. Btw nih ya bu, di dalem tuh ada ceweknya loh, cantik." Tukas Deo.

"Btw juga nih ya, lu juga kan laki ya. Dan kita berduaan."

"Tapi kan Ibu tau iyey gimana?"

"Serah lu dah jamet. Terus kenapa lu gak ikut meeting?" Alih-alih penasaran akan perkataan Deo tentang wanita cantik yang disebutnya. Ia lebih penasaran kenapa Raga membiarkan manusia ini tidak ada di dekatnya.

"Nah itu, tadi juga udah nanya tapi kata Pak Bos suruh nunggu disini." Jawab Deo. "Emang Ibu ada ngabarin ya mau kesini?" Chika menggeleng. Deo yang menatapnya pun sama bingung.

"Yaudahlah, btw lu mau kopi nggak?" Tanya Chika. "Gue mau order nih tetiba ngantuk." Lanjutnya lagi.

"Boleh deh," Deo sedikit menatap ragu pada Chika. "Eh biar i aja yang order, ibu mau apa?"

"Gue aja, udah tinggal pilih soalnya ini." Chika memamerkan tampilan layarnya pada salah satu aplikasi coffee shop favoritnya. "Iced Aren Latte aja kalo gitu Bu," jawab Deo.

Estimasi pesanan akan sampai sekitar 20 menitan. Chika bosan. Di kantor pekerjaan dia sudah selesai semua, bahkan beberapa laporan sudah selesai ia evaluasi untuk rapat mingguan dengan internal, alias Hari.

Membuka tutup aplikasi pun tidak menjadikan solusi, sama sekali tidak ada yang menarik.

"Ibu gabut ya?" Tanya Deo. Chika hanya berdeham sedikit pelan.

"Main ini nih, siapa tau nggak jadi gabut." Deo menyerahkan iPadnya yang menampilkan game billiard.

"Judi nih maksudnya?"

"Yaa-, iya sih. Tapi kan ini cuma game pake koin yang gak bisa diduitin."

"Tapi judi nih konsepnya." Celetuk Chika yang sudah memulai permainan dengan serius.

"Buset langsung main sama level 26, lu jauh banget ini masih level delapan."

"Iya baru download minggu kemaren," tukas Deo. "Itu juga kalo lagi gabut aja sih mainnya."

"Tapi seru juga. Nih dia udah level 26 tapi mainnya noob banget." Chika terus berceloteh sendiri dengan permainan yang ia anggap judi hanya karena battle game dengan menaruhkan sejumlah koin untuk memenangkan total koin yang dipertaruhkan.

Deo yang melihatnya pun hanya diam dan kembali melanjutkan pekerjaan dari komputernya.

Sementara Raga belum ada tanda-tanda sama sekali sejak kedatangan Chika tadi. Bahkan hingga beberapa menit berlalu sampai pemberitahuan pesanan sampai pun Chika belum melihat Raga.

"Tolong ambilin pesenan dong, kurirnya udah sampe. Gue lagi combo poin nih yey."

"Dibilang juga apa, seru kan?" Deo bergegas turun untuk mengambil pesanan kopi.

"Kapan dia bilangnya, perasaannya nggak dah."

Chika berhasil memasukan bola hitam dan permainan dengan total koin 5000 ia menangkan dengan penuh celotehan dan umpatan, "yes gue menang. Banyak gaya sih lu, level tinggi tapi noob."

SETARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang