Kalandra tak menyangka jika Siera akan berkata seperti itu. Bagaimana bisa istrinya mengatakan kata cerai dengan mudahnya? Setelah setengah hari
menghindarinya, tiba-tiba ingin berpisah? Kalandra berharap Siera hanya mengerjainya.
"Sayang, jangan bercanda. Semua ini tak lucu sama sekali." Kalandra tertawa kecil. Ia masih beranggapan ucapan Siera hanya lelucon semata.
"Aku sama sekali tak bercanda, Kalan. Aku sudah berpikir matang-matang, hubungan kita lebih baik diakhiri." Siera menunduk, tak berani menatap Kalandra. Ia takut saat menatap pria itu, hatinya akan goyah.
"Apa yang membuatmu meminta kita berpisah? Selama ini kita baik-baik saja. Aku mencintaimu, begitu juga denganmu. Kita bahkan sebentar lagi menjadi orang tua . Jangan berkata aneh-aneh seperti ini Siera, aku benar-benar tak suka kata-kata perpisahan dari bibirmu."
"Aku serius, Kalan, aku merasa semuanya harus diakhiri. Aku ingin kita mengakhirinya dengan baik-baik tanpa harus saling melukai."
Kalandra menatap Siera dalam, mencari jejak candaan di wajah Siera. Namun yang ia dapat adalah Siera seakan menghindari tatapannya.
"Kenapa? Apakah ada kurangnya aku selama ini menjadi suamimu? Apa aku ada salah padamu?"
Siera menggeleng, ia termenung mengingat tak ada kurangnya sikap Kalandra padanya tetapi ia tak yakin akan perasaan sesungguhnya Kalandra padanya.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Siera sendu, menatap Kalandra dengan mata berkaca-kaca.
"Tentu saja. Apa kamu meragukanku?" Kalandra menatap Siera serius.
Siera mengangguk dan Kalandra terperengah tak percaya. Kalandra berdiri dari duduknya, menyugar rambutnya ke belakang. Helaan napas berat darinya membuktikan ia tengah bergerumul dengan emosinya.
"Jadi, selama ini kamu meragukanku?" tanya Kalandra lirih bercampur rasa kecewa.
Siera memalingkan wajahnya, enggan melihat Kalandra. Kini jantungnya berdetak hebat, melihat ada emosi di sorot mata Kalandra. Tapi ia tak akan gentar, ia sudah memikirkan semua. Perpisahan mereka adalah satu-satunya yang saat ini Siera pikirkan.
"Ya, aku meragukanmu, Kalan. Selama ini kamu dingin padaku, kamu menganggap aku sebagai wanita yang menyebalkan, mengganggumu karena perjodohan kita. Kamu terus bersama Kirana padahal kita sudah terikat. Kamu mengabaikanku dan tak pernah menganggap aku ada." Mata Siera memerah, ia merasa sesak dengan masa lalu mereka.
"Di hatimu hanya ada wanita itu, tanpa memikirkan aku sebagai tunanganmu. Kamu sakiti aku dengan sikapmu, aku terluka namun aku tetap keras kepala mengejar cintamu." Air mata Siera menetes, namun ia berusaha tak terisak.
"Lalu, tiba-tiba kamu berubah, Kalandra yang dingin berubah menjadi Kalandra yang hangat. Perhatianmu yang dulu tak pernah ada untukku, kamu berikan padaku. Di matamu yang selalu ada dia, berubah memandangku. Sikapmu yang berubah seperti itu, yang selalu bersikap kasar menjadi lembut, sikap yang mungkin tak akan pernah kamu berikan padaku."
Kalandra terpaku melihat Siera menangis sambil mengeluarkan apa yang tengah wanita itu rasakan. Dada Kalandra berdenyut nyeri, ia ingin menghapus air mata Siera, namun istrinya malah menghindar.
"Bodohnya aku yang terlena oleh sikap hangatmu dan tak menyadari ada yang mengganjal dari sikapmu itu. Kenapa aku tak memikirkan kenapa sikapmu tiba-tiba berubah, bagaimana bisa orang yang selalu menatap benci dan jijik padaku malah berperilaku hangat dan menerima. Kenapa aku tak menyadarinya selama ini?! dan malah terlarut dalam kebahagiaan. Kenapa?!" jeritnya dan hampir tersedak karena tangisannya.
"Siera jangan begini." Kalandra merengkuh Siera dalam dekapan, ia memeluk erat meski Siera memberontak. Kalandra menahan ringisan saat istrinya mencakar dan memukulnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚
RomanceKalandra membenci Siera karena memaksanya menikahi wanita itu. Padahal wanita itu tahu Kalandra telah memiliki kekasih yang amat dicintai. Kebencian itu terus bertambah seiring berjalannya waktu dan itulah dirasakan oleh Kalandra, tapi tidak dengan...
