"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
"Aku tidak pernah memilikimu, tapi rasanya sudah kehilangan ribuan kali."
•Laut Untuk Langit•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Menjelang kelulusan, waktu di sekolah terasa seperti melodi yang mendekati klimaksnya, dengan segala kenangan dan perasaan yang menempel di setiap sudutnya. Jenia mulai merasakan ketenangan yang perlahan menyejukkan hati yang selama ini riuh oleh kebencian dan kecemasan. Alsava dan Zea, dua nama yang dulu menghantuinya dengan bisikan pedas dan tatapan sinis, kini seakan menghilang begitu saja, seperti kabut yang tersapu angin pagi. Tak ada lagi suara mereka yang mengganggu, tak ada lagi amarah yang mencemari udara. Dunia di sekitarnya terasa lebih terang, meski bayang-bayang masa lalu masih ia simpan dalam-dalam.
Jenia tidak pernah merasa sepi, meskipun kadang ia memikirkan hal-hal yang tak bisa ia ungkapkan. Salah satunya adalah sosok Noan. Sejak terakhir kali mereka bertemu, setelah Noan dipertemukan kembali dengan keluarganya, dunia seakan membawa mereka berdua ke jalan masing-masing. Noan kini memiliki keluarga yang menyayanginya, dan Jenia merasa damai dengan itu. Ia tahu, Noan pantas mendapatkan sebuah rumah yang penuh cinta, sebuah tempat di mana ia bisa merasa diterima, jauh dari rasa sepi yang dulu ia rasakan.
Namun, perasaan lain yang lebih gelisah mulai merayapi hatinya. Ia merindukan Noan. Bukan hanya sebagai teman, tapi lebih dari itu—sesuatu yang lebih dalam, yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya bisa mengungkapkan. Maka, sore itu, ketika angin bertiup perlahan membawa aroma laut yang familiar, Jenia memutuskan untuk pergi ke tempat itu—rooftop sekolah, tempat yang dulu menjadi saksi bisu banyak cerita mereka berdua.
Saat Jenia melangkah ke atas, hatinya terasa sedikit lebih ringan, meskipun ada perasaan yang mengganjal. Ia mendongak, menatap langit yang mulai memerah, seperti lukisan besar yang menggantung di atas dunia. Tiba-tiba, suara yang sangat dikenalnya menyentuh telinganya.
"Ngelamunin gue ya?"
Jenia terkejut, dan segera mencari sumber suara. Di sana, berdiri Noan, dengan senyuman khasnya yang tak pernah berubah, senyuman yang mampu menghentikan sejenak denyut jantungnya. Noan, pria yang selama ini hadir dalam pikirannya, muncul begitu saja, tanpa pemberitahuan. Ia menatap Jenia dengan tatapan penuh arti, seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Jenia.
"Kenapa timing kemunculan kamu selalu pas banget sih?" Jenia berkata, mencoba menutupi rasa kagetnya dengan canda.
Noan tertawa pelan, kemudian mendekat. "Gimana lo sama Ethan?" tanyanya, suaranya terdengar ringan, meskipun matanya menunjukkan perhatian yang lebih mendalam.
Jenia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. "Kita mutusin buat mulai semuanya dari awal," jawabnya pelan, berusaha menyembunyikan getaran yang menggelora di hatinya.
Noan mengangkat alisnya, seperti merasa bangga. "Lo lebih hebat dari yang gue kira," katanya dengan nada penuh apresiasi. "Gue balik ke keluarga gue, sedangkan lo berhasil bikin orang yang benci lo jadi jatuh cinta sama lo. Kita pantas dapet ending bahagia, kan?"