Chapter 21

302 19 0
                                        

"Should I say 'hi' or run away?" canda James. Pria tampan itu mengenakan kemeja putih dan setelan jas berwarna abu-abu tua. Kancing atas kemejanya terbuka, mengekspos sebagian kecil dada bidangnya. Dia nampak seperti orang pulang kantor.

"What are you doing here?" tanya Lizzy malas.

"Yang kuingat, tempat ini adalah tempat umum," jawab James.

Lizzy memutar bola matanya, berhasil membuat James terkekeh sekali lagi. "Aku sedang tidak ingin berdebat," katanya.

"Begitu pula denganku. Kenapa kau sangat judes padaku, Lizzy? Apa aku berbuat salah?" James menarik kursi di sebelah Lizzy.

Buru-buru Lizzy mencegahnya dengan berseru, "No!"

Beberapa tamu menoleh pada Lizzy. James menyadarinya, sehingga dia memanfaatkan keadaan dengan tetap duduk di kursi yang dia mau.

Lizzy tidak ingin menarik perhatian lebih. Karena itu, dia membiarkan pria itu duduk. Namun, wanita muda berambut hitam itu menggeser kursinya sendiri menjauh dari James.

"Kau sangat keras kepala," ujar James.

"Begitu pula denganmu," balas Lizzy.

James memperhatikan Lizzy mengambil burger dan menggigitnya besar-besar. Pria tampan itu menebak Lizzy pasti sengaja melakukannya agar burger itu cepat habis karena tidak mau berlama-lama duduk di sana. "Hati-hati tersedak," ledeknya.

Lizzy hanya melirik James tajam, lalu mendengkus. Sabar, sabar, kata Lizzy dalam hati. Tiba-tiba Lizzy teringat sesuatu. "Apa yang kau katakan kepada Ariana sampai beliau marah padaku?" tembaknya dengan mulut penuh burger.

"Dia marah padamu?" Bukannya menjawab, James malah balas bertanya. "Apa yang dia bilang?"

"Hei! Aku yang bertanya duluan!" seru Lizzy.

"Baik, baik. Aku hanya meminta Ariana untuk mengirimmu ke kantorku."

"Kenapa kau memintanya untuk mengirimku?"

"Karena aku ingin merekrutmu."

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak bersedia."

"Ya, tapi aku tetap mengusahakannya."

Lizzy menghela napas. Baru kali ini dia bertemu orang yang bebal. "Tentu saja Ariana marah. Dia tidak mungkin mengizinkanmu merekrutku," ujarnya.

"Kau begitu percaya diri, Lizzy," sindir James.

Lizzy boleh sombong dengan mengatakan bahwa Ariana tidak mungkin melepaskannya, baik kepada James Sullivan maupun orang lain, karena Lizzy sedang mengerjakan pesanan dari seorang Duke dan calon Duchess. "Aku percaya pada potensiku sendiri," katanya.

"I like that," James tersenyum. Pria itu memang suka pada wanita yang percaya pada dirinya sendiri karena hal itu menunjukkan bahwa wanita itu merupakan wanita yang kuat dan bertanggung jawab atas diri sendiri. "I won't give up, you know."

"Terserah kau saja, tapi aku tetap pada pendirianku," kata Lizzy tegas. Dilahapnya potongan terakhir burger dan dikunyahnya dengan cepat, tak mau membuang waktu untuk mendengarkan ocehan James. Setelah menelannya besar-besar, Lizzy minum dengan rakus seolah-olah belum minum dari pagi.

Hal itu membuat James tergelak. Dia menilai tingkah Lizzy sangat lucu dan menggemaskan seperti anak kecil yang sedang merajuk.

Lizzy terbatuk-batuk karena minuman dinginnya salah masuk saluran di dalam lehernya. "Uhuk! Uhuk!" Otaknya memberi perintah untuk mengeluarkan benda asing dari dalam tenggorokannya sebelum masuk ke dalam paru-paru.

The Duke And ITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang