Liya memainkan jemarinya diatas keyboard laptop miliknya. mendung menghiasi langit sore menjadi kelabu. seseorang memperhatikannya dari jauh. tangannya memegang nampan berisi sepiring martabak cokelat keju, tak lupa dengan segelas susu jahe favorit Liya. seraya menghampiri gadis itu. namun nampaknya, Liya tidak menggubris keberadaan laki-laki itu.
"lo mau sampe kapan ngambek gini?"
Liya mendelikkan matanya.
"sampe Ezra maafin lo lah. siapa suruh bego!" sarkas, ya begitulah watak Liya.
"lama dong?"
Liya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.
"dimakan" Simon menyodorkan martabak yang ia bawa.
"diet" sahut Liya tanpa memalingkan wajahnya dari layar laptop.
"di meja makan ada topoki sama mozzarella. level pedesnya sesuai sama selera lo" ucap Simon sambil mendudukan bokongnya.
mendengar hal itu, spontan Liya menghentikan ketikan jemarinya. Simon tersenyum tipis.
"gaboleh dimakan kalo martabaknya belum habis!"
"ish"
Liya menarik piring yang berisikan martabak dan melahapnya buru-buru.
Simon memperhatikan gadis di depannya yang makan dengan tergesa-gesa. dirinya tertawa pelan.
"gue tau lo gak pernah bener-bener marah sama gue"
"sotoy" ucap Liya dengan mulut penuhnya.
"buktinya tiap sogokan yang gue bawa selalu ludes di perut lo"
Liya menghentikan kunyahannya. batinnya menyetujui apa yang Simon ucapkan.
"daripada gak kemakan" sahutnya.
"gapapa, gue masih punya banyak uang buat beliin semua yang lo mau"
"gue ga bakal minta juga kok"
"untungnya gue tipe cowok tampan yang berinisiatif" ucap Simon membanggakan dirinya. "lo gak ada niatan suka sama gue?" sambungnya.
"gausah bercanda, gak lucu"
"kalo gue serius gimana?"
Liya menatap Simon dalam-dalam. tak ada wajah-wajah jahil yang biasanya Simon tampilkan ketika memang sedang mengajaknya bercanda. hanya ada keseriusan yang terpampang. Simon memajukan sedikit tubuhnya hingga jaraknya dengan Liya hanya sejengkal tangan.
"kita saudara jauh. jadi sah-sah aja kalo gue mau serius sama lo. bertahun-tahun gue lawan dan bersikap biasa aja layaknya seorang kakak buat lo. tapi kali ini gue gak bisa. gue mau coba milikin lo, sepenuhnya"
Simon menangkup wajah Liya yang masih penuh dengan martabak. jempolnya mengusap sudut bibir Liya yang terdapat bekas cokelat dan menjilatnya.
"gue tunggu jawabannya, manis" ucap Simon sambil mengacak pelan rambut Liya dan beranjak pergi dari sana. meninggalkan Liya yang masi terbungkam karena bingung harus apa.
***
Ezra manatap nanar salah satu buku yang letaknya di rak paling atas. tentu saja tak bisa ia gapai karena ia terlalu pendek. ia bahkan sedikit melompat untuk mengusahakan keinginannya, tapi tetap saja tidak sampai. saat ini ia sedang berada di toko buku. ia bersikeras ke tempat ini untuk sekedar me time yang tentu saja awalnya tidak diizinkan oleh Jeff. karena rencana awal, Jeff ingin mengajaknya pergi ke salah satu perusahaan milik Robert untuk meeting bulanan. Jeff sudah dipersiapkan untuk memegang beberapa perusahaan sebagai direktur utama yang akan ia jalani dalam beberapa tahun kedepan. membayangkannya saja membuat Ezra mual karena pastinya pertemuan itu sangat membosankan. akhirnya Ezra memaksa Jeff untuk meninggalkannya ditoko buku, yup dengan jurus andalan ibu hamil.
KAMU SEDANG MEMBACA
ACCIDENT
Jugendliteratur⛔ Bukan Tempat Untuk Plagiat -- "Yang di perut lo anak gue kan?" Ezra terdiam, Tak berani menjawab. "Berani-beraninya lo sembunyiin ini dari gue?!" Ucap Jeff dengan nada pelan namun menusuk sambil melempar testpack yang mendarat tepat didepan sepat...
