LUL | 46

1.9K 84 5
                                        

"Di bawah langit yang sama, laut menelan nama-nama yang tak lagi dipanggil pulang."

•Laut Untuk Langit•

•Laut Untuk Langit•

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Hujan jatuh seperti ribuan luka yang menimpa mereka, deras, dingin, dan menyesakkan. Langit berwarna kelabu, seakan turut berduka atas nama yang tak lagi bisa dipanggil, atas raga yang telah lenyap ditelan samudra. Ombak menggulung tak henti-henti, seolah ingin meneriakkan sesuatu yang tak bisa mereka dengar. Laut itu tetap diam—tak peduli.

Ethan berdiri di bibir pantai, tubuhnya basah kuyup, namun dingin yang menggigit kulitnya bukan apa-apa dibandingkan dengan kehampaan yang menyesaki dadanya. Matanya kosong, tapi air mata terus jatuh, bercampur dengan air hujan yang menyapu wajahnya. Setiap tetesnya adalah pengingat betapa semuanya telah berakhir.

Di belakangnya, Albara berlutut di atas pasir yang basah, menatap lautan yang dulu hanya menjadi pemandangan biasa—sekarang menjadi perenggut satu-satunya orang yang seharusnya ia jaga. Suaranya keluar sebagai bisikan yang hampir tak terdengar, tenggelam dalam derasnya hujan dan ombak.

"Ma... Albara minta maaf."

Ia mengepalkan tangannya begitu erat hingga kukunya hampir menembus kulit, namun tak ada yang bisa dia lakukan selain menatap kosong laut yang menelan segala penyesalannya.

"Albara minta maaf, Kak..."

Tapi suara ombak menelannya bulat-bulat, menenggelamkan penyesalannya ke dalam laut yang tak peduli.

Ethan mengambil satu langkah ke depan, hampir terjatuh ke dalam air, namun Abraham menahan bahunya dengan tangan yang kuat. Mereka sama-sama terperangkap dalam kepedihan yang sama, namun tidak ada yang bisa mengembalikan apa yang telah hilang.

"JENIA!!"

Suaranya membelah udara, lebih tajam dari badai mana pun, namun lautan tetap bisu. Ombak terus bergulung tanpa memberi jawaban.

"PULANG!"

Ethan menunggu, seolah ada jawaban yang tersembunyi di balik ribuan gelombang itu, berharap ombak akan membawa kembali seseorang, berharap kenyataan ini hanya mimpi buruk yang bisa ia bangunkan.

Namun yang datang hanya kehampaan yang semakin mendalam.

"LIHAT GUE SEKARANG! LIHAT KITA SEKARANG! LO NGGAK KASIHAN!?"

Suara Ethan pecah di ujung, tercekik oleh emosi yang terlalu besar untuk ia tahan. Hatinya berteriak, namun tidak ada yang mendengarnya. Hanya air hujan yang semakin deras, menyapu semuanya pergi.

"PLEASE!! JANGAN SEMBUNYIIN JENIA TERLALU LAMA!"

"KEMBALIKAN JENIA!"

Teriakan-teriakan itu menusuk ke dalam dada semua orang yang ada di sana, merobek keheningan yang terasa semakin mencekam.

LAUT UNTUK LANGIT (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang