"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gosip itu memang tidak sepenuhnya hilang, tapi Ethan berhasil meredamnya dengan bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa ia tidak bersalah. Namun, sepanjang rapat OSIS tadi, wajah Ethan terus dilingkupi kekesalan. Rasa dongkolnya terhadap anggota yang sembarangan menuduhnya begitu kentara. Ketika akhirnya rapat usai, ia menghela napas panjang, keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru, berharap bisa segera meninggalkan atmosfer yang membuatnya tertekan.
Di perjalanan menuju kelas, ia berpapasan dengan Jenia. Gadis itu berjalan pelan, tangannya memeluk buku, seolah dunia di sekitarnya hanya latar belakang sunyi. Ethan menghentikan langkahnya, menatap Jenia dengan sorot lembut yang entah bagaimana selalu membuat dadanya terasa hangat.
“Kita pulang bareng, ya?” bisiknya, suaranya pelan namun penuh harap.
Jenia menoleh, sejenak terlihat ragu, namun akhirnya mengangguk kecil. Anggukan itu begitu sederhana, tapi cukup untuk membuat senyum Ethan merekah, seperti mentari pagi yang muncul setelah malam panjang.
***
Sepanjang perjalanan pulang, motor yang dikendarai Ethan melaju tenang. Jenia duduk di belakangnya, memegang sisi motor dengan tangan yang kaku. Angin sore menyapu wajah mereka, membawa aroma jalanan yang basah setelah hujan.
“Kamu nggak ngomong apa-apa dari tadi,” Ethan membuka suara, nadanya ringan, mencoba memecah keheningan.
Jenia menunduk sedikit, memperhatikan jalan yang berlalu di bawah mereka. “Nggak ada yang perlu dibicarakan,” jawabnya pelan.
Ethan tersenyum kecil, meski Jenia tak melihatnya. “Kalau gitu, aku aja yang ngomong.”
Dia mulai bercerita tentang rapat OSIS tadi, tentang betapa ia kesal pada beberapa anggota yang menurutnya kurang tanggung jawab. Sesekali ia melemparkan lelucon ringan yang membuat Jenia terkekeh kecil, meski cepat-cepat ia redam agar Ethan tidak melihat senyumnya terlalu lebar.
Sampai di depan apartemen, Ethan mematikan mesin motor dan turun lebih dulu. Ia membukakan jalan untuk Jenia, yang turun dengan hati-hati. Ketika kakinya menyentuh tanah, Jenia sedikit tersandung, dan Ethan refleks menangkap pergelangan tangannya untuk menahan.
“Aku nggak apa-apa,” Jenia buru-buru menarik tangannya, namun jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Mereka berdiri berhadapan dalam keheningan yang terasa begitu panjang. Ethan menatap Jenia, matanya menyiratkan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun bibirnya terasa berat.