DUA PULUH LIMA

4K 309 32
                                        

Siera terpaku dengan apa yang ia lihat. Ia menggeleng tak percaya dan tak mempercayai semua adegan yang terjadi.

"Jangan, jangan lakukan itu!" jeritnya kesakitan ketika melihat 'Siera' di depannya mengakhiri hidupnya seperti ini.

Ini salah!

Ini pasti hanya mimpi!

Tolong, tolong bangunkan ia dari mimpi mengerikan ini. Ia tak ingin melihat derita yang dilalui wanita itu.

Tapi kenapa, kenapa ia merasakan sakit yang dirasakan 'Siera' di depannya. Bahkan dadanya kini terasa sangat sesak, seakan ialah sendiri yang mengalaminya, dan semua itu terlihat sangat nyata.

Bahkan ia tak sadar jika ia menangis saat melihat itu semua. Rasa sakit yang amat menyesakkan, seperti ribuan pisau meningkam di dadanya.

Siera menolak percaya bahwa gambaran itu adalah nyata. Ia terus mensugestikan diri bahwa itu hanya mimpi belaka.

Namun, bagaimana jika itu nyata?

Bagaimana jika ini gambaran saat Kalandra tak menerimanya.

Siera termenung, tatapan matanya berubah kosong. Ia masih tak mempercayai apa yang ia lihat. Ia ingin pulang, tak ingin mimpi itu mempengaruhinya. Ia terus meyakini diri bahwa itu semua hanya mimpi yang akan lewat begitu saja.

"Siera, bukankah kita ini menyedihkan?"

Suara lembut itu membangunkan Siera. Siera mendongak, lalu terkesiap melihat wanita di depannya sangat mirip dengannya. Bedanya, wanita itu begitu pucat dan kurus, sama persis gambaran itu.

"Aku mencintainya hampir gila, tapi dia tak pernah mencintaiku sedikitpun. Hatiku terluka, dia terus saja mengabaikanku. Harusnya aku menyerah, tetapi dengan bodohnya aku mengakhiri hidupku," ucapnya penuh kepedihan. Penyesalan terlihat jelas di raut wajahnya.

Siera mundur dua langkah, wanita yang mirip dengannya membuatnya ketakutan.
"Kenapa kamu mirip denganku? Siapa kamu sebenarnya? Dan di mana ini?"

Wanita itu tersenyum, mendekati Siera yang tampak takut padanya.
"Aku adalah dirimu di masa lalu Siera," balasnya pelan.

"Ma-masa lalu?" Siera tergagap mendengarnya.

"Ya, aku adalah dirimu di kehidupan pertamamu. Kamu dan aku adalah orang yang sama, Siera. Kita adalah satu. Apa yang terjadi, yang baru saja kamu lihat, itulah gambaran di kehidupan pertama kita. Kita mencintainya sepenuh hati, tapi hanya luka yang kita dapat. Dia tak pernah mencintai kita," katanya penuh kepedihan.

"Tak mungkin, pasti kamu berbohong! Suamiku tak mungkin seperti itu, pasti ini hanya mimpi yang kamu buat!" Tentu Siera tak mempercayainya, karena selama ini Kalandra begitu mencintainya.

Berbeda dengan pria yang mirip dengan suaminya. Pria itu jahat, melukai perasaan wanita yang mirip dengannya.  Meski tak dapat dipungkiri rasa sakit yang wanita itu dapatkan, ia bisa merasakannya.

Raut kesedihan itu berganti cemoohan. "Apa kamu yakin dia mencintaimu, Siera? Apa kamu pikir dia mencintaimu? Bagaimana jika itu hanya rasa penyesalannya?"

"Penyesalan?"

"Bagaimana kamu dan dia sama-sama mengulang waktu? Bagaimana jika sikapnya kini baik padamu hanya karena rasa bersalahnya. Apa kamu pikir dia benar-benar mencintaimu?"

Siera menutup kedua telinganya.
"Jangan katakan itu."

Siera di masa lalu tak menjawab, namun tersenyum penuh kepedihan. Ia mendekati Siera, tangannya terangkat menyentuh dahi Siera membiarkan ingatan di kehidupan pertama mereka dan kini menjadi satu.

𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang