EXTRA CHAPTER: 02

1.5K 45 6
                                        

07 Desember 2022,

Hujan belum reda sejak pagi, tapi Ethan tetap datang. Mobilnya berhenti di jalan setapak yang basah, lumpur menempel di ujung celana saat ia melangkah pelan menuju satu petak tanah yang sudah lama tak ia kunjungi. Di tangannya, seikat bunga lili putih dibungkus kertas cokelat, basah oleh gerimis.

Makam ibunya terletak di sudut paling tenang, di bawah pohon trembesi tua yang daunnya rontok satu-satu. Batu nisan itu masih bersih, namanya terukir jelas: Tiffany Halim. Tahun wafatnya seperti garis penutup yang terlalu awal. Ethan berjongkok, lalu duduk di atas rumput basah, membiarkan lututnya kotor.

“Hai, Ma…” suaranya nyaris tak terdengar, tercekat oleh udara dingin dan sesuatu yang berat di tenggorokannya. “Maaf, baru sempat ke sini lagi. Ethan sibuk… atau pura-pura sibuk, mungkin.

Tangannya menggenggam bunga itu erat, seolah takut terlepas.

“Kadang aku mikir, kalau Mama masih ada, mungkin aku nggak seberantakan ini. Mungkin… aku masih bisa belajar percaya sama orang. Masih bisa percaya sama diri sendiri.”

Angin berembus pelan, membawa suara dedaunan yang basah dan berat. Ethan memejamkan mata sebentar. Di sinilah ia merasa paling jujur. Tak ada yang ia sembunyikan di hadapan ibunya. Bukan tentang kehilangan Jenia, bukan tentang rasa kosong yang tak pernah benar-benar hilang sejak kepergian ibunya sendiri.

“Aku capek, Ma.” Nada suaranya retak. “Tiap hari bangun cuma buat ngisi waktu, buat nggak mikir, buat pura-pura semuanya baik-baik aja. Tapi malamnya selalu sama—sunyi, kosong, dan aku makin nggak tahu harus jadi siapa.”

Ia menarik napas dalam, lalu menghela panjang.

“Dulu Mama bilang, waktu akan bantu. Tapi ternyata… waktu cuma bikin aku makin jago menyembunyikan semuanya.”

Hujan mulai turun lebih deras, tapi Ethan tetap diam di sana. Jaketnya basah, rambutnya menempel di dahi, tapi ia tak bergeming. Ia menunduk, menyentuhkan keningnya ke atas batu nisan, dingin dan diam, seperti pelukan yang tak bisa ia dapatkan lagi.

Beberapa menit berlalu dalam hening. Ethan berdiri mematung di depan nisan itu, matanya tertuju pada nama yang terukir di batu dingin. Ia menarik napas panjang, mencoba menelan getir yang menggumpal di tenggorokannya.

“Aku bakal balik, Ma. Tapi entah kapan.” Senyumnya kecil, tapi berat. “Aku cuma pengen Mama tahu… aku masih bertahan. Masih nyoba bertahan.”

Langkahnya berat meninggalkan makam itu. Tapi di dalam dirinya, luka lama yang selama ini berusaha ia tutupi, terasa kembali menganga.

Sampai langkahnya terhenti. Satu nisan lain menarik pandangannya. Nisan yang kosong. Ethan berdiri kaku di sana, tangannya terkepal di dalam saku jaket.

"Gue berharap lo masih hidup," katanya, suaranya nyaris berbisik. Ia terdiam lama, bibirnya bergetar, seolah terlalu banyak kata yang menumpuk tapi tak kunjung terucap. “Dulu gue marah tiap kali lo buat dia ketawa. Sekarang gue sadar... semua hal yang gue lakuin nggak pernah sebanding sama yang lo kasih ke dia.”

Ia menunduk, matanya memejam. Angin dingin berembus, membawa aroma tanah basah dan kenangan yang tak pernah benar-benar pergi.

“Cuma lo orangnya, Noan. Gue ngaku kalah sama lo,” suaranya bergetar. “Harusnya gue nggak benci lo. Harusnya gue lepasin Jenia buat lo. Gue terlalu serakah. Terlalu takut buat kalah. Dan sekarang… gue kehilangan semuanya.”

Ia menghela napas panjang, rasa sesak itu masih mencengkramnya erat. Jemarinya mengepal semakin kuat di dalam saku jaketnya, seolah mencoba menahan semua rasa yang berdesakan di dalam dadanya.

LAUT UNTUK LANGIT (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang