42: merelakan

13 5 0
                                        

"dia punya gue,"

itu hanbin. dia genggam tangan lea lalu natap donghwa penuh kemenangan. lea yang ada di sebelahnya cuma mendongak heran.

"lu apaansih kak?" bisik lea. hanbin nengok sekilas doang, lalu kembali natap donghwa.

donghwa sendiri neguk ludahnya. "hehe, bercanda kak, sumpah!" dia nyengir tolol aja tuh lalu ngajak keiju dan minje buat pergi dari sini.

minje ngegeleng dan ngasih kode ke mereka berdua supaya duluan aja. tanpa babibu lagi dan dengan donghwa yang takut tambah dihakimi lagi, jadinya langsung ngacir dah tuh berdua.

sisa berlima disini dengan suasana yang lumayan... canggung?

hanbin dan lea masih pegangan tangan, phanbin di belakang mereka natap sepasang insan itu dengan tatapan yang... menyimpan luka? dan minje juga eunchae saat ini cuma saling tatap.

phanbin berdehem. "bisa kali dilepas tangannya," sindir dia, tentu ditujukan ke hanbin dan lea.

lea langsung lepas genggaman tangannya dengan hanbin, disusul deheman canggung sama hanbin.

"lu... lu ngapain sih kak tadi?" lea masih menagih jawaban atas pertanyaan yang udah dia lontarin sebelumnya.

hanbin ngelus tengkuknya sambil meringis kecil. "gue... ngasal aja tadi. abisnya bocah SMP tadi genit banget sama lu. mau emang lu jadi tante girang?"

lea berdecih. "lagian gue juga gabakal ngerespon dia. alay banget ah lu kak. kalo naksir gue mah bilang aja, segala alasan," cicit lea di kalimat akhir yang baru saja dia ucap.

"apa?" hanbin mendekatkan wajahnya pada wajah lea, menyuruh lea secara tersirat untuk mengulang ucapannya.

bukannya mengulang seperti apa yang hanbin mau, lea malah memperhatikan keseluruhan wajah hanbin dengan pahatan yang sempurna ini. sialnya, luka yang menghiasi wajah cowok itu malah membuat dirinya tambah tampan.

beneran sial, karena sekarang jantung lea berdegup lebih cepat daripada tadi.

lea pun mengalihkan pandangan kemudian berdehem. "kepo lu, kak. makannya jangan budek." jidat hanbin pun kena toyor oleh jari telunjuknya lea.

hanbin terkekeh pelan lalu mengusai rambut lea. "bocah."

tau apa reaksi lea?

cuma sinisin hanbin. tapi hatinya makin gak karuan asal kalian tau. salah tingkah sendiri dia tuh tapi untungnya masih bisa kontrol diri.

deheman kembali terdengar, bukan, bukan dari lea, melainkan dari phanbin yang kini sudah menyeruput esteh di meja. "drama yang bagus, tapi pemeran cowoknya kurang cocok. gimana kalo ganti aja jadi gue?" celetuk phanbin dengan wajah tengil khasnya itu.

"masa lalu jangan banyak bacot sih kata gue," balas hanbin sembari mengulurkan tangan pada minje. minje pun berdiri, lalu ngajak eunchae untuk pergi dari situ.

eunchae tadinya nolak, tapi karena dapet kode dari kakaknya kalo emang eunchae dan minje diharuskan pergi, jadilah mereka berdua pergi ninggalin ketiga orang dengan hubungan rumit ini.

sebelum eunchae pergi, dia pamitan dulu sama lea si panutannya. asik.

"bawel ah kalian berdua. udah diem aja. liat noh muka sama-sama bonyok." lea mendudukkan dirinya di hadapan phanbin.

hanbin berniat untuk duduk di samping lea, tapi tangannya keburu ditarik sama phanbin. "bukan muhrim, barisan cowok disini." setelahnya, phanbin mendudukkan paksa hanbin di sampingnya.

"sialan lu emang," desis hanbin pelan ke phanbin yang sekarang lagi senyum ke lea. lea sih cuma bales ngangguk doang, ngangguk lelah.

lelah hayati menghadapi orang-orang ini.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 12 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Aversion | Sung HanbinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang