LUL | 53

1.7K 60 2
                                        

"Kenapa kamu nggak biarin aku mati aja sekalian waktu itu?"

•Laut Untuk Langit •

•Laut Untuk Langit •

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Aroma manis memenuhi udara. Kehangatan dari oven yang menyala terasa lembut di kulit, bercampur dengan suara spatula yang mengaduk adonan. Suasana di dapur itu begitu akrab—terlalu akrab—tapi Jenia tak tahu mengapa.

Ia berdiri di meja dapur, di antara dua sosok yang terasa dekat tapi asing sekaligus.

Seorang pria dengan rambut sedikit berantakan sedang menuangkan adonan ke dalam cetakan muffin, sementara seorang wanita tersenyum lembut di sampingnya, mengoleskan mentega ke loyang dengan gerakan penuh ketelitian.

“Jangan kebanyakan tuangnya, nanti meleber ke mana-mana,” tegur wanita itu, suaranya lembut namun penuh perhatian.

Pria itu mendengus kecil. “Santai aja, Tan. Yang penting rasanya enak. Lagian, kalau bantet, kan masih ada yang bisa dimakan.”

Jenia terkekeh tanpa sadar, meski hatinya masih dipenuhi kebingungan. Ia memperhatikan gerakan mereka, setiap detail wajah mereka, tapi tak ada satu pun yang bisa menghubungkan mereka dengan ingatannya.

Siapa mereka?

"Eh, Jenia! Bantuin dong, kenapa diam terus?" Pria itu—Noan—menyenggol lengannya dengan spatula. “Jangan-jangan kamu cuma pengen makan gratis kan?”

Jenia terlonjak. Tangannya refleks meraih spatula yang diulurkan padanya. “Aku… aku bisa bantu?”

Wanita itu terkekeh kecil. “Tentu, Sayang. Kamu jago bikin kue, kan?”

Jenia terdiam. Kata-kata itu terasa begitu familiar, seperti sesuatu yang pernah ia dengar berulang kali. Tapi dari siapa?

“Aku… bisa?”

Noan meliriknya dengan alis terangkat. “Jangan bilang kamu lupa? Wah, gawat nih. Nanti aku laporin ke bos besar kalau ada anak yang kehilangan ingatan.”

Jenia tersenyum kecil, tapi perasaannya gelisah. “S-siapa?”

Wanita itu tertawa lembut. “Jangan dengarkan dia, Nak. Ayo, kita hias kuenya.”

Jenia mengangguk ragu. Tangannya meraih icing berwarna lembut, menggoreskan garis-garis kecil di atas cupcake yang masih hangat. Tapi bahkan saat ia melakukan itu, hatinya terasa kosong.

"Kenapa aku ngerasa kayak…" ia menelan ludah. "Aku harusnya tahu kalian."

Hening sejenak.

Noan, yang biasanya bercanda, kini menatapnya lebih lama dari biasanya. Ekspresinya sulit dibaca, tapi ada sedikit luka yang terselip di sana.

“Karena kita memang ada,” gumamnya pelan.

Jenia menatapnya, bingung.

Wanita itu tersenyum tipis, tangannya mengusap rambut Jenia lembut, seperti belaian yang pernah ia rasakan di kehidupan nyata.

LAUT UNTUK LANGIT (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang