22. Pengalihan Cara

670 59 6
                                        

"Sshhh.. Raggaahh.." desisan Chika dengan memanggil nama Raga semakin membuat sesuatu yang ada dalam gejolak pria itu menggebu-gebu.

Meski sebetulnya yang Raga harapkan adalah jawaban, "iya." Tapi Raga tidak peduli, kendalinya pada tubuh Chika semakin tidak tertahankan. Bahkan kali ini ia sudah berpindah menuju bagian kanan milik wanitanya.

Chika berusaha untuk menyadarkan dirinya, diantara kenikmatan dunia ini, seharusnya ia tidak membuat Raga semakin berani. Belum saatnya.

Chika melepas remasannya pada Rambut Raga. "Sst- stop ithh, ahh." Chika berusaha menghentikan Raga saat puncaknya semakin Raga goda dengan putaran-putaran yang memabukan. Chika sedikit mengangkat tubuhnya untuk melihat Raga yang masih saja bertahan disana. Bukannya berhenti, justru Raga semakin menyombongkan aksinya, mata sepasang kekasih ini bertemu dan bertatapan penuh arti. Raga yang semakin merasa terbakar karena wajah sayu Chika, sementara Chika sedang menahan agar tidak terlalu bereaksi untuk segera menyudahi kegilaan ini.

"Abanghh.. mami sama papi nungguin, it's not time yet," suaranya berat, "ahh udahhh pleaseh." Mohon Chika berusaha mendorong Raga.

"Hhmm semenit lagihh." Kedua tangan Raga merengkuh Chika untuk duduk dengan sedikit susah, mulutnya sama sekali enggan untuk ia lepaskan dari benda kenyal yang mungkin sekarang sudah menjadi favoritnya.

"Ahh, jangan digigit." Teriak Chika.

"Mwahhhh, mwahhh." Raga memberikan kecupan kecupan penutup dan sedikit hisapan pemberi tanda sebelum benar-benar menyudahi kegiatannya.

Lalu sekali lagi memagut bibir Chika, hanya sebentar. Chika menatap Raga diam. "Aku gak bisa biarin kamu aku perlakuin gini terus sweety," Raga membantu Chika menurunkan bra dan kaosnya yang sudah berantakan. Kembali merapikan rambutnya yang tidak beraturan. "Maaf aku selalu kelepasan terus kalo sama kamu." Raga mengecup bibir Chika sekilas, posisinya masih duduk di atas paha Chika.

"Aku usahain secepetnya ini jadi hal yang baik untuk kita, u trust me?" Tanyanya. Ingin untuk tidak luluh hanya karena telah diberikan kesempatan untuk mencicipi sedikit kenikmatan sebelum adanya kehalalan, namun jelas Chika pun tidak bisa menolak. Dia mengangguk. "Sure. Keep your promise, please!" Raga mengangguk dan mengecup kening Chika kali ini.

"I love you, and i really do." Ungkap Raga. Chika menelisik setiap sudut penglihatan Raga, yang penuh perasaan, hangat dan juga terlihat tulus. "Me too."

Setelah mengakhiri kisi-kisi adegan dewasa tadi, saat ini keduanya tengah dalam perjalanan pulang menuju rumah Hari. Dengan drama panjang untuk ganti baju dan mandi di unit Raga, dan tentu prianya itu harus bulak balik menuju basement mengambil koper Chika dengan segala perlengkapan baju dan yang lainnya.

"Kamu marah soal tadi?" Chika sama sekali belum membuka pembicaraan dalam perjalanan ini.

"Sedikit, kesel aja." Jawabnya.

"Aku minta maaf," diraihnya tangan Chika untuk ia kecup. "Lain kali aku usahain nggak kelewatan seperti tadi." Chika mengangguk.

"Ini masih kesel?" Tanyanya lagi. Chika menggeleng, "cape, ngantuk, laper."

"Beli makan dulu ya, makannya nanti di rumah biar gak cape banget."

"Mami masak, barusan WhatsApp."

"Okay. Speeding home," Raga menambah kecepatan agar segera sampai. Tapi ketika melewati kawasan street food, mobilnya menepi di salah satu penjual martabak.

"Aku beli martabak dulu ya, gak enak gak bawa apa-apa. Tunggu sebentar ya?" Chika mengangguk, "kamu mau nitip sesuatu?" Kali ini jawabannya diam. Chika menatap sekeliling.

SETARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang