Chapter 43

1.2K 82 17
                                        

"Kakak ipar kamu nanyain, katanya untuk bridesmaid yakin ditiadakan? Memangnya kamu tidak punya teman sama sekali, Ca?" tanya Mama seraya merebahkan dirinya di lantai kostan yang hanya beralaskan karpet. Kepalanya ditopang bantal kecil yang memang aku sediakan kalau aku sedang ingin rebahan santai di lantai.

"Ada kok punya teman, cuma malas saja segala pakai bridesmaid. Nambah-nambahin biaya saja untuk beli bahan bajunya. Kan lebih baik untuk yang lain," ucapku seraya mengunyah cemilan yang dibawakan oleh Mama, "Mira bersedia kok buat dampingin aku selama acara buat bantu ini itu, aku kasih dia duit saja nanti," imbuhku dengan cengiran yang membuat Mama tertawa kecil.

Mira adalah saudara sepupuku, anak dari Tante Ningsih, adiknya Mama. Dia senang waktu aku tawarin posisi untuk mendampingiku selama acara apalagi setelah mendengar kalau aku akan membayarnya. Lagipula aku tidak punya teman dekat yang akan rela seharian mendampingiku selama acara berlangsung nantinya.

"Kenapa tidak meminta Tara untuk jadi bridesmaid kamu? Kan kalian temenan dekat dulu waktu sekolah," ucap Mama yang seketika membuatku tersedak. Mama memandangku heran saat aku terbatuk hingga mataku berair. Aku bergegas minum untuk melegakan tenggorokanku.

Tara? Jadi bridesmaid? Dia kayaknya akan lebih memilih untuk jadi tukang cuci piring ketimbang jadi bridesmaid.

"Tidak bisa, Ma. Lagian kasian dia kalau mesti seharian mendampingi aku, udah cukup Mira saja," sahutku setelah merasa tenggorokanku sedikit lega.

"Memangnya bridesmaid fungsinya apa sih, Ca? Perasaan dulu waktu nikah sama Papa kamu gak ada deh yang kayak gituan,"  tanya Mama heran dan ingin tahu.

"Sebenarnya sudah ada dari zaman kuno sih, Ma, cuma itu bukan budaya kita saja. Entah sejak kapan tren bridesmaid ini hadir di hampir semua resepsi perkawinan modern saat ini. Tapi kalau resepsi perkawinan yang mengusung adat daerah, kayaknya gak ada deh.

"Kalau fungsinya untuk memberikan support secara mental kepada pengantinnya."

Salah satu alasan aku tidak bisa meminta Tara untuk menjadi bridesmaid ya ini.

"Lalu membantu persiapan resepsi, kalau ikutan budaya barat, ada yang namanya pesta lajang. Nah itu yang siapin bridesmaids untuk di pengantin wanita, groomsmen kalau untuk pengantin pria," imbuhku seraya menyelonjorkan kaki dan bersandar di tembok dengan bantal menyokong punggungku.

"Kalau pesta lajang, itu untuk apa?" tanya Mama semakin penasaran.

"Hmmm apa, ya? Caca gak tahu pasti juga sih. Tapi, kalau melihat di film-film, biasanya mereka akan pergi ke club atau pub gitu, mabuk-mabukkan. Atau sewa kamar hotel, ya sama, minum-minum juga untuk menandakan kebebasan akhir di masa lajang. Terkadang mereka menyewa, hmmm penari striptease, menggoda calon pengantinnya. Yah kadang ada yang memang sampai berhubungan seks sih atau sekedar ciuman saja. Tapi, itu di luar negeri yaa, kalau untuk di Indonesia sendiri aku gak tahu. Belum pernah jadi bridesmaid, jadi gak tahu," ucapku menjelaskan pada Mama yang wajahnya terlihat syok dan bergidik ngeri.

"Ngeri juga, ya. Kalau budaya barat, sepertinya memang seks bebas tuh biasa saja, walau mungkin juga ada yang menjaga kehormatannya. Yah, di Indonesia sendiri juga ada sih yang begitu, di mana saja lah pokoknya. Eh, kamu dan Bima tidak macam-macam kan?" tuding Mama seraya memicingkan matanya.

"Masih perawan, Ma. Tidak macam-macam, yah paling cuma ciuman. Hehehe.."

Mama memandangku dengan pandangan mencibir kemudian tertawa pelan. "Yah Mama sama Papa kamu juga pas pacaran cuma ciuman doang. Papa kamu jago banget loh ciumannya. Terus.."

"Mama! Stop! Caca gak mau dengar!" ucapku memotong omongan Mama. Malu banget dengarnya. Orang tua satu ini hanya terkekeh geli melihat ekspresi horor anaknya.

Denial (GXG)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang