"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
"Waktu terus berjalan, tapi ada bagian dari dunia yang berhenti sejak hari itu."
•Laut Untuk Langit•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gang sempit itu tetap sunyi. Hujan belum reda, turun perlahan seperti bisikan pelan dari langit yang letih. Setiap tetesnya menciptakan irama sendu di atas aspal yang menghitam, berpadu dengan langkah kaki Ethan yang berat. Tubuhnya belum sepenuhnya stabil, tapi ia harus mencari apotek untuk sekadar mengurangi efek demamnya—masih banyak hal yang perlu ia kerjakan.
Ia menarik napas dalam. Udara malam menusuk pelan, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang tak terlihat—sesuatu yang tinggal di antara penyesalan dan kenangan.
Lalu suara itu memanggil.
"Ethan."
Ia berhenti. Menoleh.
Di bawah cahaya lampu jalan yang temaram dan berkedip pelan, seorang sosok berdiri tegak. Kaku. Dingin.
Senja.
Napasnya terengah. Bahunya naik-turun. Tapi bukan karena lelah—melainkan karena amarah yang terlalu lama dipendam, terlalu lama dibungkam hingga kini siap meledak dalam satu embusan.
Dan matanya... bukan mata orang yang datang untuk bicara. Tapi mata seseorang yang datang untuk menyelesaikan.
Ethan tidak kaget. Tidak bertanya. Dia tahu.
"Lo nyari gue?" suaranya serak, seolah tenggorokannya mengikis dirinya sendiri setiap kata yang keluar.
Senja tidak menjawab. Tatapannya tak bergeser, seperti panah yang sudah ditarik sampai ujung.
"Lama nggak ketemu," Ethan menambahkan, hampir seperti gumaman seorang yang sudah menyerah pada nasibnya. "Lo kelihatan..."
Senja menyeringai—bukan senyum yang ramah, tapi lebih seperti luka yang dibuka paksa. "Jangan bilang gue kelihatan lebih baik. Jangan bilang gue kelihatan baik-baik aja. Lo cuma pura-pura peduli."
Ethan terdiam sejenak. "Nggak. Lo kelihatan seperti seseorang yang udah kehilangan terlalu banyak."
Dan saat itu, ada sesuatu di wajah Senja yang retak. Bukan tangis. Bukan sedih. Tapi bara—yang menyala lebih merah dari sebelumnya.
"Akhirnya lo sadar," katanya, suaranya serak, penuh geram yang gemetar. "Tapi sayangnya, lo sadar pas semuanya udah keburu hancur."
Ethan menunggu.
Ia tidak bertanya kenapa. Ia tidak meminta penjelasan.
Karena dia tahu—apapun yang akan Senja lakukan malam ini, tidak akan ada kata "maaf" di akhir ceritanya.
"Lo tau nggak rasanya dihancurin?" Senja melangkah satu tapak lebih dekat. "Tau gimana rasanya bangun tiap hari dengan dada yang berat, kepala penuh suara-suara yang nggak pernah lo pengen denger, dan kenyataan yang selalu sama—bahwa lo cuma korban dari kebusukan orang lain?"