Chapter 20

245 18 4
                                        

Tak terasa, libur satu hari telah dilewati begitu saja. Lizzy memanfaatkan hari liburnya untuk beristirahat di dalam unit apartemennya yang kecil. Tak ingin diganggu oleh siapa pun, dia mematikan ponselnya, sehingga bahkan Ariana, Sang Bos, tidak dapat menghubunginya.

Di pagi yang cerah itu, Lizzy melangkahkan kakinya membelah lobi gedung tempatnya bekerja di bawah Ariana Langdon. Disapanya Sarah seperti biasa. "Apa Ariana sudah datang?" tanyanya seraya berbisik.

"Ariana sudah datang dari tadi dan mungkin kau tidak akan ingin melihat wajahnya," jawab Sarah, juga berbisik.

Lizzy setengah terkejut. "Apa dia sedang datang bulan?"

"Seingatku sudah lewat. Kami menebak dia sedang bertengkar dengan pacarnya."

"Hmmm... Kurasa orang profesional seperti Ariana tidak akan menunjukkan masalah pribadinya di kantor."

"Ya, kau benar. Tapi kalau begitu, kenapa wajahnya seolah sedang ingin menelan seseorang hidup-hidup?"

Lizzy tergelak mendengar perumpamaan Sarah. Dia segera membayangkan Ariana siap menelan Greg. Namun, bayangannya buyar ketika telepon di meja Sarah berbunyi.

Sarah meletakkan telunjuknya di hidung, menyuruh Lizzy diam sebentar. "Ya, Ariana," jawabnya setelah mengangkat gagang telepon dan menekan satu tombol. "Ya, dia ada di sini," katanya merujuk pada Lizzy. "Baik." Sarah meletakkan gagang telepon dan berkata, "Lizzy menginginkanmu di kantornya sekarang juga dan aku menganjurkanmu segera ke sana karena dia terdengar sangat kesal."

Tidak menunggu lama, Lizzy meninggalkan Sarah di meja resepsionis. Dia melangkah cepat menuju lift dan menekan angka sepuluh. Buru-buru dia keluar ketika pintu lift terbuka di lantai tujuannya.

Diketuknya pintu ruangan Ariana dan diputarnya gagang pintu itu. Benar saja kata Sarah. Ekspresi desainer kelas dunia itu terlihat sangar dengan tatapan tajam kedua matanya dan bibir kerucutnya. "Kau ingin menemuiku, Ariana?" tanyanya hampir seperti mencicit karena nyalinya ciut.

Ariana bangkit berdiri, lalu menatap mata Lizzy dalam-dalam. Wanita cantik nan elegan itu membuka mulutnya. "Ada hubungan apa antara dirimu dan James Sullivan?" Sorot matanya menyelidik.

Degup jantung Lizzy menghantam rongga dadanya. "Tidak ada hubungan apa-apa, Ariana. Kami baru saja bertemu kemarin lusa," jawabnya. Dia mengerti jika salah bicara sedikit saja, maka habislah dia dimaki-maki oleh Si Bos. Jadi, Lizzy memutuskan untuk jujur.

"Lantas kenapa dia tiba-tiba meneleponku dan memintaku mengirimmu ke kantornya? Jelas sekali dia khusus meminta kau yang datang dengan menyebutkan namamu, Elizabeth Scott."

Lizzy tambah terkejut dan bingung. "Aku pun tidak tahu alasannya. Memang kemarin dia menawariku pekerjaan, tetapi aku sudah menolaknya," ceritanya.

"Pekerjaan apa yang dia tawarkan?"

"Sekretaris, tetapi aku langsung menolaknya."

"Kemarin?"

"Ya, kemarin, saat dia mengantarku pulang," jelas Lizzy lebih detil."

Ariana mendengkus. Dadanya naik turun. "Kau kencan dengannya?"

"Seperti yang kubilang tadi, aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Tidak mungkin aku berkencan dengan James Sullivan. Greg yang mengenalkanku padanya di bar."

"Bar? Kau?" Ariana memeriksa wajah Lizzy secara keseluruhan, seolah tidak percaya bahwa seorang Elizabeth Scott bisa pergi ke bar.

Lizzy tidak berani memutar bola matanya walaupun sangat ingin. Dia tahu dirinya bukan orang yang suka pergi ke bar atau club, tetapi cara pandang Ariana cukup membuatnya tersinggung. "Kalau ingin bukti, kau bisa menghubungi Greg atau Jeremy," ujarnya.

The Duke And ITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang