"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ethan berdiri di ambang pintu rooftop, hatinya berdebar kencang. Setelah malam penuh penyesalan, ia datang dengan niat baik-ingin memperbaiki yang telah rusak, mengembalikan segala sesuatu yang terasa hilang. Namun begitu ia melihat pemandangan di depannya, segala niat itu seakan runtuh begitu saja.
Jenia duduk di sana, bersama Noan. Laki-laki itu tersenyum lebar, berbicara akrab dengan Jenia, dan seakan tidak ada yang berubah. Sementara Ethan, yang datang dengan harapan dan keraguan, hanya bisa melihat mereka berdua. Noan, yang dulu dianggap teman, kini seolah menjadi bagian dari dunia Jenia yang lebih penting daripada dirinya.
Ethan merasa seperti asing di dunia yang seharusnya menjadi miliknya, dan perasaan itu menghantamnya lebih keras dari apa yang ia duga.
"Eh, sorry gue ganggu ya." Ucap Ethan, suaranya terdengar rendah, hampir seperti bisikan yang tak berani menyentuh kenyataan. Ia tahu, dari cara Jenia menatapnya, bahwa kehadirannya bukan lagi sebuah keinginan yang ditunggu.
Jenia memandangnya, lalu alihkan pandangan pada Noan. Ada keraguan di matanya. Ethan tahu, tak perlu ia bertanya lebih jauh. Jenia terjebak dalam kebingungannya sendiri, tidak tahu harus memilih siapa, atau malah memilih tidak memilih sama sekali.
"Kita pulang sekarang?" Tanya Jenia, namun suaranya begitu lemah, seolah bertanya pada dirinya sendiri.
Noan, dengan ketenangan yang mungkin menyakitkan bagi Ethan, segera menyahut, "Kita bisa lanjut besok, nggak usah khawatir."
Perasaan sesak kembali menyerang Ethan. Dia tidak lagi dibutuhkan di sini. Noan ada di sana, lebih dibutuhkan, lebih diperhatikan. Ethan hanyalah gangguan, seseorang yang tidak memiliki tempat lagi di dunia ini.
"Nggak usah buru-buru, kamu lanjutin aja. Aku pulang duluan." Ethan memutuskan, dengan cepat dan tanpa berpikir lagi. Kata-katanya keluar begitu spontan, seolah ia tahu kehadirannya hanya akan semakin mempersulit keadaan.
Sebelum Jenia bisa mengatakan apa-apa, Ethan sudah lebih dulu melangkah mundur, meninggalkan mereka dengan perasaan yang semakin terasa berat.
***
Suasana itu seperti lukisan kelabu yang tergantung di langit pagi-dingin, pekat, dan berat. Angin menyelusup di antara mereka, menggiring aroma hujan yang belum datang, menyempurnakan keheningan yang terasa menusuk. Di halaman apartemen, Ethan berdiri dengan postur tenang, namun tatapannya seperti jendela yang sengaja tertutup rapat. Dia tersenyum, tapi senyumnya tak lagi memiliki kehangatan yang biasa Jenia temukan.
"Than," suara Jenia pecah, rapuh, seperti lembaran tipis yang hampir robek. "Kalau kamu nggak suka aku masih berhubungan sama Noan, aku... aku bisa minimalisir pertemuan itu."
Jenia berkata dengan suara yang hampir tenggelam di antara hiruk-pikuk pikirannya sendiri, takut bahwa setiap kata akan membawa segalanya menuju kehancuran yang tak terelakkan. Namun, alih-alih menjawab dengan emosi, Ethan hanya tersenyum kecil. Senyum itu hampa, seperti jawaban tanpa rasa.
"Enggak papa, Jenia. Lagian, kalian cuma temen, kan?" kata Ethan akhirnya, dengan nada yang begitu datar, hampir tanpa jiwa.
Tangan Ethan yang menyentuh rambut Jenia terasa dingin. Sentuhan yang dulu bisa membuat Jenia merasa hangat kini seperti jarak yang menegaskan batas antara mereka. Kata-kata Ethan mungkin terdengar penuh pengertian, tapi ada sesuatu yang kosong di baliknya-sesuatu yang membuat dada Jenia semakin sesak.
"Tapi..." Jenia mencoba berkata lagi, mencoba meraih sesuatu yang masih bisa ia pertahankan, tapi Ethan hanya menggeleng.
"Sebentar, aku lagi ada meet," jawab Ethan dengan senyum kecil yang terlihat terlalu dipaksakan. Lalu, tanpa menunggu respons, dia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Jenia berdiri sendirian di tengah udara yang semakin dingin.
***
Hari-hari berikutnya seperti musim yang kehilangan warnanya. Ethan dan Jenia masih bersama, tetapi keberadaan Ethan terasa seperti bayangan yang selalu bergerak menjauh. Dia hadir, namun tak benar-benar ada. Pagi-pagi kini diwarnai keheningan yang menyesakkan, seperti percakapan yang terlupa sebelum sempat dimulai.
Hingga suatu pagi, tanpa rencana, mereka bertemu lagi di halaman apartemen. Mata mereka bertemu, tetapi kehangatan di antara mereka telah berganti menjadi dingin yang membeku.
"Mau berangkat?" Ethan bertanya datar, suaranya terdengar jauh meski jarak mereka hanya beberapa langkah.
Jenia tidak menjawab. Lidahnya kelu, pikirannya kalut. Ia hanya ingin Ethan, hanya ingin pria itu kembali menjadi seseorang yang dulu selalu ada untuknya.
"Kamu duluan aja. Aku bisa pakai yang lain," kata Ethan sambil mengalihkan pandangan, seperti takut menatap Jenia lebih lama.
"Kita bisa berangkat bareng," pinta Jenia pelan, suaranya terdengar hampir seperti bisikan doa. Namun Ethan tetap menggeleng.
"Nggak usah, kamu duluan aja. Takut telat."
"Barengan, kita bisa pakai berdua."
"Aku bisa pakai yang lain. Kamu berangkat ya."
"Aku maunya berdua." Cicit Jenia.
"Aku udah minta Abraham buat jemput. Buruan, nanti kamu telat."
"Ethan..." Jenia akhirnya memanggilnya lagi, suaranya mulai bergetar. "Dari tadi kamu ngomong, tapi kamu nggak pernah lihat aku."
Kata-kata itu menghentikan langkah Ethan. Dia menoleh, menatap Jenia untuk pertama kalinya pagi itu. Wajahnya terlihat letih, tetapi ada kilatan rasa bersalah di matanya.
"Maaf," ucap Ethan akhirnya, suaranya hampir tak terdengar. Dia menyeka air mata yang mulai jatuh di pipi Jenia, jemarinya gemetar.
"Ethan, aku salah, ya? Aku bikin kamu marah?" tanya Jenia dengan suara pecah. Rasa takut dan bingung memenuhi matanya, mencari jawaban yang tak pernah Ethan berikan.
"Enggak," jawab Ethan, tetapi suaranya terlalu lemah untuk bisa meyakinkan. "Aku nggak bisa marah sama kamu."
"Kalau gitu, kenapa kamu berubah?" desak Jenia, air mata semakin deras mengalir. "Kalau aku salah, kenapa kamu nggak bilang? Jangan diam kayak gini, Ethan. Aku nggak tahu harus gimana."
Ethan menunduk, menyembunyikan wajahnya. Bahunya bergetar, tetapi dia tetap mencoba terlihat tegar. "Aku nggak berubah, Jenia. Aku cuma takut bikin kamu nggak bahagia. Aku nggak mau terlalu mengekang kamu. Aku nggak mau kamu merasa terkunci sama aku."
"Ethan, aku nggak peduli sama hal itu," balas Jenia, suaranya terdengar putus asa. "Yang aku peduliin cuma kamu. Aku nggak butuh ruang, aku cuma butuh kamu ada di sini."
Keheningan kembali hadir, menyelimuti mereka seperti kabut yang menyesakkan. Ethan akhirnya mendekat, menarik Jenia ke dalam pelukan yang lama tak ia berikan. Suara tangis Jenia pecah di dadanya, sementara Ethan mengecup puncak kepalanya, mencoba menenangkan meski hatinya sendiri penuh kekacauan.
"Aku cuma nggak mau kamu terluka karena aku," bisik Ethan. "Dan kalau suatu saat aku berubah jadi seseorang yang nggak bisa kamu kenali lagi... aku ingin kamu tahu bahwa kamu berhak untuk pergi."
Jenia terdiam. Kata-kata itu seperti pisau yang merobek hatinya. Ia tidak ingin pergi, tidak ingin menyerah, tetapi Ethan seolah telah mempersiapkan dirinya untuk kehilangan.
Mereka tetap berdiri dalam pelukan yang terasa seperti perpisahan, meski keduanya belum siap untuk melepas. Dalam bisu yang menyesakkan, mereka sama-sama terluka, mencintai, tetapi tak tahu bagaimana menyembuhkan satu sama lain.
"Jangan putus hubungan sama Noan. Di saat aku berubah jadi seseorang yang bahkan nggak kamu kenalinlagi, mungkin cuma Noan yang bisa ngerti perasaan kamu."