Vertrag ; Final Chapter

630 53 5
                                        




Bersimbah keringat dingin bercampur air mata Atsumu menyambut pagi yang datang terlalu cepat. Di sisinya ada Kiyoomi yang masih lelap dengan lengan melingkari pinggangnya. Iris keemasan itu menatap dalam, mengamati wajah lelah alpha berhias kantung mata kehitaman.

Kiyoomi pasti kelelahan usai mengurusnya dan Ayumi secara bersamaan namuin dituntut harus tetap profesional dalam pekerjaannya.

Atsumu tak enak hati sebab tenggelam dalam duka terlalu lama. Tak dipungkiri kehilangan buah hati mampu membuat dunianya seolah luluh lantak tak bersisa.
Namun berkat mimpi yang seolah hadir bak tamparan nyata untuknya semalam mampu membuka mata dan pikiran Atsumu kembali pada realita, bahwa ada sosok lain yang bergantung padanya. Kiyoomi dan putri mereka pasti menunggu lama untuknya bangkit dari keterpurukan.

Perlahan meninggalkan sisi Kiyoomi, ia beralih menuju kamar si gadis kecil yang nampak tak terusik kala Atsumu membenarkan selimut yang ia kenakan. Senyum tipis tercipta sekaligus rasa bersalah telah mengabaikan putri sulungnya yang perlahan pasti merasakan kesepian. Atsumu berdosa untuk hal itu.

"Setelah ini papa harap Ayu masih mau bermain bersama papa, ya?" Bisiknya sendu.

Sebelum semua orang terbangun maka biarkan Atsumu berkutat di dapur untuk menyambut lembaran baru keluarga kecil mereka.

Kicau burung beradu dengan dering alaram ponsel membangunkan dari mimpi panjangnya. Kiyoomi terpekur sesaat ketika hanya ada dirinya yang berada di ranjang mereka. Tidak ada surai pirang di mana pun jelaganya menelisik tiap ruangan bahkan ketika Kiyoomi memasuki area dapur.

Perasaan kalut mulai menyelimuti, gelisah menggerogoti hatinya yang kian panik. Atsumu belum pulih secara penuh, Kiyoomi tidak bisa membayangkan hal buruk terjadi pada pasangannya. Ia bahkan tak mampu untuk sekedar menduga.

Usai suara pintu utama terdengar, Kiyoomi berjalan terburu menghampiri. Tepat berada di sana, Atsumu yang terlihat keheranan memandang penuh tanya. Kondisinya luar biasa baik, tidak ada kekurangan sedikit pun dari apa yang Kiyoomi ingat.

"Eh? Apa aku pergi terlalu lama?"

Tanpa menjawab, Kiyoomi memeluknya erat. Sangat terlihat jika ia ketakutan setengah mati sebab omega tak berada dalam jangkauan. Ia nyaris meluapkan emosi, namun urung dilakukan tatkala Atsumu kembali dengan keadaan baik.

"Kiyoo? Uhh.. maaf aku membuat khawatir karena pergi tanpa berpamitan. Aku baru saja berziarah ke makam Akihiro."

"Aku ketakutan. Tolong jangan pergi tanpa sepengetahuanku lagi."

Atsumu terkekeh, menepuk punggung suami besarnya. "Baiklah, ini yang terakhir aku berjanji."

Kiyoomi larut dalam ketakutan hingga tak menyadari jika kondisi omega jauh lebih baik hari ini. Tidak ada lagi pandangan kosong dari kelereng emas Atsumu, bahkan ia terlihat jauh lebih segar dengan senyuman cerah dan pipi yang merona. Sama seperti Atsumu yang lama ia kenal.

"Semalam ayah dan Hiro-chan datang ke mimpiku. Mereka berdua nampak akrab bahkan ia memanggil ayah dengan sebutan 'ji-chan', membuatku iri saja." Pandangannya menerawang kembali pada mimpinya semalam.

Dalam mimpi singkat yang terasa indah itu putra kecilnya mendatangi Atsumu dengan riang, dengan wajah tampannya yang lucu, surainya yang sewarna jingga dengan bola mata sehitam jelaga yang begitu polos dan lugu. Perpaduan sempurna antara ia dan Kiyoomi hadir pada putra kecilnya.

Suara riangnya yang kekanakan berkata jika ia senang bermain di taman eden, berlarian di taman bunga ditemani dengan kelinci putih dan kakek.

Tak berselang lama figur mendiang ayah muncul dari kejauhan dengan putra kecilnya  yang menghambur kedalam dekapan pria tua tersebut. Atsumu membatin iri, ikatan antara mereka nampak erat meski sejatinya tidak pernah bertemu.

Vertrag ; SakuAtsuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang