Final Decision Made

1 0 0
                                        

Kensuke memandu laju menuju gaming house pasukan mereka. Setiap pusingan stereng terasa berat, membawa dia semakin dekat kepada konfrontasi yang bakal berlaku.

Hatinya berdebar, bukan lagi kerana kesedihan, tetapi kerana ketegangan yang kian memuncak. Dia tahu, dia akan menghadapi kemarahan dan kekecewaan rakan sepasukan yang sudah dianggapnya seperti keluarga.

Setibanya di sana, suasana di gaming house terasa tegang. Bunyi ketukan papan kekunci dan suara headset yang biasanya riuh-rendah kini senyap. Di ruang utama, kesemua ahli pasukan sudah berkumpul, menunggu kehadirannya.

Wajah Coach Starlash kelihatan merah menahan marah. Di sebelahnya berdiri Slash, kapten pasukan, dengan wajah mendung. Tiga lagi ahli pasukan, Flame, Solaris dan Coco, memandang Kensuke dengan pandangan antara keliru dan dikhianati.

"Kensuke! Finally you show up!" Coach Starlash memecah kesunyian, suaranya menggelegar. "Did you really mean what you sent earlier? You're pulling out of the Japan MOBA Championship?"

Kensuke menghela nafas dalam. "Yes, Coach. I did," jawabnya, cuba menguatkan suara.

"Are you insane, Kensuke?! This is the biggest tournament of the year! We've been preparing for this for months! Years, even!" Slash melangkah ke hadapan, matanya memancarkan api kemarahan.

"Do you know what this means for us? For the team? For our sponsorship?!" Coco, yang biasanya ceria, kini kelihatan muram. "Kensuke, kenapa? You're our star player! We can't win without you!"

"I know," Kensuke membalas, rasa bersalah mula membuak. "And I'm truly sorry. But I made a choice. There are things more important right now."

"More important than your career? More important than our shared dream?" Flame menyampuk, suaranya kedengaran kecewa. "We sacrificed so much for this, Kensuke! You think we don't have personal lives? We put everything on hold for this tournament!"

"It's about Caitlyn, isn't it?" Solaris, yang selalunya pendiam, akhirnya bersuara. "You're sacrificing your dream for a girl?" Ada nada sinis dalam suaranya.

"It's not just 'a girl', Solaris. It's about my relationship. My future," Kensuke cuba menjelaskan, namun kata-katanya tenggelam dalam amarah mereka.

"Future?! What future, Kensuke?! You're throwing away a guaranteed future in esports for... what?! A girlfriend who can't understand your passion?!" Slash menjerit, mendekati Kensuke. "You're betraying us! All of us!"

Coach Starlash mengangkat tangan, menyuruh semua diam. "Kensuke," katanya, suaranya kini lebih tenang tetapi penuh kekecewaan. "I gave you a few hours to reconsider. This is your final decision?"

Kensuke memandang setiap wajah di hadapannya. Dia melihat kemarahan, kekecewaan, dan juga rasa dikhianati. Dia tahu, keputusan ini akan mengubah segalanya. Bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk seluruh pasukan.

"Yes, Coach," Kensuke mengangguk perlahan, walaupun hatinya terasa dirobek. "This is my final decision. I'm pulling out."

Suasana kembali senyap, kali ini lebih berat dan menusuk. Coach Starlash menutup matanya, menghela nafas panjang. Slash berpaling, tidak sanggup lagi memandang Kensuke.

"Fine, Kensuke," kata Coach Starlash, suaranya perlahan namun tegas. "If that's your choice, then we respect it. But don't expect to just walk back in when you decide your 'relationship' is less important than your career. We have to find a replacement immediately. The team's future is at stake."

Kensuke hanya mampu mengangguk. Dia tahu, kata-kata itu adalah penamat bagi satu babak dalam hidupnya.

Impiannya dalam esports, yang dibina dengan keringat dan air mata, kini berakhir.

Defeated To HerWhere stories live. Discover now