"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
"Laut selalu tahu cara membawa pergi—entah ombaknya, entah kenangannya, entah seseorang yang tak pernah kembali."
•Laut Untuk Langit•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam di lautan adalah sesuatu yang dingin dan tak berkesudahan. Langit tanpa bintang menggantung rendah, seakan hendak menelan apa pun yang berani menantangnya. Ombak menghantam badan kapal dengan ritme monoton, membentuk simfoni kesepian yang hanya bisa didengar oleh mereka yang telah kehilangan dirinya sendiri.
Jenia berdiri di tepi geladak, matanya menatap lurus ke hamparan kegelapan yang luas. Angin malam menyibak rambutnya yang acak, sementara tubuhnya bergetar, entah karena dingin atau karena kelelahan yang sudah mendarah daging.
Noan berdiri tak jauh darinya, memperhatikan gadis itu dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Sudah lama ia mengenal Jenia, tapi malam ini... perempuan itu bukan lagi orang yang ia kenal.
Mata itu kosong. Tidak ada api di dalamnya. Tidak ada kemarahan, tidak ada kesedihan. Hanya kehampaan.
“Noan...” suara Jenia pelan, seakan berasal dari tempat yang jauh.
Noan menggigit bibirnya, berusaha keras untuk tetap tenang. “Hm?”
Jenia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. “Aku udah nggak jadi apa-apa lagi, kan?”
Noan mengerutkan kening. “Apa maksud lo?”
Jenia mengangkat bahu, lalu menunduk, menatap refleksinya sendiri yang terpantul di permukaan laut yang gelap. “Aku cuma cangkang kosong sekarang. Udah nggak ada Jenia yang dulu. Udah nggak ada rasa marah, nggak ada rasa sakit. Aku udah nggak ngerasain apa-apa lagi.”
Noan mengepalkan tangan, menahan gejolak dalam dirinya. “Jangan ngomong gitu...”
Jenia tersenyum kecil, tapi itu bukan senyum yang hangat. Itu senyum seseorang yang sudah terlalu jauh dari dunia, yang sudah menyerah pada apa pun yang dulu pernah berarti baginya.
“Aku serius, Noan,” lanjutnya. “Aku bisa berdiri di sini, di tempat yang sama kayak kamu, tapi rasanya aku udah nggak ada di dunia ini. Aku cuma bayangan. Aku cuma—" Jenia terhenti, lalu menggelengkan kepala. “Ah, sudahlah. Nggak penting.”
Noan menatapnya lekat-lekat. “Penting buat gue.”
Jenia tertawa kecil, tapi tawa itu hampa. “Kenapa, Noan? Kenapa masih peduli?”
Noan terdiam. Karena itu Jenia. Itu jawaban paling sederhana sekaligus paling rumit yang bisa ia pikirkan.
“Apa aku kelihatan kayak orang yang masih bisa diselamatkan?” tanya Jenia tiba-tiba, suaranya serak.
Noan menelan ludah, sesuatu dalam dadanya terasa sesak. “Jenia... lo masih ada. Itu cukup.”
Jenia menoleh, mata kosongnya menatap Noan lurus-lurus. “Tapi aku nggak ngerasa ada.”