20

728 24 5
                                        

Ezra membuka matanya dengan cepat. nafasnya tak beraturan. keringat membasahi tubuhnya. mimpi itu kembali menghantui Ezra. mimpi buruk yang sudah beberapa minggu tidak datang kini kembali muncul. bertepatan dengan Jeff yang baru saja memasuki kamar.

"Kenapa? mimpi buruk lagi?" tanya laki-laki itu.

Ezra tidak menjawab. ia mengambil segelas air di atas nakas dan meminumnya hingga kandas.

"Semenjak gue hamil gue jadi lebih sering mimpi buruk. dan mimpi itu gak jauh-jauh dari iblis kepala kambing yang pernah gue lihat di apart"

Jeff membuka satu persatu kemejanya, melemparnya asal. dan kini, laki-laki itu menaiki kasur. duduk disamping Ezra, mendengarkan cerita perempuan itu dengan seksama. Jeff menatap dalam-dalam mata Ezra.

"Iblis kepala kambing?" tanya Jeff dengan wajah yang dibuat bingung.

Ezra mengangguk sebagai jawaban. 

"Entah mimpi atau beneran, tapi terlalu nyata buat disebut mimpi" ucap Ezra. "Sekte apa yang keluarga lo anut? apa gue tumbal selanjutnya?" sambung perempuan itu, menatap Jeff tajam. sedangkan Jeff hanya menampilkan smirk kecil. laki-laki itu mencondongkan badannya ke Ezra dan mengecup singkat bibir perempuan itu.

"Jaga omongan lo kalo gak mau kejadian semalam keulang lagi" ucap Jeff dengan nada rendah dan menusuk.

Ezra menarik badannya dan mengelap kasar bibirnya yang baru saja di kecup Jeff. sedangkan  Jeff yang melihat hal itu tertawa kecil.

"Seperti yang pernah gue jelasin sebelumnya, Ritual yang waktu itu lo lakuin hanya berlaku untuk orang baru yang masuk ke keluarga gue tanpa ada ikatan darah yang sama. dan lo lah orang terpilih itu yang sekarang jadi pasangan gue"

Ezra mengernyitkan dahinya. "And then?"

"Keluarga gue punya tradisi buat menikahkan setiap anak yang lahir dengan anak lain yang masih satu keturunan. tradisi itu dimulai ketika anak itu berusia 18 tahun. tapi, karna lo orang asing jadi perlu ritual khusus supaya lo bisa jadi bagian dari keluarga ini"

Ezra berpikir sejenak.

"Apa cewek kemarin yang harusnya di jodohin sama lo?" 

Jeff menatap Ezra, ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

"Jadi, apa gue disini termasuk orang ketiga?" tanya Ezra

Jeff menggeleng sebagai jawaban. "Lo orang yang gue pilih" ucap Jeff

Ezra mendecih pelan.

" Fuck you!  kalo lo gak mabuk malam itu, gue gak mungkin ada disini" 

mendengar hal itu Jeff tertawa.

"Gue tau kita di jebak, tapi jebakan itu menguntungkan kita"

"Gue pikir cuma lo yang diuntungkan disini. karna bisa terbebas dari perjodohan itu" ucap Ezra.

"Lo juga untung"

"Untungnya?"

"Karna sekarang lo jadi nyonya konglomerat, gue tau lo gak pernah kepikiran bakal ada di posisi ini" ucap Jeff dengan nada bangga.

Ezra tertawa pelan.

"Gue lebih milih harus kerja terus-terusan karna hidup susah daripada harus hidup sama manusia brengsek kayak lo!"

Jeff kembali tertawa sebagai jawaban.

"Munafik!"

Suara pintu terketuk dari luar. Jeff segera turun dari kasurnya dan membuka  pintu kamarnya.

"Maaf tuan menganggu waktu anda, ada tuan Simon di luar sedang menunggu anda" ucap Anya.

Mendengar hal itu Ezra berjalan ke arah jendela, melihat ke arah luar. terlihat Simon bersama dengan seorang perempuan.

'Liya? ' Batin Ezra.

Ezra berlari kecil keluar kamar mendahului Jeff untuk menemui Simon yang ia pikir bersama Liya, sahabatnya.

Namun setelah sampai, ternyata dugaannya salah.

"Kak Fani?"

***

Ezra mengusap air matanya yang turun. matanya menatap lama layar ponselnya. hampir 1 bulan ia tidak memainkan gadget lamanya itu karna Jeff membelikan yang baru yang pastinya lebih mahal dengan syarat ia tidak boleh menghubungi orang-orang terdekatnya termasuk Liya.

Namun, Ezra diam-diam masih menyimpan ponsel lamanya. padahal Jeff sudah menyuruhnya untuk membuang gadget itu.

Terlihat banyak sekali pesan dari beberapa orang, salah satunya dari Liya. ada 100+ pesan dari gadis itu yang baru sempat ia baca. ia memasuki roomchat dirinya bersama sahabatnya itu. menggesernya sampai bawah, hingga berada di pesan terakhir.

Pacarnya Jay

Gue kecewa, kenapa gue harus tau dari orang lain soal keadaan lo sekarang. tapi gue pikir, lo punya alasan kenapa ga ceritain itu. lo punya banyak hutang cerita sama gue ra!!!

Ezra membuang nafasnya lega. alasan kenapa ia sangat menyayangi Liya karna sahabatnya itu mampu berpikir logis, tak peduli sekecewa apapun dia terhadap sesuatu. 

Ezra keluar dari roomchatnya bersama Liya. dan melanjutkan scroll sampai bawah hingga satu pesan yang membuat air matanya kembali turun.

Mama

Nak, mama kangen...

Baru saja ia menekan keyboard mau membalas pesan itu, tiba -tiba seseorang merebut paksa ponselnya dan membantingnya hingga hancur.

"Bukannya gue udah bilang untuk buang hp butut lo itu?!" Ucap seseorang yang ternyata adalah Jeff.

Ezra menatap nanar ponsel lamanya yang sudah hancur berkeping-keping.

"Mama. gue kangen Mama, Jeff" Ucap Ezra dengan mata sembabnya sambil menatap Jeff. namun bukannya iba, Jeff malah semakin murka. laki-laki itu mencengkram kedua lengan Ezra.

"Selama lo jadi istri gue, yang bisa lo anggap keluarga, hanya keluarga gue. sisanya lo harus anggap semuanya udah mati, termasuk Mama lo!"

****





ACCIDENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang