"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
Beberapa luka tidak meninggalkan bekas di kulit, tapi merusak segalanya dari dalam.
•Laut Untuk Langit•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Bodoh kamu, hah?!”
Suara Arya menghantam seperti cambukan di udara. Bau obat-obatan bercampur dengan aroma antiseptik menusuk hidung Jenia, memperparah rasa mual yang sejak tadi menghantuinya. Jenia menunduk semakin dalam, kepalanya hampir menyentuh lutut. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan air mata yang sudah mendesak keluar. Tidak ada keberanian untuk menatap mata itu lagi—mata yang dulu penuh kasih, kini hanya dingin, kosong, dan menyakitkan.
“Aku cuma mau ngelakuin hal yang buat Papa bahagia. Tapi Jenia gagal... maaf, Pa.” Suaranya kecil, hampir tak terdengar, bergetar oleh rasa takut dan cemas yang terus menghantui setiap langkahnya.
Arya mendengus keras, menggeleng seolah tidak percaya. “Cih. Menambah beban saja.” Ucapannya memotong lebih dalam daripada sembilu.
Jenia menahan napas, tubuhnya gemetar. Ia ingin berteriak, membela diri, mengatakan bahwa ia sudah mencoba sekuat tenaga. Tapi apa gunanya? Arya tidak akan mendengarkan. Arya sudah lama melupakan suara hatinya.
Pria itu berbalik dan pergi, meninggalkan Jenia sendirian di ruangan yang sunyi. Sejenak, hanya suara napas Jenia yang tersisa, berat dan patah. Lalu ia terduduk, membungkus dirinya sendiri dengan tangan yang gemetar. “Lagi-lagi...” pikirnya. Lagi-lagi ucapan Arya seperti tombak yang menusuknya tanpa ampun.
Sekali lagi, Jenia menangis. Tapi kali ini lebih dalam, lebih sunyi. Tak ada suara, hanya gemuruh rasa sakit yang mengoyak-ngoyak dadanya. “Mah, apa Jenia nggak seberharga itu?" bisiknya lirih. Pertanyaan itu menggema di kepalanya, membentuk jurang yang semakin dalam.
***
Noan berlari. Napasnya memburu, langkahnya tertatih seiring dadanya yang sesak. Rumah sakit berpendar cahaya putih yang menusuk mata, tapi itu bukan apa-apa dibanding nyeri yang menghimpit jantungnya. Saat ia tiba di depan ruangan itu, langkahnya otomatis terhenti. Tidak sembarang orang bisa masuk.
Dan di sana, di bawah lampu lorong, Noan melihat sosok yang membuat darahnya mendidih.
Ethan.
Pemuda itu berdiri dengan wajah yang sulit diartikan. Sepasang matanya kosong, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Tapi Noan tidak peduli. Tanpa pikir panjang, ia mendekat dan langsung menabrak bahu Ethan.
"Gue mohon, Than." Suaranya serak, napasnya masih belum stabil. "Berhenti sakitin Jenia. Apa perlu gue sujud di kaki lo?"
Ada lelah dalam intonasinya. Lelah yang bukan hanya berasal dari fisik, tapi dari harapan yang terlalu sering ia layangkan tanpa pernah benar-benar sampai.