"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ethan duduk diam di tepi jendela, matanya menerawang keluar, tetapi pikirannya melayang jauh ke tempat yang tak dapat disentuh pandangannya. Malam terasa menyesakkan, seperti udara di sekitarnya menolak untuk memberi ruang bernapas. Bayangan kebersamaan Jenia dan Noan menari di benaknya, melukai hatinya lebih dalam daripada yang ingin ia akui. Itu bukan luka fisik—tapi sesuatu yang menghantam jauh ke dalam jiwanya. Ia tahu, semakin ia mencoba menggenggam, semakin Jenia akan menjauh.
Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunannya. Langkah kaki yang sudah dikenalnya menyentak hatinya. Jenia sudah pulang. Ethan menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi kenyataan yang tidak pernah ingin ia terima.
"Ethan?" Suara Jenia begitu lembut, hampir membuat dadanya runtuh. Ethan menoleh, melemparkan senyum kecil yang ia harap cukup untuk menyembunyikan kekacauan dalam dirinya.
"Baru pulang? Kamu pasti belum makan kan? Aku udah siapin semuanya," ujarnya, menunjuk meja bar yang sudah dipenuhi makanan. Ia ingin terlihat baik-baik saja, ingin memastikan Jenia nyaman, meskipun hatinya sedang berperang.
Namun perhatian Jenia tertuju pada sesuatu yang lain. Pandangannya turun ke bahu Ethan. "Bahu kamu kenapa?"
Ethan memaki dirinya dalam hati. Ia lupa mengganti kaosnya, dan noda darah dari luka sore tadi terlihat jelas. "Cuma luka kecil," jawabnya cepat. "Bentar lagi juga sembuh."
Tapi Jenia menahan pergelangan tangannya. "Tapi berdarah," katanya, dengan suara yang terdengar begitu khawatir. Entah mengapa, itu justru membuat dada Ethan terasa semakin berat. Apa itu benar-benar kekhawatiran? Atau sekadar rasa kasihan?
Ethan menghela napas pelan. Ia ingin memeluk Jenia saat itu juga, ingin mengatakan bahwa ia bersedia berubah, bersedia menjadi apa saja yang Jenia inginkan, asal ia tidak kehilangan sosok itu. Tapi tubuhnya terasa kaku, seolah membeku di tempat. Tangannya hanya menggenggam udara, tak mampu meraih apa yang ada di depannya.
"Ethan, kamu kenapa?" tanya Jenia lagi, suaranya terdengar tulus, tapi bagi Ethan, itu seperti pisau yang mengiris luka di hatinya lebih dalam.
"Nggak apa-apa," jawab Ethan akhirnya, memaksakan senyum. Bayangan senyum lebar Jenia di pantai tadi mendadak muncul. "Senyum kamu hari ini cantik banget."
Jenia menatapnya, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Ethan melangkah ke dapur, menyiapkan makanan untuknya. "Maaf aku nggak bisa temenin kamu makan," katanya sambil berusaha terdengar santai. "Ada hal lain yang perlu aku lakuin."
Ia mendekat, mengusap lembut puncak kepala Jenia sebelum beranjak ke lantai atas. Setiap langkah terasa berat, seperti membawa beban yang tidak terlihat. Di kamarnya, Ethan membuka kaosnya, menatap luka di bahunya yang sudah mengering sebagian. Tapi bukan luka itu yang menyakitinya. Ia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri.
"Jadi gini ya rasanya," gumamnya pelan. "Rasanya jadi Jenia saat gue sama Kanaya..."
***
Jarum jam hampir menyentuh angka satu malam, tapi mata Ethan tetap tak bisa terpejam. Kekacauan di pikirannya terus bergemuruh, menolak memberikan ruang bagi ketenangan. Ia meraih kunci motor di meja, melangkah keluar tanpa suara. Udara malam menggigit kulitnya, tetapi rasa dingin itu tak sebanding dengan dingin yang bersarang di dalam hatinya. Jalanan yang dilaluinya terasa familiar, terlalu akrab untuk menjadi kebetulan. Ia tahu persis ke mana ia menuju—tempat satu-satunya di mana ia bisa meluruhkan segala yang membebani pikirannya. Makam Tiffany, ibunya.
Langit malam pekat, hanya diterangi remang-remang lampu jalan. Sesampainya di sana, Ethan berhenti. Napasnya tersengal, seperti baru saja melewati badai yang tak terlihat. Di hadapannya, nisan Tiffany berdiri kaku, sunyi, menyaksikan anaknya yang kini terjatuh berlutut di depannya.
"Mah..." Suara Ethan serak, pecah, penuh kepedihan yang tak dapat ditahan lagi. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah begitu saja, membasahi wajahnya. "Kenapa rasanya sakit banget?"
Tangannya terulur, mengusap dinginnya batu nisan itu dengan jemari yang bergetar. Suhu dingin permukaan itu seolah mencerminkan kekosongan yang kini menguasai dirinya. "Kalau aku terlalu ngekang Jenia... dia pasti bakal pergi kan, Ma?" Ethan berbisik, suaranya hampir tenggelam oleh malam yang sunyi. "Aku nggak mau kehilangan lagi. Tapi kalau aku biarin dia pergi... aku takut aku nggak akan bisa bangkit lagi."
Suara Ethan pecah di ujung kalimat. Ia merosot, lututnya menyentuh tanah, dan tubuhnya membungkuk, memeluk dirinya sendiri seperti seorang anak kecil yang terluka. "Aku nggak mau kehilangan lagi, Ma. Kehilangan Mama aja udah kayak mimpi buruk yang nggak selesai-selesai."
Ia terdiam sejenak, hanya terdengar suara napasnya yang berat, bercampur dengan isakan yang mencoba ia tahan. "Ma, aku nggak sempurna, aku tahu itu," lanjutnya, nadanya getir. "Aku sering bikin orang yang aku sayang ngerasa nggak cukup. Aku pikir aku bisa bikin Jenia bahagia... tapi kenapa kayaknya aku malah ngecewain dia terus?"
Angin malam bertiup pelan, membelai wajahnya yang basah oleh air mata. Ethan mendongak sedikit, menatap nisan ibunya dengan tatapan yang kosong. "Aku terlalu egois ya, Ma?" tanyanya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Aku cuma pengen dia tetep di sini. Sama aku. Tapi, mungkin aku nggak bisa kasih apa yang dia cari."
"Ethan kangen Mama. Kangen banget."
Ia menunduk, memeluk dirinya sendiri di depan nisan yang menjadi satu-satunya tempat ia bisa jujur. Kesedihan menelannya perlahan, menyisakan kehancuran yang ia tahu tak bisa diperbaiki dengan mudah. Dalam diamnya, ia memahami satu hal: luka di bahunya bukanlah apa-apa dibandingkan luka di hatinya.
***
Ethan pulang dengan langkah gontai, pikirannya sedikit lebih tenang, tapi jiwanya masih terpecah. Saat ia membuka pintu, sosok yang ia kenal berdiri di sana.
"Kamu habis dari mana? Aku khawatir kamu pergi tiba-tiba selarut ini," suara Jenia terdengar gemetar, mencerminkan kecemasan yang nyata.
Ethan membeku di tempat, pandangannya tertuju pada Jenia yang berdiri hanya beberapa langkah darinya. Kata-kata itu menghantamnya seperti gelombang yang tak bisa ia hindari. Kecemasan Jenia terlihat tulus, namun bagi Ethan, itu adalah pengingat menyakitkan. Selama ini, Jenia selalu ada untuknya, menenangkannya, meredakan setiap luka yang ia rasakan. Namun, Ethan tahu, di sisi lain, Noan memberikan Jenia kebahagiaan yang ia sendiri tak pernah mampu berikan.
"Than?" panggil Jenia lagi, nada suaranya lebih lirih. "Kamu dengerin aku ngomong kan?"
Ethan menelan ludah, mencoba menata pikirannya yang kacau. Ia ingin menjawab, ingin mengatakan semuanya, tapi dadanya terlalu sesak. Rasanya seperti ada jarak yang tak terjembatani antara mereka, meskipun hanya beberapa langkah yang memisahkan.
"Jenia," suaranya serak, hampir seperti gumaman. "Biarin gue sendiri dulu, ya?"
Tatapan Ethan nanar, penuh permohonan yang tak terucap. Ia tahu, jika ia membiarkan perasaannya meluap sekarang, ia hanya akan membuat Jenia semakin takut. Ia tak mau kehilangan kendali, tak mau menjadi alasan Jenia pergi lebih cepat dari yang ia takutkan.
Jenia diam, memandang Ethan dengan raut wajah bingung dan terluka. Namun, ia memilih tidak berkata apa-apa lagi, hanya mengangguk kecil sebelum melangkah pergi, meninggalkan Ethan yang masih berdiri mematung di ambang pintu, menahan dunia yang perlahan runtuh di pundaknya.