"Jangan nyapa lagi ya, aku udah sejauh ini buat sembuh." ~Jenia Amaya
Laut dan langit, keduanya ditakdirkan untuk berpisah namun tetap saling melengkapi. Ethan Nathaniel ibarat langit, yang segala halnya bisa berubah sewaktu-waktu. Setiap kali langi...
"Terkadang, luka paling dalam datang dari orang yang seharusnya jadi tempat pulang."
•Laut Untuk Langit•
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenapa kamu nggak mau kalah dari Kanaya, hah? Kamu tahu kan kondisi Kanaya buruk akhir-akhir ini?"
Nada suara Arya menghantam udara seperti cambuk, memenuhi ruangan yang sepi. Tatapannya dingin, seperti pisau berkarat yang menggores perlahan, meninggalkan luka yang tak terlihat namun terasa pedih.
Jenia berdiri kaku, tubuhnya yang kecil hampir tenggelam di balik sweater kebesaran yang ia kenakan. Jemarinya mencengkeram erat ujung kain itu, berusaha menahan gemetar yang semakin terasa. Kata-kata ayahnya selalu menyakitkan, tapi hari ini... entah kenapa, terasa jauh lebih menghancurkan.
"Semuanya tentang Kanaya, apa Jenia nggak berhak bahagia, Pah?" suara Jenia bergetar, pelan namun penuh keberanian yang nyaris putus. Ia tahu, kata-kata itu mungkin hanya akan membuat situasi lebih buruk, tapi ia tak bisa lagi diam.
Arya menyipitkan mata, menatap putrinya seperti melihat sesuatu yang menjijikkan. Ia mendengus sinis, melangkah maju dengan sorot mata yang menusuk. "Bahagia? Kamu pikir kamu pantas bahagia, Jenia? Apa yang kamu punya buat dibanggakan? Kamu cuma... beban."
Kata terakhir itu keluar dengan penuh tekanan, seperti sesuatu yang telah Arya pendam terlalu lama.
"Beban?" Jenia mengulang, seolah mencoba memahami apakah ia tidak salah dengar. Tenggorokannya tercekat, napasnya tersengal. Air mata menggenang di matanya, tapi ia memaksa dirinya untuk tetap menatap ayahnya. "Papa nggak pernah peduli sama aku, ya? Papa cuma peduli sama Kanaya..."
"Apa yang mau Papa pedulikan dari kamu?" Arya menyela dengan nada dingin yang begitu tajam hingga membuat Jenia terdiam. "Lihat diri kamu, Jenia. Apa kamu kira Papa bisa bangga sama anak yang lemah, anak yang selalu iri sama saudaranya sendiri? Kamu pikir Papa punya waktu buat denger keluhan kamu?"
Perkataan itu adalah pisau yang menghujam berkali-kali tanpa henti. Pipi Jenia memanas, bukan hanya karena rasa malu, tapi juga karena tamparan verbal yang terus diberikan oleh ayahnya. Arya semakin mendekat, wajahnya penuh dengan kebencian yang ia tunjukkan tanpa ragu.
"Kamu bahkan nggak bisa bantu apa-apa di rumah ini. Kamu tahu apa yang Papa lihat setiap kali kamu muncul?" Arya mendekatkan wajahnya, menatap mata Jenia yang kini dipenuhi air mata. "Papa lihat sebuah kegagalan. Dan semakin lama kamu ada di sini, semakin jijik Papa sama kamu."
Jenia terhuyung mundur. Kata-kata itu begitu kejam, lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan. Tangisnya pecah seketika, tapi ia membekap mulutnya sendiri, berusaha menahan agar suara itu tidak terdengar.
"Kalau cuma mau menangis, keluar dari ruangan ini," Arya mengibaskan tangannya seolah mengusir sesuatu yang tidak penting. "Papa nggak butuh liat muka kamu lagi."