LUL | 43

2.1K 91 8
                                        

Kadang, yang tersulit bukan bertahan, tapi menemukan alasan untuk bertahan.

Laut Untuk Langit•

•Laut Untuk Langit•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Langkah Jenia menyusuri trotoar seolah menggiringnya pada jurang keputusasaan yang tak berdasar. Angin malam menusuk tulang, namun dingin itu tak seberapa dibandingkan dengan kehampaan yang menggerogoti jiwanya. Sepasang kaki yang lecet terus menyeret tubuh ringkihnya, mengabaikan darah yang mulai merembes dari luka kecil di pergelangan kaki. 

Bayangan pesta tadi masih terputar di benaknya seperti rekaman rusak yang terus-menerus menyiksa. Tatapan Ethan pada Kanaya. Sentuhan itu. Ciuman itu. Semua menjadi racun yang merayap ke setiap sudut hatinya, meninggalkan perih yang lebih tajam daripada sembilu. 

Ketika akhirnya ia sampai di rumah, tempat yang dulunya memberikan rasa aman, kini hanya bertransformasi menjadi penjara dingin penuh luka. Pintu yang terbuka memperlihatkan pemandangan yang biasa: rumah yang sunyi namun penuh ancaman. Tangannya refleks menyentuh kalung yang tergantung di lehernya. Kalung itu menyimpan foto kecil—sebuah memori akan keluarga yang dulu utuh dan bahagia. Tapi kini, kenangan itu hanya terasa seperti ejekan dari kehidupan yang pernah ia punya. 

Jenia tersenyum, ia masih bisa mendengar terikan itu, teriakan seorang anak kecil yang kesal karena bonekanya direbut.

__________________________

"Albara, kembalikan kelincinya!" Jenia mengerucutkan bibirnya, tangannya yang mungil mencoba meraih boneka itu. 

"Kalau mau, kejar dulu, Kak! Kelincinya mau main sama aku dulu!" jawab Albara, suaranya penuh ejekan yang diselimuti gelak tawa. 

Dari beranda rumah, Rania, sang Mama, tertawa kecil sambil menyapu lantai kayu. Senyumnya mengembang melihat anak-anaknya begitu ceria. Tak jauh dari sana, Arya duduk di kursi rotan, matanya tak lepas mengawasi kedua anak itu. Tatapan lembutnya memancar seperti cahaya mentari sore. 

"Bara, jangan terlalu kasar sama kakakmu," ujar Arya dengan suara tenang namun tegas. 

"Papa, Albara usil banget! Lihat, kelincinya sampai kotor," keluh Jenia, akhirnya mendekati Arya dengan wajah yang setengah menangis. 

Arya bangkit dari kursinya, berlutut hingga sejajar dengan putrinya, tangannya yang besar dan hangat menghapus peluh di wajah Jenia dengan penuh kelembutan. "Jenia, sayang... Kelinci ini nanti Papa bersihin, ya? Jangan sedih, yang penting kamu nggak terluka." 

"Tapi Albara jahat, Pa," Jenia merajuk, matanya mulai berkaca-kaca. 

Arya terkekeh kecil dan mengusap kepala putrinya. "Albara nggak jahat, sayang. Dia cuma sayang sama kamu, tapi caranya suka bikin kamu kesal." 

Albara yang mendengar itu mendekat dengan ekspresi sedikit menyesal. "Iya, kak, aku cuma bercanda. Ini kelincinya. Maaf, ya," ucapnya sambil menyerahkan boneka itu. 

LAUT UNTUK LANGIT (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang