"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
"Bukan dunia yang membuatku lelah, tapi kenyataan bahwa tak ada tempat untukku beristirahat."
•Laut Untuk Langit•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku bakal pulang ke rumah buat sementara," ucap Jenia, suaranya berat, nyaris bergetar.
Ethan tersenyum lembut, menyembunyikan badai yang bergolak di dadanya. Ia melangkah mendekat, tangannya terulur mengusap puncak kepala Jenia dengan lembut.
"Aku nggak bakal nolak kalau itu bakal buat kamu lebih baik," katanya, meskipun hatinya berteriak untuk menahan Jenia tetap di sisinya.
Jenia menatapnya dengan mata yang basah, lalu mengangguk pelan. "Makasih, Than."
"Biar aku anterin, ya?" tawar Ethan, suaranya tetap tenang meski dalam hati ia tahu, mengantarkan Jenia berarti melepasnya. Ia tahu ini hanya perpisahan sementara, tapi ia tetap tak rela.
Pria itu memeluknya dari belakang, erat, seakan ingin membingkai momen ini dalam ingatannya. Hidungnya menyentuh ceruk leher Jenia, menghirup aroma yang begitu dikenalnya-aroma yang mungkin tak akan ia temukan di tempat lain. Ia tak rela. Tak ada satu bagian dari dirinya yang benar-benar ikhlas. Tapi ia tahu, mencintai bukan tentang memaksa seseorang tinggal, melainkan memberi ruang untuk mereka menemukan diri mereka kembali.
"Aku bakal nunggu sampai kamu sembuh," bisiknya lembut di belakang telinga Jenia. "Jadi jangan terlalu lama."
***
"Gimana kabar Ethan?"
Pertanyaan itu datang tiba-tiba, menghantam Jenia seperti pukulan yang ia tidak siap terima. Tangannya, yang tengah menuangkan air ke gelas, terhenti. Ia tidak ingin menjawab.
"Kayaknya kalian lagi berantem, ya?" suara Kanaya terdengar dingin, tapi ada sesuatu yang tersirat di sana-mungkin rasa puas, mungkin rasa ingin tahu yang menusuk.
Jenia hanya diam, menghindari tatapannya.
"Gue nggak pernah mau jadi saudara lo, Jenia," suara Kanaya berubah pelan, namun setiap katanya sarat emosi. "Tapi kayaknya gue nggak bisa ngubah kenyataan, ya?"
"Nay, tolong jangan bahas ini," Jenia berusaha menghentikan percakapan yang mulai menyeretnya ke jurang rasa bersalah.
Tapi Kanaya mengabaikannya. "Kamu nggak pernah mikirin perasaan Noan? Dia selalu ada buat lo, kan? Gue iri, Jen. Lo punya orang yang selalu ada di sisi lo."
Cengkeraman Jenia pada tepi gelas menguat. Kata-kata Kanaya menyusup jauh, menyentuh tempat-tempat yang ia coba abaikan. Ia ingin pergi, meninggalkan percakapan ini, tapi langkahnya tertahan saat Kanaya menahannya.
"Kita nggak pernah ngobrol kayak gini, Jen. Gue tahu lo nggak sibuk."
Jenia menatapnya sekilas, namun tetap tidak menjawab.