LUL | 42

1.9K 76 6
                                        

Mungkin di tempat lain, kita bisa lebih baik. Tapi sayangnya, bukan di sini.

•Laut Untuk Langit•


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Golden Goodbye.

Pesan itu terpampang jelas di layar ponsel Jenia, kata-katanya singkat, tapi mengandung ancaman yang tidak bisa ia abaikan.

Lo harus datang ke acara itu. Atau... Lo tau sendiri kan kelanjutannya.

Dahi Jenia berkerut, matanya menelusuri ulang setiap kata, mencoba menemukan cela untuk meremehkan isinya. Tapi pikirannya justru berputar pada sosok di balik pesan itu. Senja. Ia tahu betul apa yang akan Senja lakukan. Wanita itu tidak pernah main-main ketika bicara soal ancamannya.

Awalnya, Jenia tidak berniat datang. Tempat seperti itu bukan untuknya, bukan tempat yang nyaman untuk mengubur diri dalam riuh tawa orang lain. Tapi pesan ini berbeda. Ia tahu, jika tidak melangkah sekarang, seseorang akan hancur malam ini.

Tangannya gemetar saat mengetik sebuah pesan. Tidak butuh waktu lama hingga ia mendengar suara familiar di ujung telepon.

"Halo? Jen?" suara Abraham terdengar bingung.

"Ham, kamu tahu nggak di mana tempat acara itu?"

Terdengar keheningan sesaat di seberang, sebelum akhirnya Abraham menjawab, "Iya. Gue tahu. Lo... mau ikut?"

"Aku mutusin buat ikut," balas Jenia cepat, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.

"Kalau gitu gue hubungin Ethan juga ya?"

Jenia tercekat. Nama itu membuat tenggorokannya terasa sempit. "Jangan," ucapnya, hampir seperti bisikan.

"Oke," suara Abraham berubah serius. "Gue jemput lo. Kita berangkat bareng."

Jenia tidak menjawab. Suara di telepon menghilang, menyisakan keheningan yang mencekam.

Golden Goodbye. Acara perpisahan tahunan menjelang kelulusan yang selalu penuh dengan gemerlap. Musik berdentum, cahaya lampu temaram, dan riuh suara tawa. Malam itu adalah malam yang dinantikan oleh banyak orang untuk merayakan akhir dari perjalanan masa remaja mereka. Tapi tidak bagi Jenia.

Ia tahu, tempat itu tidak menyimpan apa pun untuknya kecuali ancaman yang Senja bawa. Acara ini, dengan semua keramaian dan kenangannya, adalah panggung sempurna untuk Senja memainkan aksinya.

Jenia sampai di lokasi bersama Abraham. Namun, ia tidak punya waktu untuk berbaur. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari. Matanya menelisik ke segala arah, mencari sosok yang mengancam malamnya.

"Jenia, tunggu!" panggil Abraham, tapi ia hanya melambaikan tangan, menolak berhenti.

Lantai atas. Jenia melihat siluet itu. Senja.

LAUT UNTUK LANGIT (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang