LUL | 50

2.3K 91 16
                                        

"Aku belajar melepas dengan cara paling sunyi: menangis tanpa suara, merelakan tanpa pamit."

•Laut Untuk Langit•

•Laut Untuk Langit•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Kamu mau ngomong sesuatu?"

Suara Jenia terdengar lembut, tapi cukup tajam untuk menembus keheningan di antara mereka. 

Albara mengangkat kepalanya, menatap Jenia dengan mata yang menyiratkan kelelahan lebih dari sekadar fisik. Banyak yang ingin ia katakan, tapi lidahnya kelu.

"Bukan apa-apa," jawabnya singkat. 

Jenia tersenyum samar, tapi matanya tetap menelisik. "Kamu nggak bisa bohong, Bara."

Hening kembali merayap di antara mereka. Angin dari balkon rumah sakit berembus pelan, menggoyangkan tirai tipis di jendela, membawa aroma samar desinfektan yang bercampur dengan udara malam. 

Albara menunduk, menatap jemarinya yang saling menggenggam di atas lutut. Genggamannya erat, seolah itu satu-satunya yang bisa menahannya tetap utuh.  Jari-jarinya sedikit bergetar, dan ada sesuatu yang terasa menyesakkan di dadanya. 

Di hadapannya, Jenia hanya duduk diam, memperhatikannya dengan sorot mata yang tenang—terlalu tenang.

“Maaf.” Suaranya serak, hampir tidak terdengar. 

Jenia mengerutkan kening. “Kenapa minta maaf?” 

Albara mengatupkan bibirnya. Ada ribuan alasan yang ingin ia ucapkan. 

Maaf karena dulu gue benci Kakak. 

Maaf karena gue selalu nutup telinga setiap kali lo mencoba mendekat. 

Maaf karena gue terlalu sibuk nyalahin lo atas semua luka yang gue rasain.

Maaf karena gue baru menyadari semuanya setelah ingatan lo hilang. 

Tapi kata-kata itu hanya mengendap di tenggorokannya, menggumpal bersama perasaan bersalah yang selama ini ia abaikan. 

Jenia tersenyum kecil, meskipun Albara bisa melihat ada kebingungan dalam sorot matanya. Jemari Jenia terulur, menyentuh tangan Albara yang mengepal di atas lututnya. Sentuhan itu ringan, tapi cukup untuk membuat pertahanan yang selama ini Albara bangun runtuh seketika. 

“Aku minta maaf,” suara Jenia lirih, hampir seperti bisikan. “Kalau selama ini aku belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu.” 

Albara mengangkat kepalanya, matanya melebar. 

Jenia tersenyum, tapi senyuman itu terlalu lembut, terlalu menenangkan hingga terasa menyakitkan. Ia mengulurkan tangannya, menarik Albara ke dalam pelukannya. Dan saat itulah, Albara akhirnya menyerah. 

LAUT UNTUK LANGIT (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang