24. Tantrum

506 46 3
                                        

Aku sebetulnya agak ragu up ini, draft-nya udah ngendap 3 mingguan. Harusnya sih udah enak dibaca yaa wkwk entah bakal di revisi lagi atau nggak semoga masih nyambung dan kangennya terobati. Enjoy ~


***



Dua puluh hari yang berat baru saja dimulai. Chika melepas kepergian Raga untuk menyeberangi benua dengan dada yang setengah rela. Di setiap doa yang ia panjatkan, selain memohon keselamatan Raga, ia juga memohon agar hubungan mereka tetap kuat, tetap utuh seperti yang mereka harapkan bersama.

Jauh di dalam hatinya, Chika masih menyimpan rasa trauma. Hubungan jarak jauh pernah membuatnya larut dalam cemas yang tak berkesudahan. Tapi setiap kali rasa itu muncul, Aya dan Hari selalu hadir menguatkan, mengingatkannya bahwa kepergian Raga kali ini hanya sebentar. Tidak sampai sebulan, katanya. Ia hanya perlu bersabar. Sedikit saja.

Hari ke tujuh LDR.

Langit Jakarta sore itu cerah berawan. Berbeda dengan langit yang menaungi Raga. Udara musim gugur di Eropa sana menyusup melalui celah-celah jasnya, membawa aroma kopi dan roti panggang dari kafe-kafe di pinggir jalan. Di kota ini, segala sesuatu terasa teratur, namun asing.​

"Jadi kangen Chika," gumamnya menatap sepasang kekasih yang sedang berjalan berdampingan melewati dirinya.

Hari-hari baru yang Raga jalani di negeri orang ini dipenuhi dengan rapat dan diskusi mengenai regulasi ekspor yang semakin ketat. Ia harus menyesuaikan diri dengan budaya kerja yang menekankan formalitas dan hierarki. Setiap keputusan membutuhkan konsensus, dan prosesnya sering kali lambat juga penuh pertimbangan.

"Ayo Mas Pandu, ngopinya kita lanjut di ruang meeting." ucap seseorang yang sudah mengajaknya kembali menyibukkan diri.​

Dengan kesadaran penuh, di antara pekerjaan yang belum bisa berjeda, disertai perasaan lelahnya, Raga masih bisa menyempatkan diri untuk menghubungi Chika. Namun, perbedaan waktu menjadi tantangan tersendiri. Ketika Raga selesai bekerja, Chika sudah tertidur. Sebaliknya, disaat Chika ingin bercerita tentang harinya, Raga masih berada di tengah rapat penting. Mereka mencoba menyesuaikan jadwal, namun seringkali hanya bisa bertukar kabar melalui pesan di aplikasi WhatsApp yang dikirimnya kapan lalu balasannya kapan.

Raga merindukan suara Chika, cara gadis itu menceritakan hal-hal kecil dengan antusiasme yang menular. Ah, membayangkannya saja Raga sudah ingin cepat pulang.

Sebelum benar-benar kembali, Raga mencuri sedikit waktu untuk melakukan panggilan video. Tak butuh waktu lama panggilan terangkat, Chika sedang duduk di balik meja kerjanya. Ada kacamata yang disangga oleh hidung mancungnya, dengan kemeja polos berwarna putih membuatnya terlihat lebih seksi.

"Hai, sweetie, i miss you ... lagi apa?"

"Abaaaang! I miss you too. Kamu kok bisa call jam segini? Aku lagi ngerjain laporan nih."

"Ini aku abis beli kopi sayang," satu cup kopi yang berada ditangan kanannya ia angkat. "Kangen kamu banget akunya."

"Sama. Cepet pulang dong!" Chika memasang wajah cemberutnya dengan dua tangan yang menjadi tumpuan dagunya.

"Sabar ya, dua minggu lagi. Abis itu aku langsung nikahin kamu," kekeh Raga.

"Iya cepet, aku tungguin!"

"Duh jangan gitu dong! Makin gemes aku liatnya," bibir manyun Chika membuat sesuatu yang lain juga merindukannya. "Aku gak bisa lama sayang, ini udah di depan gedungnya. Kalo hari ini aku pulang cepet, kita call lagi ya nanti."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SETARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang