Akhirnya Lizzy membuka mata perlahan di dalam sebuah kamar tidur bernuansa putih. Kasur yang ditempatinya sangat empuk, tidak seperti tempat tidurnya sendiri di apartemen, membuatnya tak ingin beranjak dari sana. Apalagi, ditambah sakit kepala yang masih menyerangnya meski sudah banyak berkurang.
Wanita berambut hitam itu belum sepenuhnya sadar. Dia membalikkan tubuhnya ke kiri. Dilihatnya seorang pria tampan mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang.
Postur tubuh pria itu sungguh menawan hingga membuat jantung Lizzy melompat kegirangan karena pagi-pagi sudah melihat pemandangan bagus. Si Tampan itu tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan, jadi dia berjalan santai ke dalam walk in closet-nya.
Lizzy sendiri masih menganggap semuanya hanya sebuah mimpi indah, sehingga wanita cantik itu terdiam beberapa detik sebelum kembali terlentang di atas tempat tidur yang bukan tempat tidurnya. Dia menghela napas, lalu tersenyum sendiri.
"Good morning," sapa pria itu. Dia telah mengenakan kemeja putih dibalut setelan jas serta celana panjang hitam.
Lizzy segera duduk dan memandang berkeliling. Dia menemukan James Sullivan sedang menghampirinya. "Jadi ini bukan mimpi! Ya ampun! Apa yang kulakukan?" Dia meraba tubuhnya sendiri yang hanya mengenakan pakaian dalam. Otomatis dia menaikkan selimutnya sampai ke leher.
Kekehan James terdengar renyah. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.
"Jangan dekat-dekat!" Lizzy menaikkan kedua lengannya, siap untuk menolak James, tetapi malah melepaskan selimut yang tadi menutupi bagian dadanya. Teriaklah dia karena panik. Diraihnya lagi selimut tebal itu.
Tawa James meledak. Baru kali ini dia melihat seorang wanita polos seperti Elizabeth Scott. "Tenang saja. Aku tidak akan menggigit wanita cantik," ujarnya jahil.
Pipi Lizzy memerah dengan sendirinya. Pria kedua yang menyebutnya cantik selain Gerald. "Apa kita..." tanya Lizzy, enggan melanjutkan kalimatnya dan berharap James tahu arah pertanyaan.
"Menurutmu, bagaimana?" balas James seraya menaikkan sebelah alisnya. Dia melipat lengan di depan dada, memperlihatkan otot bisepnya yang kekar. Tawanya meledak lagi karena melihat Lizzy gelagapan.
Lizzy memajukan bibir, menandakan dirinya sedang cemberut. "Kalau kita melakukannya, aku pasti tahu!" tegasnya, lebih bertujuan untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Kenapa? Kau tidak mau melakukannya denganku? Ah, kau membuatku sakit hati," goda James.
"Bu-bukan begitu... Tapi... kita baru saja bertemu tadi malam. Aku hampir tidak mengenalmu." Lizzy terdiam sebentar. "Sebaiknya aku pergi. Terima kasih telah menolongku," katanya seraya menutupi seluruh badannya dengan selimut untuk beranjak dari tempat tidur. Dia tak ingin berlama-lama di rumah orang asing.
"Kau masih mengucapkan terima kasih?" James tergelak. "Sungguh besar sekali hatimu, Lizzy."
Lizzy mendengkus, heran sekali ada orang sesantai James di dunia ini. "Aku akan memakai bajuku lagi. Bisakah kau berbalik, James?"
James memutar tubuhnya dengan terpaksa. Dalam hatinya, dia ingin tertawa tetapi juga kagum terhadap wanita cantik itu. Banyak sekali wanita yang ingin tidur dengannya, namun Lizzy malah sebaliknya. Benar-benar wanita berprinsip, pikirnya.
"Aku akan pergi sekarang," pamit Lizzy yang telah mengenakan pakaiannya lagi dan menenteng tas kerja.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi begitu saja?" cegah James, membuat langkah Lizzy terhenti. "Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, James. Aku bisa pulang sendiri dengan bus atau kereta."
James menaikkan sebelah alisnya. "Apa kau tahu ini di mana?" Pria itu tahu Lizzy bukan orang New York dari hasil obrolan mereka kemarin. Dia tak ingin Lizzy kehilangan arah dan akhirnya dimanfaatkan oleh orang jahat. New York boleh jadi kota yang sangat megah dan ramai, tetapi kejahatan selalu ada di setiap tempat, tak peduli dari mana asalmu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Duke And I
Romansa18+ Pilih bacaan sesuai kategori umur yah Lizzy Scott diterima bekerja di perusahaan fashion yang diidamkannya selama masa kuliah. Sebagai asisten pribadi Ariana Langdon, desainer pakaian terkenal dunia, dia sangat senang bekerja di bawah Ariana lan...
