18 September 2023,
"Than, lo nggak capek hidup kayak gembel?"
Ethan hanya diam, membiarkan dengusan Abraham lewat seperti angin. Ia sudah terlalu terbiasa. Sejak lulus, mereka kuliah di universitas yang sama, tapi hidup Ethan seperti terpisah dunia—ia hanya peduli pada satu hal: nilai. Semua yang lain, termasuk dirinya sendiri, seakan tak penting. Rambutnya tumbuh semaunya, brewok tipis melapisi rahangnya, kaos hitam lusuh melekat di tubuh kurusnya, mungkin sudah berhari-hari dipakai, entah kenapa masih ada sisa wangi sabun.
"Heran gue," gumam Abraham, matanya menyorot sekumpulan cewek di seberang taman yang curi-curi pandang ke arah Ethan. "Mereka liat apanya sih? Dasar cewek."
Ethan tetap tak bergeming. Di hadapannya, berkas skripsi terbuka lebar, tangan kasarnya menelusuri setiap halaman. Hari ini sidang, dan ia harus memastikan semuanya sempurna.
Langkah cepat memotong keheningan. Yohan datang dari kampus seberang, ransel menggantung di bahunya. Ia sudah janji—kalau Ethan lulus, mereka akan merayakannya kecil-kecilan.
"Than, ini buat lo," ujar Yohan, menyerahkan sebuah amplop putih polos.
Ethan menerimanya tanpa banyak pikir. Jari-jarinya membuka amplop itu—gerakan biasa yang tanpa sadar mengubah sesuatu dalam dirinya. Sebuah undangan pernikahan jatuh di pangkuannya. Kertas biasa, desain biasa, tidak ada yang spesial. Sampai matanya membaca nama yang tertera di sana.
Jenia.
Hanya satu nama, tapi cukup untuk membuat dunia di sekelilingnya membisu.
Selama ini, ia mengira sudah berhasil menenggelamkan nama itu dalam lumpur waktu. Bertahun-tahun tanpa kabar, tanpa suara, tanpa satu pun jejak. Tapi hari ini... semua itu kembali menghantam, tanpa ampun.
Tangannya terasa berat saat membalik kertas itu. Setiap kata di sana menusuk lebih dalam. Tubuhnya diam, tapi dadanya sesak, seperti ada tangan tak terlihat yang menggenggam kuat jantungnya.
"Gue nggak bisa datang," katanya akhirnya, nyaris tak terdengar. Ada getir dalam suaranya—campuran antara keikhlasan dan kehilangan. Sebagian hatinya marah, sebagian lagi pasrah. Ia ingin bahagia untuk Jenia. Ia harus bahagia untuk Jenia.
Tapi kenapa rasanya seperti ini?
Ethan menutup undangan itu perlahan, seolah ingin menutup sesuatu yang jauh lebih besar—semacam luka lama yang menganga tanpa janji akan sembuh.
"Lo nggak bisa kabur terus, Than," suara Abraham merendah, hampir seperti kakak menegur adiknya. "Nggak sekarang, nggak nanti. Cepat atau lambat, lo harus hadapi semua."
Ethan mendongak, menatap langit kelabu yang menggantung di atas kampus. Awan bergulung-gulung, berat dan muram, seolah ikut merasakan apa yang ia tahan di dalam dada.
Ia tahu Abraham benar.
Karena ada hal-hal yang tidak akan pernah selesai hanya dengan berlari.
***
Ethan datang dengan balutan jas hitam rapi, tapi langkahnya berat, seolah setiap inci menuju altar adalah pengingat bahwa ia sedang berjalan menuju kehilangan. Ia terlalu takut, bukan sekadar bertemu Jenia, tapi menghadapi kenyataan pahit di hadapannya: bahwa akhir dari semua ini bukan dirinya.
Matanya menangkap sosok itu. Jenia. Dengan gaun putih sederhana yang memeluk tubuh mungilnya, menuruni altar dengan langkah ringan, nyaris melayang. Waktu tidak pernah mengubah kecantikannya. Malah sebaliknya, ia terlihat lebih menakjubkan dari yang pernah Ethan ingat.
Dan entah kenapa... rasa sesak itu merayap naik ke dadanya. Rasanya seperti menonton sesuatu yang pernah menjadi milik kita, kini sepenuhnya lepas, hilang untuk selamanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LAUT UNTUK LANGIT (END)
Romance"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
