LUL | 54

1.6K 51 5
                                        

"Kita cerita singkat yang berat ditinggalkan, tapi terlalu rapuh untuk diperjuangkan."

•Laut Untuk Langit•

•Laut Untuk Langit•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Langkah-langkah Jenia terasa ringan, terlalu ringan, seolah tubuhnya hanya tempurung kosong yang terseret oleh gravitasi. Ia membiarkan dirinya berjalan tanpa tujuan di koridor rumah, menapaki lantai kayu yang berderit pelan di setiap pijakannya.

Pikirannya berdenyut kacau. Setiap detik berlalu seperti menariknya semakin dalam ke jurang yang gelap, dingin, dan tak berujung.

Di balik pintu kamarnya, dunia terasa berhenti.

Ia menutup pintu perlahan, membiarkan kegelapan menelannya utuh tanpa perlawanan. Tidak ada lampu yang dinyalakan. Tidak ada musik. Tidak ada suara. Hanya napasnya sendiri yang berat, sesekali tersendat oleh tangis yang belum sepenuhnya reda.

Jenia meraih laci meja dengan tangan gemetar, menariknya terbuka dengan kasar. Di sana, di sudut yang terlupakan, sebatang pisau kecil berkilat samar di bawah cahaya temaram dari luar jendela.

Ia memandangi benda itu lama sekali, seolah menimbang sesuatu yang hanya bisa dimengerti oleh hatinya yang paling terluka.

Bunyi hujan yang mengetuk jendela menjadi satu-satunya saksi bisu ketika ingatan itu menyeruak kembali.

Dulu—sebelum kecelakaan. 

Sebelum segalanya pecah di hadapannya. 
Sebelum dunia memaksanya bertahan seorang diri di tengah kehampaan yang tidak pernah ia pilih. 

Jenia masih mengingat malam itu. Malam saat ia untuk pertama kalinya menggoreskan rasa sakit di kulitnya sendiri. Ia melakukannya perlahan, bukan karena takut, melainkan karena ingin merasakan sepenuhnya; setiap luka, setiap denyut sakit, seolah itulah harga yang harus ia bayar untuk semua yang gagal ia pertahankan. Rasa perih itu anehnya menenangkan, mengalahkan kekacauan yang selama ini terus berputar dalam kepalanya. 

Dan saat tubuhnya mulai melemah, darah mengalir deras, dunia tampak semakin jauh—seseorang menemukannya. 

Noan. 

Dengan wajah penuh kepanikan, Noan mengangkat tubuh Jenia, membawanya menuju rumah sakit, menggenggamnya seolah ia bisa menghalau kematian hanya dengan kekuatan tangannya sendiri. 

Ia masih mengingat bau desinfektan yang menusuk, dinginnya seprai rumah sakit, dan rasa malu yang mengendap di kulitnya, menempel seperti noda yang tak bisa ia cuci. Noan tidak pernah membicarakan kejadian itu lagi. Seolah, jika mereka cukup diam, luka itu akan menyembuhkan dirinya sendiri. Tapi luka itu tidak pernah sembuh. Ia hanya mengendap, tumbuh dalam diam, mengakar jauh di dalam. 

Kemudian malam kedua datang. Lebih sunyi. Lebih dingin. Saat semua suara berubah menjadi bisikan ejekan, saat semua orang—bahkan keluarganya sendiri—perlahan menjauh, menatapnya seolah ia adalah beban yang terlalu berat untuk ditanggung. Bahkan ayahnya, rumah pertama dalam hidup kecilnya, menatapnya dengan dingin yang menusuk lebih dari kata-kata. 

LAUT UNTUK LANGIT (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang