notes: hai, kaget ga? wkwkw akhirnya gue selesaiin juga ini draft chapter terakhir, semoga masih inget ceritanya. makasih udah nungguin. ENJOY!
23.
"Jadi kalian udah baikan?" tanya Nilam sembari memegangi pinggangnya, meski kehamilannya belum besar tapi pinggangnya mulai nyeri saat ia berjalan.
Kiara memasukan beberapa apel ke dalam plastik buah dan meletakkannya ke dalam trolley, "yaa kita berusaha jadi lebih pengertian aja satu sama lain..."
"Balikan?"
Kiara bergumam, "hmm... iya..."
"Yakin ga bakal berantem kaya kemarin lagi?" tanya Nilam lagi.
"Salah paham sih udah pasti bakal ada terus, makanya gue bilang kita berusaha jadi lebih pengertian dan ko-mu-ni-ka-si!"
"Kalian udah ngobrol kan tapi?" Nilam mengekor Kiara jalan sepanjang lorong supermarket.
"Udah... udah bicara heart to heart." jawab Kiara.
"Jangan berantem soal hal-hal kecil."
Kiara menoleh ke arah Nilam, si anak kecil yang sebentar lagi akan jadi ibu, ibu sungguhan, yang mana bayinya akan ia keluarkan sendiri dari tubuhnya, "udah mulai dewasa lo, cil... siap jadi ibu?"
Nilam mendecih, "elo juga udah jadi ibu... ibu tuh ga selalu harus ngelahirin tau Ki."
Kiara tersenyum, "iya..."
"Jadi ibu atau jadi orang tua tuh dibutuhin kedewasaan, ga berantem soal hal sepele."
"Lagi ngomongin diri sendiri ya?" tanya Kiara.
"Engga, lagi ngomongin lu sama Jenar!"
"Mana ada..." Kiara menyanggah.
"Elo sama Jenar adalah dua orang yang gengsinya sama-sama tinggi, tapi sebenernya dalam hati takut saling kehilangan, tau ga?"
Kiara terdiam sejenak, "Jenar janji buat lebih sabar kok... gue juga janji kalo apa-apa itu kita ngobrol... dan ga ngomelan lagi..."
"Uww... cute!" Nilam memegang pinggangnya, "buruan ah belanjanya, gue pegel!'
"Lah elu yang tadi rewel minta ikut?"
~
Benar beberapa hari yang lalu Kiara dan Jenar mengobrol panjang, mereka banyak bicara setelah Ajra tertidur pulas. Mereka sadar bahwa tak bisa dipungkiri Ajra adalah perhatian terbesar mereka saat ini dan harusnya mereka bisa menempatkan Ajra di atas keegoisan diri.
Kiara menyatakan kekhawatirannya, pikirannya, dan ketakutannya. Jenar menerima semua pikiran Kiara meski terasa overthinking, Jenar belajar bahwa ia akan belajar melihat hal dari kacamata Kiara, dan Kiara berjanji untuk lebih rileks dan membagi segala pikirannya dengan Jenar.
"Aku tau soal aku nunda sekolah, soal aku mau jalanin Scentific, itu semua bikin kamu kepikiran... dan aku tau aku ga bisa nawarin solusi apapun karena akupun ga tau masa depan akan gimana," ujar Jenar, "tapi aku yakin satu hal, aku mau kita tetap bertiga, gimanapun caranya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Accidentally Parents
RomanceTentang Kiara dan Jenar yang harus kehilangan kakak-kakak mereka dalam sebuah insiden yang menyisakan satu warisan, seorang bayi berusia sepuluh bulan.
