"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
Ada harapan yang perlahan mati, tapi aku tetap menggenggam abu-abu sisa nyalanya.
•Laut Untuk Langit•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu bulan.
Sudah satu bulan sejak ia pulang dari rumah sakit. Seharusnya, kepalanya mulai jernih. Seharusnya, ingatan-ingatan itu perlahan kembali seperti air yang mengisi celah-celah kosong di dalam kepalanya. Tapi semuanya masih sama. Kosong.
Jenia menatap cermin di hadapannya. Wajah itu—wajah yang seharusnya miliknya—terlihat begitu asing. Setiap garis, setiap lekukan, terasa seperti bagian dari orang lain. Seakan-akan ia hanya sedang meminjam tubuh ini untuk sementara.
Tangannya meraba sisi kepalanya, menekan pelipisnya pelan, berharap sesuatu akan muncul. Sebuah ingatan. Sebuah perasaan. Apa saja.
Tapi tidak ada.
Frustasi, ia menghempaskan dirinya ke kasur, menatap langit-langit dengan napas berat.
"Aku siapa?" bisiknya pelan.
Seharusnya ini bukan pertanyaan yang sulit. Seharusnya ini adalah sesuatu yang setiap orang tahu sejak mereka bisa berbicara. Tapi bagi Jenia, ini adalah pertanyaan yang tak bisa ia jawab.
Ia menoleh ke meja di samping tempat tidurnya. Di sana ada tumpukan foto yang sudah ia lihat berkali-kali selama beberapa hari terakhir. Foto dirinya bersama orang-orang yang tersenyum, foto dirinya yang seolah memiliki kehidupan sebelum semuanya terhapus.
Di antara semua foto itu, ada satu yang menarik perhatiannya.
Sebuah foto dengan seorang pria.
Tapi ia tidak tahu itu siapa. Tapi ia merasakan familiar, perasaan bahwa mereka pernah dekat atau mungkin lebih dari itu, ada yang salah, seperti seharusnya ingatan tentang orang itu tidak boleh terkubur begitu saja.
Tapi ia tidak ingat apa-apa tentangnya.
Tidak ingat bagaimana mereka pertama kali bertemu. Tidak ingat bagaimana suara laki-laki itu bisa terasa begitu akrab di telinganya.
Jenia mengacak rambutnya, frustasi.
***
Langit senja merayap lamban di atas kota, menciptakan semburat keemasan yang jatuh lembut di jendela kamar Jenia. Udara di dalam ruangan masih membawa sisa aroma rumah sakit, bercampur dengan wangi teh hangat yang dibiarkan mendingin di atas meja. Hari ini adalah pekan ke delapan Jenia kembali dari rumah sakit setelah sekian lama, tetapi tidak ada kelegaan yang nyata di wajahnya.
Tubuhnya masih terasa rapuh, dan emosinya seperti gelombang laut yang tak terduga—kadang tenang, lalu seketika menggulung dengan dahsyat. Ethan tahu ini akan sulit. Dia tahu bahwa Jenia tidak akan pulih begitu saja seperti orang yang baru saja bangun dari tidur panjang. Tapi dia tidak menduga bahwa yang paling sulit bukanlah fisiknya, melainkan emosinya yang tidak stabil.