"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
Hujan turun deras di luar jendela kafe. Tetesannya menari di kaca, seolah ingin menenggelamkan kota dalam kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. Di balik meja bar, Ethan berdiri dengan mata sayu, jemarinya bergerak otomatis menyusun cangkir dan menyeduh kopi tanpa benar-benar menyadari apa yang ia lakukan.
Ruangan itu penuh aroma kopi yang pekat dan suara gelas beradu. Di sudut ruangan, seorang pelanggan tertawa sambil berbicara di telepon. Tawa yang entah kenapa mengingatkan Ethan pada suara Jenia – ringan, renyah, dan hangat.
“Latte satu lagi, Mas,” suara seorang pelanggan mengejutkannya.
“Oh, iya.” Ethan tersentak, cepat-cepat mengisi cangkir dan menuangkannya. Matanya lelah, lingkar hitam di bawahnya semakin jelas. Sejak hari itu, ia tak pernah benar-benar tidur nyenyak. Waktu istirahatnya habis untuk shift tambahan di kafe, tugas kuliah yang menumpuk, dan proyek-proyek freelance yang ia ambil tanpa berpikir dua kali.
Sibuk. Terus sibuk. Karena hanya itu cara agar ia tak perlu menghadapi kenyataan bahwa Jenia benar-benar pergi.
“Than, lo udah makan?” suara seorang pria membuatnya kembali ke realitas. Abraham berdiri di depannya, alisnya berkerut.
Ethan menggeleng, matanya tertuju pada mesin espresso yang terus berdengung. “Nggak lapar.”
Abraham menghela napas, tapi tak berkata apa-apa lagi. Ethan tahu Abraham khawatir, tapi ia tak peduli. Tak ada yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Tidak sekarang.
Lalu pintu kafe terbuka, disertai deru angin yang membawa aroma hujan. Seorang perempuan melangkah masuk, rambutnya basah, matanya langsung tertuju pada Ethan.
“Cappuccino, to go,” katanya.
Ethan mengangguk, mengisi cangkir dengan kopi panas. Ketika ia menyerahkan pesanan itu, mata mereka bertemu. Perempuan itu tersenyum kecil. “Kamu Ethan, kan?”
Ethan terdiam sejenak. “Iya. Lo siapa?”
Perempuan itu menurunkan tudung jaketnya, rambut basahnya menempel di wajah. “Lisa. Temen sekelas Jenia dulu.”
Nama itu langsung menghantam Ethan seperti gelombang pasang. Jemarinya yang menggenggam cangkir tiba-tiba terasa kaku. “Oh.”
Lisa tersenyum kikuk, seolah baru menyadari kesalahannya. “Maaf. Gue nggak tahu… kalian masih… bareng atau…”
Ethan memaksakan senyum. “Nggak. Udah lama.”
“Oh.” Lisa menunduk, menyesap kopinya. “Maaf udah ngebahas itu. Gue cuma… ya, lama nggak ngelihat kalian berdua.”
Kata-kata itu menggantung di udara. Ethan ingin menjawab, ingin bilang bahwa ia juga rindu —rindu suara tawa Jenia, rindu cara Jenia menyandarkan kepalanya di bahunya saat hujan turun seperti sekarang. Tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah, “Enjoy kopinya, ya.”
Ia berbalik, kembali ke bar dengan langkah berat. Di belakangnya, Lisa masih berdiri, menatap punggungnya dengan ekspresi simpati yang Ethan tak ingin lihat.
Mata Ethan kembali tertuju pada jam dinding. Satu jam lagi sebelum shift-nya selesai. Satu jam lagi untuk terus berpura-pura sibuk.
Abraham menghampirinya lagi, kali ini membawa segelas kopi panas. “Gue yang bikin. Buat lo,” katanya sambil menyodorkan cangkir itu.
Ethan hanya menatapnya, tak beranjak mengambilnya. “Kenapa? Lo takut minum kopi sekarang?”
Ethan menghela napas, akhirnya meraih cangkir itu. Uapnya menghangatkan telapak tangannya, tapi tak ada yang bisa menghangatkan ruang kosong di dadanya.
“Lo masih kepikiran Jenia, ya?” tanya Abraham pelan, seolah takut pertanyaannya akan menghancurkan Ethan.
Ethan mengerjap, menatap hitam pekat di dalam cangkirnya. “Nggak.”
“Lo nggak pinter ngibul,” kata Abraham sambil menyandarkan diri di meja bar. “Gue tahu lo nggak tidur. Lo nggak makan. Lo nggak pernah berhenti kerja.”
Ethan menggigit bibirnya, berusaha menahan diri agar tidak meledak. “Gue nggak mau ngomongin itu, Ham.”
“Kenapa? Karena lo takut bakal inget semuanya? Takut bakal ngerasa lagi?”
“Karena gue nggak punya pilihan lain.” suara Ethan meninggi, membuat beberapa pelanggan menoleh. Abraham terdiam, terkejut. Ethan mengembuskan napas keras, mengusap wajahnya. “Maaf.”
Abraham hanya mengangguk pelan, tapi tatapannya tak beranjak. “Than, kalau lo terus-terusan lari kayak gini, lo nggak bakal kemana-mana.”
Ethan tak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap cangkir kopi yang uapnya mulai hilang. Di luar, hujan masih turun deras, seolah ingin menenggelamkan semua suara, semua ingatan, semua perasaan.
***
Shift malam akhirnya selesai. Kafe mulai sepi, hanya tersisa suara hujan yang semakin deras dan Abraham yang sedang membereskan meja terakhir. Ethan menutup mesin kopi, melepaskan apron, lalu duduk di kursi bar sambil menatap kosong ke arah pintu kaca. Lampu neon di luar berkelip-kelip, memantulkan bayangan samar yang terasa semakin asing.
Abraham duduk di sampingnya, meletakkan dua kaleng soda di meja. “Lo nggak mau pulang?” tanyanya sambil membuka salah satu kaleng.
Ethan menggeleng pelan. “Nggak ada bedanya. Di sini atau di apartemen, sama aja.”
Abraham menyesap sodanya, memperhatikan Ethan yang masih terpaku pada hujan di luar. “Gue inget dulu lo nggak pernah mau ambil shift malam. Sekarang lo ambil semua shift yang ada. Kenapa?”
“Biar nggak mikir,” jawab Ethan datar. Jemarinya mengetuk-ngetuk kaleng soda yang belum ia buka. “Kalau gue diem, kepala gue penuh. Kalau gue sibuk, seenggaknya gue bisa lupa sebentar.”
“Dan berhasil?”
Ethan menelan ludah, menunduk. “Nggak.”
Hening menggantung di antara mereka. Abraham menatap Ethan, mencoba mencari kata-kata yang tepat tapi akhirnya hanya menghela napas. “Than, lo nggak bisa terus-terusan gini. Gue tahu lo pengen lari dari rasa sakit itu, tapi… seberapa jauh lo bisa lari?”
Ethan terkekeh hambar. “Lo tahu, Ham? Dulu gue selalu bilang kalau gue nggak butuh siapa-siapa. Gue pikir gue cukup kuat buat jalan sendiri. Tapi sekarang… sekarang gue nggak tahu harus jalan ke mana.”
Abraham menatapnya lama, sebelum akhirnya bangkit berdiri. “Lo nggak sendirian, Than. Gue sama Yohan bakal terus dukung lo.”
Ethan mengangguk samar, tapi tatapannya tetap kosong. “Makasih.”
Abraham mengusap bahunya sebentar sebelum melangkah pergi ke ruang belakang. Begitu Abraham menghilang, Ethan mengeluarkan ponselnya, menatap layar yang gelap. Jemarinya bergerak pelan, membuka galeri.
Foto pertama adalah foto Jenia. Tersenyum cerah di tepi pantai, rambutnya terurai ditiup angin. Ethan menatapnya lama, seolah menunggu gambar itu bergerak, seolah menunggu suara Jenia yang akan memanggil namanya.
Namun yang terdengar hanya suara hujan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.