Lizzy tak menyangka James berani menyatakan niatnya merekrut Lizzy di depan Ariana. Dapat dipastikan James dan Ariana sudah lama memiliki hubungan yang belum jelas ini. Entah teman, musuh, atau yang lain. Lizzy diam menunggu reaksi dari Sang Bos. Perkiraannya, Ariana akan marah.
Benar saja. Air muka Ariana mengeras. "Sudah kubilang tidak. Kau masih saja memaksa," ujarnya kesal. Namun, dia beralih kepada Lizzy. "Kecuali, orangnya sendiri yang memang ingin pindah kerja. Bagaimana, Lizzy?"
Tentu Lizzy juga menolak tawaran James. "Aku tidak berencana pindah kerja, Ariana. Fashion adalah passion-ku," jawabnya.
"Kau dengar sendiri, bukan? Lizzy tidak mau bekerja untukmu," Ariana memamerkan senyum kemenangan kepada James.
James sendiri menggelengkan kepala. "Kau memang selalu ingin menang, ya. Aku terima keputusan Lizzy yang tidak mau bekerja untukku, tetapi bagaimana jika kutawarkan dia untuk menikah denganku?"
"What? Are you crazy?" Ariana tak habis pikir. Bagaimana bisa ada pria seperti James Sullivan yang ingin menikah dengan wanita yang belum lama dikenalnya? "Kau baru pertama kali bertemu dengannya minggu lalu!"
"Yeah, but I like her. What do you say, Mom?" James menekankan kata "mom" pada kalimatnya karena Ariana terkesan seperti seorang ibu yang anaknya mau diambil orang.
"No. A hunderd percent no."
"Come on, Ariana!"
James dan Ariana berdebat. Keduanya sama-sama keras kepala mempertahankan argumen masing-masing.
"Guys, are you really..." Lizzy tidak dapat menyela omongan mereka yang terdengar seperti suara lokomotif. "Guys? Stop!" seru Lizzy akhirnya.
Ariana menoleh kepada Lizzy. "Percayalah padaku, Lizzy! Jangan kau terima tawaran pria lemah ini," sarannya.
"Lemah?" James tidak terima dirinya dikatai lemah. "Lizzy, jika kau menerimaku, akan kuberikan seluruh kekayaanku hanya kepadamu."
Ariana berdecak. "Jangan percaya omongannya! Kau pun belum lama mengenalnya, bukan? Jangan tertipu oleh mulut manisnya!"
"Hey! Sejak kapan aku jadi penipu? Memangnya aku pernah menipumu?"
Perdebatan kembali terjadi, seolah-olah setiap topik yang dibicarakan akan menimbulkan konflik di antara James dan Ariana. Mau dibilang teman lama, sepertinya mereka bahkan sama sekali tidak berteman.
Lizzy memperhatikan James dan Ariana saling adu argumen. Lama-kelamaan perdebatan mereka semakin melenceng ke luar topik utama. Wanita itu jadi kesal. Dia mencari tombol pemanggil suster di samping tempat tidur dan menekannya setelah ketemu.
Tak sampai lima menit, seorang suster berperawakan gempal membuka pintu. "Permisi, ada ap... Ya, Tuhan!" serunya ketika melihat Ariana dan James masih saja berisik. "Kalian tidak boleh membuat keributan di rumah sakit!" katanya tegas.
Kedua profesional itu terdiam. Namun, sedetik kemudian, mereka saling menyalahkan karena ditegur oleh suster.
"Kalian bahkan dapat berkelahi jika sudah berada di luar!" tegas Sang Perawat lagi. Dia bahkan berkacak pinggang saking kesalnya. "Biarkan pasien beristirahat. Silakan kalian suami-istri melanjutkan pertengkaran kalian di luar. Jika tidak tahu pintu keluar, sekuriti akan menunjukkan jalannya."
Dalam hati, Lizzy tertawa terbahak-bahak karena mendengar suster menyebut James dan Ariana sebagai suami-istri. Memang mereka nampak demikian.
"Apa kau tahu siapa aku..." James melirik emblem nama Si Suster di bagian dada kiri. "Hannah?" Rupanya CEO tampan itu ingin menggunakan jabatannya untuk menyombongkan diri. Dia bahkan sempat menyunggingkan senyuman liciknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Duke And I
Romance18+ Pilih bacaan sesuai kategori umur yah Lizzy Scott diterima bekerja di perusahaan fashion yang diidamkannya selama masa kuliah. Sebagai asisten pribadi Ariana Langdon, desainer pakaian terkenal dunia, dia sangat senang bekerja di bawah Ariana lan...
