Cinta dan Mata Angin : Book Twenty Two

4 1 0
                                        

Cinta dan Mata Angin

Orific by Aomine Sakura

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama, tempat, latar dll hanyalah kebetulan. Tidak berniat menyinggung siapapun ataupun unsur sara.

Dilarang copas dan plagiat dalam bentuk apapun!

Selamat Membaca.

"Boleh." Wendy menerima kertas yang diberikan Oji kepadanya. "Kenapa mau memasukkan lagu itu?"

Oetara Keano Saveri tidak menjawab. Wendy mencoba untuk mengumpulkan kesabarannya dan menunggu jawaban dari Tara.

Tidak ada jawaban.

Itu membuat Wendy menjadi kesal. Sebelum akhirnya Wendy menyadari sesuatu.

Mengapa ia harus merasa kesal karena Tara enggan menjawab pertanyaannya? Tara memiliki hak untuk tetap diam apabila pertanyaan yang diberikan kepadanya tidak berkenan untuk di jawab. Lalu, mengapa Wendy merasa kesal dan penasaran akan alasan Tara ingin memasukkan lagu "Hujan Turun" yang di populerkan oleh Sheila On Seven itu?

Tahan Wendy, tahan. Ia harus menahan dirinya.

"Baiklah. Ayo kita mulai berlatih." Oji mengambil gitarnya. "Aku bersemangat dan berdebar-debar!"

...

Eastya Zelline Rosalline menutup buku miliknya dan memandang jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sepulangnya dari sekolah, ia beristirahat sejenak sebelum mengerjakan soal-soal dari tempat bimbingan belajar yang ia ikuti sampai ia lupa waktu.

Bau harum sup sudah menggoda indera penciumannya. Zely segera mengganti pakaiannya dan berjalan keluar kamarnya. Matanya memandang ibunya yang sedang menyiapkan makan malam.

"Mau aku bantu?"

Karen tersenyum sebelum mengelus rambut putri bungsunya dengan lembut.

"Sudah selesai. Kamu duduk saja dan tunggu makanan siap."

Zely duduk di kursi makan dan menanti ibunya yang selesai menghidangkan sup daging, sambal dan bakwan jagung. Zely merasakan air liurnya seketika menetes.

"Oh iya. Di mana Wendy?" tanya Zely.

"Dia bilang akan pulang sedikit terlambat." Karen memandang jam di dinding. "Latihan band, katanya."

"Oh ya benar." Zely teringat bahwa pentas seni yang setiap tahun rutin diselenggarakan di sekolahnya akan segera dilaksanakan.

Tahun lalu, ia dan Wendy datang ke acara pentas seni yang kebetulan di buka untuk umum saat itu. Begitu meriah dan sangat ramai dengan berbagai jajan, karya seni juga musik yang menghidupkan suasana.

"Apa aku perlu menjemput Wendy?" tanya Zely sembari bergumam. "Dia belum sembuh dengan benar, kan?"

"Katanya ujian akan berlangsung, dia bilang akan pulang dengan temannya dan memintamu untuk fokus belajar saja." Karen menjawab.

Zely merasakan dadanya terasa sesak. Jangan bilang, teman yang di maksud Wendy adalah Tara?

...

"Gua mau naik ojek online."

"Lo gila." Tara memandang Wendy yang balik menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun. Bahkan, mata milik Wendy menyalang penuh amarah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cinta dan Mata AnginCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang