"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ini terasa lebih panjang dari biasanya.
Ethan menghabiskan waktunya di kampus hingga sore, menghadapi kelas yang seakan tak berkesudahan. Begitu lepas dari perkuliahan, ia harus langsung terjun membantu Ardjuna mengelola bisnisnya, memastikan semuanya berjalan lancar. Lelah sudah menyusup ke tiap sendinya, tapi ia tidak punya waktu untuk merasakannya. Masih ada hal yang harus diselesaikan, masih ada kewajiban yang menuntutnya untuk tetap bergerak.
Dan akhirnya, setelah segalanya rampung, Ethan bisa pulang.
Mobilnya terparkir di halaman rumah. Ia menghela napas panjang sebelum turun, membiarkan kepalanya bersandar sebentar di kemudi. Ada nyeri di pelipisnya, seolah sesuatu menghantam tengkoraknya sejak pagi tadi, tapi ia mengabaikannya. Yang penting, ia bisa beristirahat.
Atau setidaknya, itulah yang ia pikirkan.
Sampai suara benturan keras terdengar dari dalam rumah.
Seketika, jantung Ethan mencelos.
Tanpa pikir panjang, ia mendorong pintu rumah, menemukan kegelapan menyelimuti ruang tamu. Tidak ada cahaya, tidak ada suara selain helaan napasnya sendiri—dan kemudian, sesuatu kembali jatuh di dapur.
Kakinya bergerak sendiri. Langkahnya panjang dan terburu-buru, dadanya berdegup kencang saat mencapai ambang pintu dapur—dan dunia terasa berhenti.
Jenia berdiri di tengah kekacauan.
Pecahan kaca bertebaran di lantai, meja makan berantakan, dan tangan gadis itu masih menggenggam gelas yang sudah retak di tepinya. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya lagi—
"Jenia!"
Ethan menerjang. Dalam satu gerakan, ia meraih tubuh gadis itu sebelum ia bisa membanting benda lain.
Tubuh Jenia kaku di dalam pelukannya. Bahunya naik turun dengan cepat, napasnya terengah, dan air mata membasahi pipinya.
Ethan memeluknya lebih erat. Ia bisa merasakan betapa kecilnya tubuh Jenia di dalam dekapannya, betapa ringannya bahu gadis itu, seolah dunia telah menekan semua beratnya ke dalam dirinya.
Dada Ethan terasa sesak.
Ia merenggangkan pelukannya sedikit, menurunkan pandangan untuk mencari wajah Jenia. "Ada yang luka?"
Jenia tidak menjawab.
Ethan mengangkat tangannya, mencari jejak luka di kulit gadis itu. Jemarinya menyusuri pergelangan tangan Jenia, lalu ke jemari rapuhnya, ke lengannya, ke bahunya—sampai akhirnya, ia bernapas lega saat tak menemukan luka.
Tapi ia tetap tak bisa tenang.
"Kenapa ngelakuin hal itu?" suaranya lebih lembut sekarang, seolah takut membuat gadis itu pecah lebih dari yang sudah terjadi. "Kamu bisa aja terluka."