"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kesadaran Ethan perlahan muncul dari gelap yang seharusnya sudah menelannya. Cahaya putih dari lampu rumah sakit terlalu silau, menusuk matanya yang terbuka setengah. Udara di paru-parunya terasa berat, terlalu berat untuk dihirup. Napasnya terputus-putus, tubuhnya terpasung oleh alat-alat medis yang menopang nyawanya yang seharusnya sudah habis.
Pelan, ia mulai mengenali bayangan di sekelilingnya. Dua sosok di sofa itu—Abraham dan Yohan. Mata mereka, sorotnya, adalah sesuatu yang sudah terlalu sering Ethan lihat. Kecemasan, kepasrahan, ketakutan akan sesuatu yang bahkan mereka sendiri tidak bisa hentikan.
Abraham bergerak lebih dulu, mendekat dengan raut waspada. “Ada yang sakit?”
Ethan menggeleng pelan. Bohong. Tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang tidak sakit. Tapi bukan itu yang ingin ia akui.
“Kapan gue boleh pulang?” Suaranya parau, serak seperti tanah kering yang tak pernah tersentuh hujan.
Yohan tertawa kecil, sumbang. “Lo pikir ini kayak masuk angin? Luka lo parah. Lo nggak akan keluar dalam waktu dekat.”
Ethan terdiam. Tatapannya turun, menatap perban tebal yang melilit perutnya, membungkus luka yang mungkin seharusnya sudah menyelesaikan semuanya.
Sebuah suara pintu terbuka.
Langkah kaki yang ringan, tetapi menusuk seperti belati, menggema di ruangan sepi itu.
Sosok itu.
Jenia.
Untuk sepersekian detik, Ethan menahan napas. Ia tidak tahu apakah itu efek dari selang oksigen yang membuat dadanya nyeri, atau hanya karena melihatnya lagi adalah hal yang lebih menyakitkan dari luka mana pun di tubuhnya.
Wajah Jenia masih sama—tidak, lebih buruk. Pucat, lingkar hitam di matanya semakin pekat, bibirnya pecah-pecah, rambutnya panjang dan berantakan. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melihat Jenia yang masih bisa tersenyum.
"Cabut aja kalau kamu nggak pengin aku hidup." Lirih Ethan, suaranya nyaris tenggelam dalam suara monitor yang berbunyi pelan. Tatapannya tidak lagi menatap Jenia—ia tidak sanggup. Ia hanya menatap selang-selang di tubuhnya, alat-alat yang memaksanya tetap ada di dunia ini.
Tangan Jenia terkepal di sisi tubuhnya, begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya pendek, sesak. ‘Cabut aja kalau kamu nggak pengin aku hidup.’ Seolah itu sesuatu yang sederhana, seolah jika ia melakukannya, semuanya akan selesai. Seolah kematian adalah satu-satunya cara bagi Ethan untuk menebus semua kesalahannya.
“Ethan lo gila ya!” suara Abraham meledak. Ia tahu Ethan bersalah, ia tahu penyesalan itu melahapnya dari dalam, tapi ini bukan caranya.
Tapi Ethan mengabaikan segalanya. Dengan tangan lemah yang penuh memar, ia mencabut infus yang tertanam di pergelangan tangannya, membuat cairan bening bercampur darah menetes ke seprai putihnya.