Note:
Cerita ini merupakan bagian dari 'Langkara Senja', sebuah sequel dari 'Laut untuk Langit.' Di sini, perjalanan Ethan dan Jenia berlanjut bukan lagi tentang mencari arah, tapi bagaimana menjaga rumah kecil yang sudah mereka bangun bersama.
------------
“Papa, bangun. Papa sudah janji akan mengantar Jea ke sekolah.”
Suara bening itu membangunkan Ethan dari tidur paginya. Di hadapannya berdiri bocah lima tahut berpipi bulat, menggoyangkan tubuhnya penuh semangat. Matanya berbinar, rambutnya sedikit berantakan, tapi wajahnya memancarkan harapan yang tak bisa ditunda.
Ethan mengerjap, masih setengah tertidur. Tangannya meraba sisi kasur yang sudah kosong, lalu memandangi anak itu dengan senyum mengembang.
“Hari ini hari pertama Jea sekolah, Papa. Jea tidak boleh terlambat,” ucap gadis kecil itu lagi, lebih tegas.
Ethan tersenyum lebar, mencubit pipi tembamnya dengan gemas. Ia mengangkat tubuh Jeanna tinggi-tinggi, membuat tawa riang gadis kecil itu meledak di udara pagi yang masih sejuk.
“Sini, cium pipi Papa dulu, baru Papa bangun,” godanya.
Namun sebelum Jena sempat mencium pipinya, suara lain menyela dari ambang pintu.
“Jea, biarin aja pria tua itu. Mama udah manggil kita sarapan. Biar Mama aja yang marah kalau Papa lama,” ucap seorang anak laki-laki dengan nada malas.
Arshaka, anak sulung mereka, berdiri sambil menyender di pintu dengan ekspresi sok dewasa.
“Siapa yang kamu panggil pria tua hah?” protes Ethan setengah tertawa.
“Tapi bangunmu kalah cepat sama Jea yang baru lima tahun,” sahut Arshaka sambil berbalik.
Jeanna tertawa, turun dari gendongan Ethan, lalu berlari mengejar kakaknya.
Ethan menggeleng pelan. Baru pagi, tapi sudah kalah telak. Sepertinya, ia benar-benar menciptakan saingannya sejak lahir.
***
Aroma roti panggang dan telur menguar dari dapur. Ethan mendekap Jenia dari belakang, kepalanya bersandar di pundak sang istri yang sedang memasak. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma tubuh Jenia memenuhi dadanya, roma rumah, aroma tenang.
“Ethan, anak-anak...” ucap Jenia pelan, suaranya seperti bisikan yang malu-malu namun tak benar-benar menegur.
“Mama, Jea tidak melihat apa-apa kok!” sahut Jeanna cepat, sambil menutup matanya dengan kedua tangan mungil, meski jelas ia mengintip dari sela-sela jarinya.
Ethan terkekeh, sempat mengacungkan jempol pada putrinya sebelum mencuri satu kecupan singkat di bibir Jenia. Wajah istrinya bersemu merah, dan senyum kecil itu tak mampu disembunyikan.
Dari meja makan, Arshaka menatap dengan malas. “Papa, ini dapur, bukan panggung sinetron. Kita mau makan, bukan nonton drama.”
“Anak kecil dilarang cemburu,” sahut Ethan sambil menarik kursi dan duduk santai.
“Aku bukan cemburu. Cuma kasihan sama Mama.”
“Kenapa?”
“Karena Mama harus hidup sama pria berkepribadian buruk kayak Papa.”
Jenia terkekeh pelan.
Ethan memasang wajah pura-pura kecewa. “Istriku, lihat anakmu. Dia mulai memberontak.”
“Kalian sama aja,” jawab Jenia, tak menoleh, tapi senyumnya tetap terasa.
Arshaka menyeringai puas. “Tuh kan, Mama juga setuju.”
KAMU SEDANG MEMBACA
LAUT UNTUK LANGIT (END)
Romansa"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
