Chapter 23

176 16 7
                                        

Tanpa pikir panjang, Lizzy menghambur memeluk pria itu. Pria tampan keturunan bangsawan yang menjadikan Lizzy wanita bodoh karena terus-terusan memikirkannya padahal pria itu sudah memiliki tunangan. Lizzy tidak peduli dirinya bodoh. Rindunya membuncah, tak dapat lagi dibendung sekuat apapun. Dia hanya ingin merasakan momen ini.

Melihat Lizzy mengenakan baju rumah sakit dengan selang infus terpasang di punggung tangan membuat Gerald merasakan sakitnya. Direngkuhnya tubuh molek Lizzy ke dalam dada. Dibelainya rambut hitam panjang wanita itu, ditunjukkannya rasa sayang yang luar biasa besar. Detik itu juga, dia menyadari bahwa dirinya tidak dapat hidup tanpa Lizzy. "Apa jadinya aku kalau tidak ada kau," katanya lembut.

"Akulah yang sedang dirawat di rumah sakit," balas Lizzy. Kekehan Gerald terdengar menyenangkan di telinganya.

Gerald-lah yang pertama melepaskan pelukannya. Dia menangkupkan kedua tangannya di pipi Lizzy, lalu menatap bola mata hijau itu. "Kau masih lemah. Sebaiknya kau duduk dulu," katanya seraya membimbing Lizzy ke tepi ranjang. Tak lupa dia juga membawa serta tiang infus Lizzy.

Setelah duduk di sebelah Lizzy, Gerald tersenyum, menampilkan lesung pipi yang membuat pria itu lebih tampan berkali-kali lipat. "Aku lega kau tidak apa-apa. Aku tidak ingin kehilanganmu, Lizzy. Saat kudengar kau tersedak sampai pingsan, jantungku berhenti seketika. Detik itu, yang ingin kulakukan adalah datang ke sini mencarimu. Rasanya seperti serangan jantung, menusuk dan menyakitkan."

Lizzy mendengarkan setiap kata yang meluncur dari mulut Gerald sambil memperhatikan penampilan bangsawan itu. Jas panjang, celana panjang, kaos turtleneck, chelsea boots, serta flat cap. Pria itu sangat menawan. Aura darah biru memang berbeda, batin Lizzy. Dia membayangkan akan terlihat seperti apa jika nanti Gerald mengenakan setelan jas pesanannya. Benar-benar tidak dapat dideskripsikan.

"Hei, apa kau mendengarku barusan?" Gerald menjentikkan jarinya di depan hidung Lizzy, membuat wanita itu berkedip.

"Oh, maaf. Aku mendengarmu, Sir. Aku hanya sedang..."

"Sedang apa?"

"Membayangkanmu," jawab Lizzy jujur.

"Aku ada di sini tapi kau masih membayangkan aku. Bagaimana aku bisa percaya?" Gerald memutar bola matanya.

Lizzy hanya tergelak. Apa yang dibayangkannya, Gerald tidak perlu tahu.

"Di mana pacarmu?" tanya Gerald tiba-tiba.

Lizzy ingat dia pernah menyebutkan bahwa dirinya punya pacar, yaitu sesama teman kuliah. "Dia tidak datang," jawabnya.

"Oh ya? Bukankah tadi malam kalian sedang makan bersama?"

Lizzy baru sadar pertanyaan Gerald merujuk kepada James. "Oh... Ya, tadi malam kami sedang makan, lalu tiba-tiba aku tersedak. Aku beruntung pacarku segera bertindak. Kalau tidak, mungkin kau hanya menemui mayatku hari ini," Lizzy tergelak. Gerald menganggap Lizzy mempunyai pacar, jadi untuk apa Lizzy berharap yang bukan-bukan. Gerald datang hanya karena khawatir, bukan berarti dia menyukaimu, pikirnya.

"Tentu saja dia pasti bisa diandalkan," ujar Gerald. Lizzy sudah punya orang yang dapat menjaganya, tak ada lagi harapan bagi Gerald untuk lalui perbatasan hati Lizzy, meskipun dirinya sangat menyayangi wanita itu. Sudahlah, kau pun sudah bertunangan dengan Emily, batin Gerald. "Kapan kau bisa pulang?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.

"Sore ini aku diperbolehkan pulang. Aku hanya butuh istirahat sebentar," jawab Lizzy.

Mau kuantar... ah, tidak. Gerald mengurungkan niat baiknya. Lizzy pasti akan dijemput oleh pacarnya. "Boleh aku tahu nama pacarmu?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Duke And ITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang