Lima hari pemulihan, akhirnya Siera keluar dari rumah sakit. Selama itu juga Kalandra merasa sikap Siera mulai berubah. Tak ada lagi sikap manja dari wanita itu, terkadang ia melihat istrinya tengah merenung dengan tatapan mata yang kosong.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Kalandra penuh kekhawatiran.
Siera yang duduk di kursi roda tersentak dan menoleh ke arah Kalandra yang tengah menatapnya lekat.
"Aku baik-baik saja," jawabnya pelan, langsung memalingkan wajahnya.
Kalandra menghela napas pelan. Ia mendorong kursi roda itu masuk ke rumah mereka. Kamar mereka pindah di lantai bawah, karena selain baru saja dari rumah sakit, itu juga karena Siera sudah hamil tua.
Pria itu menggendong Siera dan meletakkannya di atas ranjang dengan hati-hati, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap Siera yang terdiam.
Ia menghela napas berat melihat keterdiaman istrinya. Sejak bangun dari koma hingga sampai sekarang, Siera sering mengabaikannya dan hanya terdiam sambil melamun. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita ini.
"Apa aku ada salah sama kamu? Kenapa sikapmu acuh tak acuh padaku?" Kalandra menggenggam tangan Siera erat, saat wanita itu ingin menariknya, Kalandra segera menahannya.
Perubahan inilah yang membuat Kalandra mengerti ada sesuatu yang disimpan istrinya. Kalandra ingin mengetahuinya, tetapi sang istri hanya diam saja tanpa ingin mengungkapkannya.
"Kalau aku ada salah, coba kamu beritahu aku, supaya aku bisa mengubahnya. Jangan diam seperti ini," mohonnya penuh harap.
Siera menghela napas pelan saat mendengar kata-kata Kalandra. "Aku tak kenapa-kenapa, aku lelah dan hanya ingin sendiri saja. Bisakah kamu membiarkanku sendirian?" pintanya setengah memohon.
Perlahan Kalandra melepas genggamannya, ia menatap Siera penuh kekecewaan namun segera ia enyahkan. Kalandra tahu ia tak bisa memaksa Siera untuk mengungkapkan apa yang mengganjal di hati istrinya.
Kalandra keluar dari kamar, dan Ia membiarkan Siera sendirian di sana. Kalandra akan menunggu dengan sabar sampai Siera kembali seperti dulu.
Di bar pribadinya, Kalandra duduk termenung memikirkan apakah ia membuat kesalahan sehingga Siera sedikit berubah. Kalandra bisa melihat di sorot mata Siera yang tak menggebu-gebu seperti dulu, tapi ia sendiri tak tahu apa penyebab Siera berperilaku demikian.
"Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir." Kalandra terkekeh kecil, berpikir ia terlalu sentimental.
Di sisi Siera, ketika Kalandra keluar dari kamar, ia merasa menyesal dengan sikapnya kepada sang suami. Namun saat ini ia benar-benar butuh sendiri.
Sejak menyadari ini adalah kehidupan keduanya lalu mengingat kisah tragisnya di kehidupan pertamanya, membuat Siera sadar atas keegoisannya sendiri.
Alih-alih menyalahkan Kalandra, Siera malah menyalahkan dirinya sendiri, kini ia sadar bahwa terlalu memaksa kehendak tanpa memikirkan perasaan orang lain adalah hal yang buruk. Hal itulah yang membuatnya tak sanggup melihat Kalandra berada di sampingnya.
Ia butuh menenangkan diri, ia masih tak sanggup menerima kenyataan di balik sikap baik dan perhatian Kalandra padanya bukanlah cinta ,melainkan hanya rasa penyesalan dari pria itu.
Karena ia tahu, bahwa perasaannya pada Kalandra terlalu dalam.
****
Kalandra membuka pintu kamar dengan pelan. Setelah masuk, ia mendapati Siera tidur miring seraya membelakanginya. Kalandra tersenyum, ia melangkah dengan pelan, agar tidur istrinya tak terganggu.
Ia duduk di tepi ranjang, mengamati Siera yang tidur dengan lelap. Tangan Kalandra terulur mengelus pipi tirus Siera penuh hati-hati, membuat sang empu sedikit terganggu. Kalandra terkekeh kecil, ia menundukkan kepalanya dan memberi sebuah ciuman di pipi itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐊𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐊𝐞𝐝𝐮𝐚
RomanceKalandra membenci Siera karena memaksanya menikahi wanita itu. Padahal wanita itu tahu Kalandra telah memiliki kekasih yang amat dicintai. Kebencian itu terus bertambah seiring berjalannya waktu dan itulah dirasakan oleh Kalandra, tapi tidak dengan...
