22

375 20 2
                                        

"Li, buka pintunya"

sudah 15 menit Simon mengetuk pintu kamar Liya, namun tetap saja tidak ada jawaban. Ia sudah membayangkan reaksi Jeff dan Ezra setelah mengetahui fakta tersebut akan seperti apa. namun, ia lupa memikirkan reaksi Liya. tentu sakit yang dirasakan oleh Liya, sama dengan yang dirasakan oleh Ezra. Mengingat, mereka sudah berteman cukup lama.

Sedangkan didalam kamar, Liya menangis tersedu-sedu. ia tidak ada campur tangan terhadap kejadian itu, namun dirinya merasa bersalah.

"Gue harus ketemu Ezra malam ini"

Liya melirik sekilas ke arah jendela. hujan lebat membasahi gorden kamarnya karena jendelanya lupa ia tutup. Ia tidak ingin bertemu dengan Simon saat ini. Jadi, Ia tau harus lewat mana ia pergi.

Di lain tempat, Ezra sedang menonton acara TV favoritnya di ruang keluarga. ditemani dengan cemilan yang Jeff buat. dirinya tidak menyangka jika Jeff bisa memasak. sedangkan Jeff hanya diam memandangi wajah Ezra yang menurutnya terlihat cantik tanpa make up.

"Gue baru sadar kalo lo secantik ini" Ucap Jeff tiba-tiba.

Ezra menghembuskan nafasnya pelan. entahlah ia jengah dengan sikap Jeff hari ini. sepulang dari Rumah Sakit tadi, Jeff tak henti-hentinya memandangi Ezra. apapun yang Ezra lakukan, nampaknya selalu tidak luput dari pandangan Jeff.

Ezra membalas tatapan Jeff dengan mulut penuhnya. melihat hal itu Jeff gemas sendiri.

"kalo lo gini terus, bisa-bisa gue colok mata lo ya!"

Jeff spontan memajukan badannya. telunjuknya ia letakkan di bibir Ezra. hal itu tentu saja membuat Ezra mematung ditempat.

"ssttt..."

Ezra menegang. ia bisa merasakan nafas Jeff yang berhembus di pipinya. menurutnya, posisi Jeff terlalu dekat.

"Jangan berisik kalo gamau gue bungkam pake mulut gue"

bersamaan dengan itu, suara petir mengagetkan mereka berdua. Ezra reflek merapatkan badannya ke badan Jeff. laki-laki itu mengusap punggung Ezra. Nyaman, itulah yang Ezra rasakan.

"udah malem, ayo tidur" ucap Jeff.

namun, belum sempat Ezra beranjak, Anya datang setengah berlari.

"maaf tuan, ada tamu"

Ezra dan Jeff saling pandang satu sama lain. bingung, siapa yang bertamu malam-malam begini. terlebih, juga hujan lebat  diluar.

"lo masuk duluan, nanti gue susul" 

Ezra mengangguk sebagai balasan. ia dibantu oleh Anya. karena perutnya sudah terlihat membuncit, Ezra merasa perlu sedikit bantuan untuk bergerak. mengingat, didalam perutnya ini ada 3 janin yang ia tampung.

melihat Ezra sudah sedikit menjauh dari pandangannya, langsung saja Jeff bergegas menuju pintu depan rumahnya. alisnya bertaut ketika melihat seorang perempuan yang membelakanginya. tubuhnya basah terkena hujan. seketika, perempuan itu membalikan badannya.

"Liya?"

"Gue perlu ngobrol sama Ezra. plis izinin gue ketemu Ezra" ucap Liya setengah memohon.

"Ezra dikamar. gue harap lo gak ganggu waktu istirahatnya karna sekarang udah hampir larut" ucap Jeff dengan wajah datarnya.

mendengar hal itu, Liya hanya tertunduk lemas. sia-sia saja pengorbanannya basah kuyup seperti ini.

dengan sedikit iba, jeff membuka lebar pintu rumahnya.

"masuk, gue gak mau babak belur ditangan Simon karena ngebiarin sepupunya basah-basahan tengah malem gini"

Liya berdecih pelan sebagai jawaban. 

ACCIDENTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang