Segala upaya telah Siera lakukan untuk mendapatkan hati Kalandra, entah itu karena saran dari Kirana atau atas dasar insiatifnya sendiri. Sayangnya, Kalandra semakin jauh darinya meski status mereka bertunangan, hubungan mereka masih di tempat, belum ke tahap dalam keseriusan.
Siera lelah, ingin menyerah saja, tetapi ia sadar ia telah jatuh terlalu dalam pada Kalandra.
Hingga tak lama kemudian Siera menemukan Kalandra berjalan bersampingan dengan seseorang. Seseorang yang amat sangat dikenalnya.
Dan di situlah Siera mengerti segalanya. Teman yang ia anggap baik dan ia percayai sepenuh hati dengan tega menusuknya dari belakang.
Sakit? Tentu saja.
Pengkhianatan ini benar-benar tak bisa Siera terima.
"Jadi apa maksud semua ini?" tanya Siera dengan hati terluka. Tangannya gemetar melihat keduanya, matanya pun kini memerah, sekuat tenaga menahan tangis, menolak pikiran yang mengatakan bahwa mereka bersama.
Satunya adalah temannya, satunya adalah tunangannya.
Ia harap ini hanya lelucon.
Kenapa mereka bersama!
"Siera, kau jangan salah paham!" Kirana tampak panik, meski di dalam hatinya merasa puas. "Kita hanya kebetulan bertemu."
Siera tertawa sinis, ia tak cukup bodoh dengan kedekatan mereka, tetapi kapan mereka saling mengenal? Kenapa ia tak tahu apa-apa?
"Kalandra jawab pertanyaanku, ada hubungan apa kalian berdua?!"
Sebagai tunangan, wajar saja kalau Siera meminta penjelasan dari sang pria. Pria yang telah bertunangan dan berjalan bersama wanita lain dengan dekat, bukankah itu sangat keterluan?
"Apa salahnya jika kami saling mencintai." Setelah mengatakan itu, Kirana terlihat terkejut dengan apa yang barusan ia ucapkan, ia seperti tengah keceplosan tentang hubungan mereka. Padahal pada kenyataannya Kirana sengaja mengatakan hal itu di depan Siera, hanya untuk menambah luka pada wanita itu.
Siera terkejut dengan pengakuan itu, dadanya terasa panas, ia menarik Kirana dan menamparnya keras. Tindakan itu terlihat kasar di mata Kalandra.
"SIERA!" Kalandra menarik Kirana di belakangnya, melindungi dari amarah Siera yang masih membara. Tindakan Kalandra membuat luka Siera semakin menganga. Demi melindungi wanita lain, Kalandra dengan tega membentak tunangannya.
"Kamu melindungi wanita itu? Sadar Kalandra, aku lah tunanganmu, bukan dia!" Siera menggigit bibirnya, bahkan tubuhnya pun kini bergetar. Segala amarah, kekecewaan yang menjadi satu akibat sikap sang tunangan.
"Dia tak tahu kalau kita bertunangan!"
"Tak tahu?" Siera tertawa berbahak-bahak, meski hatinya terluka bahkan berdarah-darah, ia tak akan membiarkan orang tahu lukanya. Siera melirik ke arah Kirana yang tampak ketakutan, bersembunyi di punggung Kalandra, seperti kelinci yang takut diterkam, tetapi di balik itu semua Siera tahu Kirana menyimpan senyum penuh kepuasan atas sikap Kalandra barusan.
Ternyata selama ini ia benar-benar buta pada wanita yang telah ia anggap teman.
"Kamu tahu aku menyukai wanita lain, lebih baik kita hentikan pertunangan kita," usul Kalandra, berharap Siera mengerti bahwa mereka tak akan bisa bersama.
"Jangan bermimpi, sampai kapan pun kamu hanya milikku!"
Siera tak akan memutuskan pertunangan mereka. Bagaimanpun, Kalandra akan tetap jadi miliknya.
Cinta Siera kini berubah menjadi obsesi yang akan menyakiti dirinya sendiri. Luka yang tak akan ada obatnya sebelum ia membunuh dirinya sendiri.
**
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚
RomanceKalandra membenci Siera karena memaksanya menikahi wanita itu. Padahal wanita itu tahu Kalandra telah memiliki kekasih yang amat dicintai. Kebencian itu terus bertambah seiring berjalannya waktu dan itulah dirasakan oleh Kalandra, tapi tidak dengan...
